Angin Bersyair | Resensi Buku

Resensi by : Funky Tri Doretta

Bercerita tentang perjalanan Sukma ke Bali dengan hanya berbekal secarik kertas yang diberikan oleh Kiev, kekasihnya. Secari kertas tersebut membawanya terdampar di Ubud, yang kemudian mempertemukannya dengan Bu Padmi, Nawang dan Raka. Seorang pelukis sekaligus dosen seni rupa. Pertemuan yang kemudian hari membawa banyak kisah baru di dalam hidupnya. Di Ubud, ternyata kekasihnya memberinya sebidang tanah yang luas sebagai hadiah ulang tahunnya. Dan di tanah yang masih berbentuk sawah tersebut, Sukma yang memang seorang arsitek diminta Kiev untuk menggambarkan rumah impian yang kelak akan dibangunkan oleh Kiev untuknya.

Jenuh menjadi simpanan Kiev yang sudah beristri, lelah dengan hubungan yang tanpa harapan, Sukma bangkit dari jeratan yang selama ini mengekang batinnya nya. Ia memutuskan hubungannya dengan Kiev dan mengembalikan semua pemberian Kiev termasuk tanah di Ubud yang menjadi hadiah ulang tahunnya.

Angin Bersyair

Kembali ke Ubud, Sukma mencoba memulai hidup baru. Menyewa bungalow, ia mengandalkan keahliannya sebagai arsitek dan hobi fotografinya sebagai modal mencari penghasilan di Bali. Kehidupan baru yang kemudian lebih banyak membawanya lebih dekat dan jatuh cinta pada 2 kehidupan sekaligus. Raka dan Bali. Demi perasaan cinta ini, Sukma banyak belajar mengenai sejarah Bali, mempelajari kebudayaan dan tariannya, hingga cara beribadah umat hindu.

Ditengah kenyamanannya dengan kehidupan yang baru, Kiev kembali datang mengusik kehidupannya. Dengan segala kearogannya, Kiev akan membangun hotel berbintang di tanah sawah yang dulu hendak diberikan kepada Sukma. Sekuat tenaga, dibantu Raka, Sukma mempertahankan sawah tersebut demi menjaga keindahan alam Ubud dan keberlangsungan hidup Ibu Kadek sang pemilik tanah.

Konflik, tidak selesai sampai disana. Setelah mereka berhasil mempertahankan  tanah tersebut dari Kiev, Sukma menyadari sebuah fakta yang menyentak batinnya. Nawang, sang gadis pendiam yang selama ini memperkenalkannya pada dunia yang hening, ternyata menyimpan perasaan yang mendalam kepada Raka. Kenyataan membuat Sukma kian menyadari posisinya. Dengan kesadaran penuh dan hati yang besar, ia kemudian memilih meninggalkan kehidupan Bali, mengembalikan Raka sepenuhnya kepada Nawang.

***

Sudah saya ceritakan pada postingan sebelumnya perihal pertemuan saya dengan buku ini. Sejak awal buku ini terbit di 2014 lalu, saya sudah merasa bahwa aka nada yang spesial dengan buku ini. Mengingat, buku ini adalah momentum kembalinya Andrei Aksana sebagai Penulis setelah cukup lama ia menghilang dari dunia Literasi yang membesarkan namanya.

Dan benar saja, novel ini cukup menghentak para penggemar Andrei Aksana. Sebagian dari mereka kecewa karena gagal menemukan sisi Andrei Aksana seperti pada novel-novel Lelaki Terindah, Abadilah Cinta, Janda-Janda Kosmopolitan ataupun M2L. Mungkin karena pembaca sudah terlanjur nyaman dengan cerita-cerita yang romantic dan  melankolis yang biasa Andrei bawakan pada novel-novel sebelumnya. Lalu Angin Bersyair lahir dengan plot cerita yang sedemikian datar. Dengan konflik dan alur yang terkesan biasa saja, ada greget  yang gagal didapatkan oleh pembaca seperti pada novel-novel sebelumnya. Entah mengapa, saya seperti sependapat, bahwa dalam Novel ini Andrei malah sepertinya terlena sendiri dengan Ubud dan Bali yang dijadikannya setting dalam novelnya ini. Alih-alih ingin mendeskripsikan setting dengan mendetail, Andrei malah menyurutkan plot jalan cerita dalam Novel ini sendiri. Membuat bab-bab pertengahan novel ini menjadi rancu, Andrei ingin menonjolkan cerita atau setting? Membuat para pembaca bertanya, ini novel sastra atau travelling? Beruntung pada bab-bab akhir, Andrei bisa mengembalikan jalan cerita sebagai plot utama novel ini. Kembali membawa membawa pembaca hanyut dalam alir cerita dan konflik tokoh-tokohnya.

Kalaupun ada yang bisa dipertahankan oleh Andrei dalam novel ini dari novel-novel sebelumnya, adalah diksi-diksinya yang puitis. Sepanjang halaman, pembaca akan menikmati penggalan-penggalan kalimat yang puitis yang tumpah ruah dan berserakan di tiap alinea, sajak juga puisi-puisi apik khas Andrei Aksana. Disilah kekuatan  novel ini, dengan hadirnya sajak dan puisi-puisi di dalam buku ini, saya malah menilai novel ini lebih nyastra ketimbang novel2 Andrei sebelumnya.

Selalu ada sisi indah dalam setiap karya, nikmatilah.

Selamat membaca.

***

Iklan

Tentang Funky Tri Doretta

Simple Ordinary Boy
Pos ini dipublikasikan di Resensi buku dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s