Lelaki Terindah | Resensi Buku

“Ketika Cinta tidak memilih jenis kelamin,

Ia pun menjadi terlarang…”

Setelah membahas ‘Angin Bersyair’ pada postingan sebelumnya, ada beberapa teman yang penasaran dan bertanya tentang buku-buku Andrei Aksana lainnya. Tentu saja sebenarnya buku-buku Andrei Aksana sangat banyak, mengingat beliau adalah penulis yang cukup produktif sejak periode 90 an akhir sampai medio 2000 an.  Sebagai penggemar karya sastra, saya tentu mengikuti beberapa karya penulis besar seperti Andrei Aksana. Dan karena ada beberapa teman yang meminta saya merekomendasikan karya Andrei Aksana lainnya selain ‘Angin Bersyair’; maka untuk kali ini saya memilih  membahas karya Andrei Aksana lainnya yang berjudul ‘Lelaki Terindah’.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Resensi buku | Tag , | Meninggalkan komentar

Angin Bersyair | Resensi Buku

Resensi by : Funky Tri Doretta

Bercerita tentang perjalanan Sukma ke Bali dengan hanya berbekal secarik kertas yang diberikan oleh Kiev, kekasihnya. Secari kertas tersebut membawanya terdampar di Ubud, yang kemudian mempertemukannya dengan Bu Padmi, Nawang dan Raka. Seorang pelukis sekaligus dosen seni rupa. Pertemuan yang kemudian hari membawa banyak kisah baru di dalam hidupnya. Di Ubud, ternyata kekasihnya memberinya sebidang tanah yang luas sebagai hadiah ulang tahunnya. Dan di tanah yang masih berbentuk sawah tersebut, Sukma yang memang seorang arsitek diminta Kiev untuk menggambarkan rumah impian yang kelak akan dibangunkan oleh Kiev untuknya.

Jenuh menjadi simpanan Kiev yang sudah beristri, lelah dengan hubungan yang tanpa harapan, Sukma bangkit dari jeratan yang selama ini mengekang batinnya nya. Ia memutuskan hubungannya dengan Kiev dan mengembalikan semua pemberian Kiev termasuk tanah di Ubud yang menjadi hadiah ulang tahunnya.

Angin Bersyair

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Resensi buku | Tag | Meninggalkan komentar

Tentang Kamu | Resensi Buku

Resensi by : Funky Tri Doretta

Bercerita tentang perjalanan Zaman Zulkarnaen, seorang pengacara muda asal Indonesia yang bekerja pada sebuah Firma Hukum terkenal di kota London, Inggris, dalam menuntaskan sebuah kasus warisan yang pelik dan penuh misteri. Sri Ningsih sang klien, meninggalkan warisan dengan jumlah yang fantastis tanpa meninggalkan surat wasiat.

Demi menemukan surat wasiat inilah Zaman Zulkarnaen harus berpetualang demi menemukan ahli waris yang sah untuk warisan Sri Ningsih yang bernilai fantastis itu. Berbagai daerah kemudian di datangi oleh Zaman Zulkarnaen untuk menelusuri riwayat hidup Sri Ningsih. Mulai dari Pulau Bungin tempat Sri Ningsih lahir dan melewatkan masa kecil, Surakarta tempat Sri Ningsih melewatkan masa remaja, Jakarta yang dihabiskannya untuk meniti karir, London tempatnya memulai hidup baru, hingga Paris yang menjadi tempatnya menghabiskan masa tua.

Tentang Kamu

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Resensi buku | Tag , | Meninggalkan komentar

Repost

Pembicaraan Keluarga – http://wp.me/pN6Y4-29H

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Dua Cangkir Kopi Pahit

“Aku tidak peduli atas keadaan susah dan senangku, karena aku tidak tahu manakah diantara keduanya itu yang baik bagiku…” – Umar Bin Khattab.

Entah siapa yang lebih sial atau lebih beruntung diantara kami. Saya tidak tahu.

Tetiba saja senja tadi kami kompak saling merindu. Mungkin karena ikatan batin 2 sahabat yang sudah lama tidak saling berlempar khabar. Demi menuntaskan rindu itu kami lantas berjanji bertemu di sebuah kedai kopi tua di sudut kota. Disana, kami memang kerap bertukar cerita.

Langit malam baru saja digelar. Duduk bersebrangan diantara meja jati bundar, kami sama-sama menikmati secangkir kopi tubruk bali kintamani yang ringan. Melengkapi teman ngobrol, ada sepiring kentang dan singkong goreng lengkap dengan saos tomat dan sambalnya.

Masih dengan gaya anggunnya yang tak pernah pudar, teman saya malam itu masih mengenakan blus kantornya yang berwarna abu-abu. Wajahnya masih cukup segar dengan Make up nya sudah tipis dan rambut yang digulungnya dengan sebatang pensil. Untuk ukuran ibu bocah berusia 6 tahun, teman saya ini terbilang masih cantik.

kopi-gayo_dsg_20160625_132100

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Cerita Inspirasi | Meninggalkan komentar

Angin Bersyair

Jodoh, konon katanya tidak akan kemana mana. Jodoh, katanya pasti akan dipertemukan juga. Entah kapan, dan dengan cara yang bagaimana. Suatu hari di tempat yang paling indah di dunia (baca : toko buku .red) aku pernah mengabaikannya. Hingga kemudian abai itu menjadi sesal yang berpanjangan dan menghantuiku bertahun-tahun lamanya.

IMG_20170318_140801

Lama aku mencarinya kemana-mana. Mulai dari toko buku yang termahsyur sampai toko buku loak. Sudah tidak ada yang menyediakan. Ada sih beberapa yang menjual di toko online. Tapi harganya dahsyad karena ditambah oleh ongkos kirim.

Putus asa, aku sempat melupakan buku ini. Hingga kemarin sore iseng mendatangi bazaar buku dan berkeliling mencari buku yang sesuai dengan selera.

Jodoh. Di salah satu meja aku melihat buku ini tergeletak diantara buku-buku lainnya. Aku menatapinya sejenak, mengelusnya lalu memeluknya. Sudah pasti kamu akan kuadopsi. Dibelakannya tertera label harga separuh dari harga toko buku online. Sedikit sedih, buku penulis sekaliber Andrei Aksana di label harga tidak sampai Rp.30.000.

Selamat berteman wahai “Angin Bersyair”, semoga kita bisa saling mengisi sepi.

Dipublikasi di Catatan Pendek | Meninggalkan komentar

Perihal Kegalauan

“Ada yang salah dengan Funky belakangan ini”

Begitu mungkin pemikiran banyak orang-orang disekitar saya tentang diri saya belakangan ini. Di media sosial saya kerap menulis  status-status yang terkesan galau. Di Blog, saya posting tulisan-tulisan yang menyedihkan. Di realita, saya kembali menyukai kesunyian hingga kerap melamun seorang diri. Mungkin karena sudah sekian lamanya saya tidak pernah posting tulisan-tulisan seperti itu di media sosial ataupun Blog, malah membuat orang-orang berfikir bahwa ada yang salah dengan diri saya belakangan ini. Inbox FB, email dan WA saya dipenuhi dengan pertanyaan, “Kamu kenapa, Mas?”.  “Ada masalah, Mas?”. Atau ada juga yang mencibir, “Galau, nih ye !”, “Udah tua, ngga pantes galau”.

menatap jalan panjang

Pantas memang, karena sudah lama memang saya bertekad untuk tidak mengumbar kesedihan dan kegalauan lagi. Sudah lama saya memulai sebuah cita untuk hanya membagikan hal-hal yang membahagiakan, hal-hal yang membangkitkan semangat, yang member inspirasi. Bukan sesuatu yang membuat orang bersedih.

Hingga kemudian, tawaran itu datang. Sebuah tawaran untuk menuntaskan buku Amanda. Gayung pun bersambut, sudah lama sebenarnya saya ingin melepaskan diri dari tokoh Amanda ini. Lalu saya berfikir, mungkin inilah saat yang tepat untuk menuntaskan buku ini, melepaskan diri dari tokoh Amanda. Setelah 6 tahun sejak buku “Dear Amanda” ,  3 tahun sejak buku “Mencari Amanda”.

Saya tahu, menulis kembali buku Amanda berarti harus menggali kembali kesedihan yang paling dalam. Kegalauan yang paling galau. Sialnya kesedihan dan kegalauan itu sudah tidak bisa saya bangun dengan singkat, chemistry itu harus saya bangun dengan susah payah sejak jauh-jauh hari. Karena sejatinya, saya bukan lagi orang yang mudah galau. Ekspresi pun saya  coba bangun sejak dini, ekpresi ini lah yang kemudian terimbas pada status-status Facebook dan tulisan-tulisan di blog saya belakangan ini.

So, saya tekankan lagi, bahwa ini hanyalah proses penjiwaan karakter tokoh dalam buku Amanda. Percayalah bahwa saya baik dan akan selalu baik-baik saja. Saya sadar bahwa teman-teman saya dan pembaca blog menjadi korban dari ekspresi penjiwaaan ini. Maka dari itu, saya telah membuat satu blog lagi yang hanya akan menampung kegalauan dan kesedihan penjiwaaan karakter ini. Sebuah blog yang untuk sementara hanya saya yang mengetahuinya.

Saya mohon maaf jika postingan-postingan kegalauan kemarin sempat membuat kalian semua bertanya tanya. Semoga proses ini dapat selesai dengan lekas. Aamiin

-Tabik

Funky Tri Doretta

 

Dipublikasi di Catatan Pendek | Meninggalkan komentar