Critical Eleven | Ulasan Buku

Sebenarnya, aku agak terganggu dengan terlalu banyaknya diksi english dlm novel ini. Hampir 25% menurutku.
Tapi aku angkat topi dengan sudut pandang yang diambil oleh penulis.
Dalam tiap kejadian, pembaca akan di ping-pong menilik dari sudut pandang tokoh pria dan tokoh wanitanya. Alhasil, pembaca selalu bisa memandang tiap persoalan dari dua sisi dengan adil.
Critical Eleven

Aku pernah memakai konsep double view ini dalam cerpen “Riecky-Nadine” di tahun 2010. Dan aku bisa membayangkan betapa sulitnya seorang Ika Natassa mengatur psikologinya dalam menulis novel ini. Banyangkan kamu sedang menjadi seorang laki-laki yang maskulin, tegas namun penyabar. Tiba2 di paragraph selanjutnya kamu harus menjadi seorang perempuan yang feminim, mewek dan ngambekan.

Disinilah kemampuan seni psikologi seorang penulis diuji. Hanya penulis2 yang punya faktor Schizoprenia (kepribadian ganda) yang tinggi yang bisa menulis dengan sudut pandang seperti ini.

Awesome

Iklan

Tentang Funky Tri Doretta

Simple Ordinary Boy
Pos ini dipublikasikan di Resensi buku dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s