Ayat-Ayat Cinta 2 | ulasan Buku

Secara konsep, peradaban Islam tidak ada tandingannya. Masalahnya bahwa umat sudah sedemikian dijauhkan dari ruh Al-Quran dan As-Sunnah. Umat Islam sibuk menjadikan Al-Quran sebagai aksesoris saja. Aksesoris untuk hiasan rumah, ditulis dalam kaligrafi dengan tinta emas, tapi yang punya rumah tidak tahu maknanya, apalagi mengamalkannya. Al-Quran dijadikan bagian seremonial pembukaan sebuah sekolah, tapi sekolah itu nantinya mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan Al-Quran. Atau peresmian gedung pertemuan, tapi gedung itu juga dijadikan tempat menggelar musik-musik maksiat. (hal. 94 – 95).

Ayat-Ayat Conta 2

Kalau ada Novel dakwah terbaik selama lima tahun belakangan ini, Saya percaya bahwa novel Ayat-Ayat Cinta 2 ini adalah salah satunya.

Menyambung Ayat-Ayat Cinta 1, Fahri & Aisyah melanjutkan hidup di kota Munchen, Jerman. Namun setelah Aisyah dinyatakan hilang di Palestina, Fahri memilih melanjutkan hidup di kota Edinburgh. Di ibukota Skotlandia ini Fahri ditemani oleh Supir sekaligus Asisten rumah tangganya, seorang pria paruh baya asal Turki bernama Paman Hulusi. Bekerja sebagai dosen University of Edinburg, memiliki bisnis mini market, restoran halal Agina, juga butik AFO membuat Fahri hidup bergelimang harta dan kesuksesan.

Dalam perjalanan hidupnya di negara dimana muslim adalah minoritas, beberapa kali Fahri harus berhadapan dengan intimidasi orang-orang Yahudi. Mulai dari kaca mobilnya yang di corat-coret kalimat kebencian, hingga di tantang debat terbuka soal Agama oleh pemuka Agama Yahudi. Namun dengan ahlaknya yang terpuji, Fahri mampu menghadapi semua konflik itu dengan tenang.

Misi dakwah penulis, memang membawa Fahri ini digambarkan sebagai sosok pemuda yang sukses, tampan, pintar, soleh, suka menolong siapapun, dermawan (damn, Fahri! Kamu malaikat atau manusia?) satu satunya sifat manusiawi yang dimiliki oleh Fahri adalah bahwa ternyata ia bisa bersedih dan kesepian (Karena kehilangan Aisyah).

Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Resensi buku | Meninggalkan komentar

Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah | Ulasan Buku

Resensi by : Funky Tri Doretta

“Kau bisa memberi tanpa sedikitpun rasa cinta, Tetapi kau tidak akan bisa mencintai tanpa selalu memberi” -hal 168

Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah

Koleksi lama, yang baru sempat dibaca sebenarnya. Setelah “Sunset Bersama Rosie”, boleh jadi novel “Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah” ini adalah karya Bang Darwis selanjutnya yang paling aku suka.

Menceritakan tentang Borno. Pemuda tepian sungai Kapuas yang lugu, jujur, pemalu, namun pekerja keras. Diawali dengan prolog flash back kematian Ayah Borno saat ia baru berusia 6 tahun, Borno bertemu dengan seorang anak perempuan tionghoa seumurannya yang menatapinya di lorong rumah sakit. Melompat kembali masa present, cerita di lanjutkan dengan jerih payah Borno mencari pekerjaan selepas ia menamatkan sekolah lanjutan tingkat atas. Sempat bekerja di pabrik karet, menjadi petugas tiket kapal fery di dermaga, menjadi petugas SPBU terapung di sungai Kapuas, sampai memperbaiki jendela dan mencari kucing hilang, takdir kemudian membawanya menekuni pekerjaan yang di larang oleh Alm. Ayahnya sendiri : Menjadi Sopir Sepit.

Takdir inilah yang kemudian mengantarnya bertemu dengan Mei, seorang gadis cina berwajah sendu yang meninggalkan sepucuk angpao merah diatas sepit Borno. Berbagai romantika khas cinta remaja pun kemudian tersaji renyah diantara mereka. bagaimana Borno matian-matian mencari mei untuk mengembalikan Angpao merah itu, bagaimana Borno mengatur siasat agar sepitnya selalu bisa antri di no.13 agar Mei selalu bisa naik sepitnya. Bagaimana deg-deg-an nya Borno memulai pembicaraan dengan Mei, sampai kemudian Mei pergi hingga ia merasakan kerinduan yang tidak jelas kepada Mei.

Awalnya, saya menduga bahwa Mei adalah sosok gadis perempuan kecil yang menatapi Borno di lorong rumah sakit ketika ayahnya meninggal dulu. Namun kemudian di tengah cerita muncullah sosok Sarah. Seorang dokter gigi berdarah cina yang kemudian di ketahui adalah anak kecil yang menatapi Borno di lorong rumah sakit ketika itu. Bebeda dengan Mei, Sarah adalah sosok periang dan ceria. Teka teki tentang siapa Mei sebenarnya semakin membuat saya tidak bisa berhenti membalik halaman demi halaman di dalam novel ini. Terlebih ketika Mei kemudian memutuskan untuk menjauhi dan meninggalkan Borno sejauh mungkin.

Siapa sebenarnya Mei ? Angpau merah yang pernah Mei tinggalkan di sepit Borno ternyata menjawab semuanya.

***

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Resensi buku | Tag | Meninggalkan komentar

100 Keinginan

IMG-20171007-WA0013
1. Aku ingin membacakan satu dua surat cinta yang pernah kutulis untukmu menjelang tidurmu dan membiarkan kau terlelap dalam kecupanku.
2. Aku ingin membangunkan lelapmu dengan kecupan di kedua kelopak mata dan keningmu.
3. Aku ingin memiliki taman bunga kecil di halaman belakang rumah kita yang aku rawat sendiri. Setiap pagi saat sarapan, kau akan mendapati sekuntum bunga kesukaanmu di sisi piringmu.
4. Karena pre wedding telah lumrah, aku ingin kita melakuan post wedding.
5. Karena tidak ada foto2 masa pacaran untuk dipajang, aku ingin memajang puisi2 cinta yang pernah kutulis untukmu di acara pernikahan kita.
6. Karena doa anak yatim cepat dijabah, aku ingin mengundang banyak anak yatim dalam akad pernikahan kita agar mereka turut mengaminkan doa doa kita.
7. Aku juga ingin mengundang banyak anak jalanan dan kaum duafa untuk makan di rumah kita saat acara resepsi pernikahan kita.
8. Aku ingin punya perkebunan kopi yang aku tanam sendiri. Kelak, aku juga yang akan memetik bijinya, menjemur, memanggang, menggiling dan menyeduhkan kopi terbaik untukmu di setiap pagi.
9. Aku ingin mengecup kedua kelopak mata dan keningmu di setiap pagi saat kita berpisah intuk beraktifitas agar seharian hanya akulah yang ada di pikiran dan bayang matamu.
10. Aku ingin sebulan sekali mengajak anak2 kita ke tempat pembuangan akhir sampah dan mengajari mereka membaur dengan anak-anak disana. Aku ingin anak-anak kita terbiasa berbagi dengan siapa saja.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Catatan Pendek | Meninggalkan komentar

Smile, Sayang :-)

Smile 🙂

Hanya emoticon itu terkadang yang bisa aku kirimkan kepadamu melalui pesan singkat. Aku tahu terkadang kau pasti bingung dengan maksudku mengirimkan simbol kuning dengan bibir melengkung itu. Hanya saja terkadang, sayang. Aku tidak tahu lagi bagaimana cara menyapamu.

Aku kehabisan akal untuk mencari jalan bagaimana menyampaikan perasaan rinduku. Sementara memilih diam adalah jalan keluar yang teramat menyiksa.

 

Smile 🙂

Hanya emoticon itu yang akhirnya bisa ku kirimkan kepaadamu.

Ketika aksara tak cukup lagi untuk menterjemahkan kerinduanku.

Ketika kata tak lagi mampu mengungkapkan segalanya.

 

Smile 🙂

Aku ingin kau tahu, sayang. Bahwa seperih apapun kerinduan itu kurasakan, aku akan tetap memeluknya dengan senyuman.

 

Dan Smile, sayang  🙂

Aku tahu kau sibuk,

Aku mengerti..

Ketika kau sempat membukanya,

Aku ingin kau membacanya sembari tersenyum.

 

Just Smile, sayang..

smile

Dipublikasi di Catatan Pendek | Meninggalkan komentar

Dear – i..,

Dear – i,

Aku mau marah i.

Di hari ulang tahunmu ini,

Pemberantas koruptor diangkat hanya untuk diancam mati.

 

i..,

Aku jengkel sekali.

Diusiamu yang makin tua ini,

Para buruh bekerja hanya untuk dijajah

Diburu biaya listrik dan anak sekolah.

 

i..,

Aku sedih.

Di tanahmu yang makin gersang ini,

Orang miskin masuk rumah sakit hanya untuk menunggu mati.

Tidak terjamin lagi kartu garansi

 

i..,

Aku kesal sekali

Semakin menua dirimu,

Semakin banyak anak-anak sekolah dengan seragam lusuh

dan tanpa sepatu

 

Tetapi karena aku mencintaimu, i..

Biarlah aku marah, jengkel, sedih, dan kesal pada diriku sendiri, i.

 

Selamat ulang tahun i…

merah putih

Dipublikasi di Catatan Pendek | Meninggalkan komentar

Terpana | Sebuah Resensi

Oke, setelah kemarin posting sedikit khayalan yang terinspirasi dari film Terpana. Kali ini saya coba ulas film ini bener-bener. Sebenarnya ketika pertama kali tahu bahwa film ini digarap dan di tulis langsung oleh Richard OH, saya sudah tahu bahwa film ini akan bernilai seni tinggi. Sebagai seorang pembaca, saya tentu mengikuti beberapa karya sastrawan satu ini. Dari sanalah saya bisa menilai jiwa seni yang tinggi pada sosok Richard OH.

Dan benar, film Terpana membuat saya berdecak kagum beberapa kali. Saya bisa menilai bahwa film itu Richard OH banget deh. Its unussual film. Dimana penonton akan dibawa pada adegan-adegan yang menakjubkan yang jauh dari adegan sinetronik.

Ceritanya Rafian (Fachri) tidak sengaja bertemu dengan Ada (Raline) di salah satu sudut kota Medan. Rafian yang saat itu sedang menyebrang jalan terpesona melihat Ada yang sedang duduk di salah satu bangku kedai Kopi di pinggir jalan. Saking terpesonanya, Rafian sampai bengong di tengah jalan di tengah jalan dan tidak menyadari bahwa ada sebuah truk yang nyaris saja menabrak dirinya.

Rafian percaya bahwa Ada telah menyelamatkan nyawanya. Jika saja Ada tidak duduk disana dan ia tidak terpesona hingga bengong di tengah jalan, andai saja ia tidak terhenti di tengah jalan dan meneruskan langkah menyebarang, mungkin ia sudah mati tertabrak truk tadi. Namun Ada tidak yakin dengan pandangan Rafian. “You’re just lucky”. Kamu hanya beruntung, begitu katanya. Pada adegan-adegan selanjutnya, kedua lantas terlibat dalam teori masing-masing dalam menjelaskan keyakinana mereka. Mulai dari teori probabilitas, fisika, filsafat, hingga sejarah.

terpana-poster

Yang membuat saya begitu terkesan dengan film ini adalah hubungan antara Rafian dan Ada yang menurut saya unik banget. Bayangin, kamu bertemu dengan orang yang tidak pernah kamu kenal sebelum nya di dunia manapun juga. Lalu tiba-tiba kamu terpana padanya tepat pada pandangan pertama.  Tidak hanya sampai disitu, tapi kemudian kamu sama dia nyambung ngobrolin apa saja bahkan hal-hal yang absurb sekalipun. Kamu bisa beradu argument, berbagi ide dan pemikiran, berdiskusi bahkan hanya lewat tawat tatapan mata atau gesture tubuh. Adengan-adegan seperti itu akan banyak kamu temui di dalam film ini. Sebuah dialog yang mengalir bukan dari mulut ke mulut, melainkan dari hati ke hati, dari pikiran ke pikiran.

Pada sebuah adegan lain, Rafian dan Ada memutuskan untuk berpisah pada sebuah perimpangan untuk menguji sejauh mana kebetulan akan mempertemukan mereka kembali? Dengan santai Rafian melenggang, ia percaya dan yakin bahwa takdir akan mempertemukan mereka kembali dengan caranya sendiri. Dengan cara yang kebetulan. Tetapi di tengah jalan pilihannya, Ada tiba-tiba meragu. Ia tiba-tiba takut tidak ditemukan lagi dengan Rafian. Maka ia sengaja berbalik arah, agar kemudian ditemukan lagi oleh Rafian.

Terpana-pemain

Oh, ya di filim ini juga ada sosok unknown Reza Rahardian. Disini Reza sendiri hanyalah sebuah sosok imajinasi yang hidup di kepala Rafian maupun Ada.

Jujur saya akui, bahwa fim ini adalah film yang berat. Dialog-dialog scientific dan filosofis itu cukup membuat saya mengernyitkan dahi. Saya bahkan harus menonton film ini beberapa kali untuk memaknai adegan demi adegannya. Tetapi setelah semua tertangkap, saya merasa sangat puas. Ada banyak hal yang bisa saya maknai dengan sudut pandang yang berbeda dari film ini. Film yang membawa saya pada pemikiran-pemikiran dan perenungan-perenungan yang dalam akan banyak hal, temasuk cinta. Menurut saya inilah fim yang memanusiakan penontonnya.

Sayanya menurut saya, film-film seperti ini memang belum cocok untuk pasar penonton Indonesia. Di negara kita ini, film atau bioskop untuk saat ini baru dijadikan sarana hiburan. Bukan sarana pembelajaran atau perenungan. Itu sebabnya, film-film yang menghibur di bioskop-bioskop kita lebih laku dibanding film-film yang mendidik atau bembuat kita berfikir.

Mungkin itu sebabnya, film ini hanya mendapatkan 4500an penonton. Bandingkan dengan film Warkop reborn yang tembus sampai jutaan penonton. Pada akhirnya, mungkin hanya orang-orang yang berjiwa seni yang bisa memaknai film ini.

 Oh, ya. Saya sengaja tidak membahas pemain-pemainnya. Fachri Albar, Raline Shah, Reza Rahardian. Apalagi yang kita ragukan dari kemampuan acting mereka? Awesome !

***

Dipublikasi di Resensi Film | Meninggalkan komentar

KEBETULAN

Hai..,

Kita tahu bahwa kita sama-sama belum pernah bertemu. Setelah berbagai upaya kita lakukan untuk menciptakan peluang bertemu selama 10 tahun terakhir ini, kita lalu sampai pada kesimpulan : kita mungkin memang ditakdirkan untuk tidak pernah bertemu. Berdua, kita lalu sepakat untuk menghapus semua remcana juga harapan dan mimpi kita untuk bertemu.

terpana

Tapi biarlah kuceritakan kepadamu, bahwa pada suatu hari setelah kesepakatan kita itu, aku pernah berharap bahwa kelak kita akan bertemu dengan cara-cara yang tidak kita duga. Dengan cara-cara yang telah diatur oleh alam semesta. Bukan oleh kita sebagai manusia. Sebuah pertemuan yang kebetulan.

Sebagai kebetulan, tentu saja kita akan bertemu sebagai dua orang yang tidak saling mengenal. Mungkin ketika itu kita sedang duduk sepesawat bersebelahan. Atau mungkin kita ternyata dua orang rekan bisnis yang sedang bernegosiasi. Atau seperti film itu? Kita betemu ketika kamu sedang menghabiskan secangkir kopi bersama setumpuk pekerjaanmu di kedai pinggir jalan yang tanpa sengaja kulintasi. Kebetulan.

Seperti apapun kebetulan itu, yang jelas kita bisa tiba-tiba merasa nyaman satu sama lain seolah kita telah lama saling mengenal. Tiba-tiba bisa saling mengisi kesepian dan kekosongan masing-masing. Aku yang tanpa sungkan menceritakan segala hal perihal kehidupanku, dan kau yang dengan tabah mendengarkan setiap detil kisahku. Kita lantas larut dalam pembicaraan-pembicaraan abstrak yang tidak tahu kemana arah ujungnya hingga kemudian saling takut berpisah.

Setelah 10 tahun, apakah kita sanggup menghitung kemungkinan-kemungkinan untuk kita bertemu secara kebetulan? Entahlah, aku sendiri tidak berani melakukannya. Sejak sekolah, aku tidak sudak dengan teori-teori probabilitas. Karena mungkin, aku memang tidak suka dengan kemungkinan-kemungkinan yang kadang berakhir kecewa.

Namun Jika kelak kebetulan itu harus terjadi, maka biarlah semesta yang mengaturnya.

***

NOTE : Ini bukan Resensi Film. Butuh ilmu tinggi untuk meresensi film dengan nilai seni seperti TERPANA ini. Tapi nanti kita coba ulas.

Dipublikasi di Catatan Pendek, Cerita Pendek | Meninggalkan komentar