Terpana | Sebuah Resensi

Oke, setelah kemarin posting sedikit khayalan yang terinspirasi dari film Terpana. Kali ini saya coba ulas film ini bener-bener. Sebenarnya ketika pertama kali tahu bahwa film ini digarap dan di tulis langsung oleh Richard OH, saya sudah tahu bahwa film ini akan bernilai seni tinggi. Sebagai seorang pembaca, saya tentu mengikuti beberapa karya sastrawan satu ini. Dari sanalah saya bisa menilai jiwa seni yang tinggi pada sosok Richard OH.

Dan benar, film Terpana membuat saya berdecak kagum beberapa kali. Saya bisa menilai bahwa film itu Richard OH banget deh. Its unussual film. Dimana penonton akan dibawa pada adegan-adegan yang menakjubkan yang jauh dari adegan sinetronik.

Ceritanya Rafian (Fachri) tidak sengaja bertemu dengan Ada (Raline) di salah satu sudut kota Medan. Rafian yang saat itu sedang menyebrang jalan terpesona melihat Ada yang sedang duduk di salah satu bangku kedai Kopi di pinggir jalan. Saking terpesonanya, Rafian sampai bengong di tengah jalan di tengah jalan dan tidak menyadari bahwa ada sebuah truk yang nyaris saja menabrak dirinya.

Rafian percaya bahwa Ada telah menyelamatkan nyawanya. Jika saja Ada tidak duduk disana dan ia tidak terpesona hingga bengong di tengah jalan, andai saja ia tidak terhenti di tengah jalan dan meneruskan langkah menyebarang, mungkin ia sudah mati tertabrak truk tadi. Namun Ada tidak yakin dengan pandangan Rafian. “You’re just lucky”. Kamu hanya beruntung, begitu katanya. Pada adegan-adegan selanjutnya, kedua lantas terlibat dalam teori masing-masing dalam menjelaskan keyakinana mereka. Mulai dari teori probabilitas, fisika, filsafat, hingga sejarah.

terpana-poster

Yang membuat saya begitu terkesan dengan film ini adalah hubungan antara Rafian dan Ada yang menurut saya unik banget. Bayangin, kamu bertemu dengan orang yang tidak pernah kamu kenal sebelum nya di dunia manapun juga. Lalu tiba-tiba kamu terpana padanya tepat pada pandangan pertama.  Tidak hanya sampai disitu, tapi kemudian kamu sama dia nyambung ngobrolin apa saja bahkan hal-hal yang absurb sekalipun. Kamu bisa beradu argument, berbagi ide dan pemikiran, berdiskusi bahkan hanya lewat tawat tatapan mata atau gesture tubuh. Adengan-adegan seperti itu akan banyak kamu temui di dalam film ini. Sebuah dialog yang mengalir bukan dari mulut ke mulut, melainkan dari hati ke hati, dari pikiran ke pikiran.

Pada sebuah adegan lain, Rafian dan Ada memutuskan untuk berpisah pada sebuah perimpangan untuk menguji sejauh mana kebetulan akan mempertemukan mereka kembali? Dengan santai Rafian melenggang, ia percaya dan yakin bahwa takdir akan mempertemukan mereka kembali dengan caranya sendiri. Dengan cara yang kebetulan. Tetapi di tengah jalan pilihannya, Ada tiba-tiba meragu. Ia tiba-tiba takut tidak ditemukan lagi dengan Rafian. Maka ia sengaja berbalik arah, agar kemudian ditemukan lagi oleh Rafian.

Terpana-pemain

Oh, ya di filim ini juga ada sosok unknown Reza Rahardian. Disini Reza sendiri hanyalah sebuah sosok imajinasi yang hidup di kepala Rafian maupun Ada.

Jujur saya akui, bahwa fim ini adalah film yang berat. Dialog-dialog scientific dan filosofis itu cukup membuat saya mengernyitkan dahi. Saya bahkan harus menonton film ini beberapa kali untuk memaknai adegan demi adegannya. Tetapi setelah semua tertangkap, saya merasa sangat puas. Ada banyak hal yang bisa saya maknai dengan sudut pandang yang berbeda dari film ini. Film yang membawa saya pada pemikiran-pemikiran dan perenungan-perenungan yang dalam akan banyak hal, temasuk cinta. Menurut saya inilah fim yang memanusiakan penontonnya.

Sayanya menurut saya, film-film seperti ini memang belum cocok untuk pasar penonton Indonesia. Di negara kita ini, film atau bioskop untuk saat ini baru dijadikan sarana hiburan. Bukan sarana pembelajaran atau perenungan. Itu sebabnya, film-film yang menghibur di bioskop-bioskop kita lebih laku dibanding film-film yang mendidik atau bembuat kita berfikir.

Mungkin itu sebabnya, film ini hanya mendapatkan 4500an penonton. Bandingkan dengan film Warkop reborn yang tembus sampai jutaan penonton. Pada akhirnya, mungkin hanya orang-orang yang berjiwa seni yang bisa memaknai film ini.

 Oh, ya. Saya sengaja tidak membahas pemain-pemainnya. Fachri Albar, Raline Shah, Reza Rahardian. Apalagi yang kita ragukan dari kemampuan acting mereka? Awesome !

***

Iklan

Tentang Funky Tri Doretta

Simple Ordinary Boy
Pos ini dipublikasikan di Resensi Film. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s