Tentang Kamu | Resensi Buku

Resensi by : Funky Tri Doretta

Bercerita tentang perjalanan Zaman Zulkarnaen, seorang pengacara muda asal Indonesia yang bekerja pada sebuah Firma Hukum terkenal di kota London, Inggris, dalam menuntaskan sebuah kasus warisan yang pelik dan penuh misteri. Sri Ningsih sang klien, meninggalkan warisan dengan jumlah yang fantastis tanpa meninggalkan surat wasiat.

Demi menemukan surat wasiat inilah Zaman Zulkarnaen harus berpetualang demi menemukan ahli waris yang sah untuk warisan Sri Ningsih yang bernilai fantastis itu. Berbagai daerah kemudian di datangi oleh Zaman Zulkarnaen untuk menelusuri riwayat hidup Sri Ningsih. Mulai dari Pulau Bungin tempat Sri Ningsih lahir dan melewatkan masa kecil, Surakarta tempat Sri Ningsih melewatkan masa remaja, Jakarta yang dihabiskannya untuk meniti karir, London tempatnya memulai hidup baru, hingga Paris yang menjadi tempatnya menghabiskan masa tua.

Tentang Kamu

Sepanjang perjalanan, pembaca akan dibawa pada plot-plot yang tidak terduga dan penuh tanda tanya, membuat pembaca menerka dan tidak sabar untuk sampai pada bab-bab selanjutnya perjalanan hidup Sri Ningsih yang ditelusuri oleh Zaman Zulkarnaen. Perjalanan-perjalanan hidup yang penuh getir sekaligus penuh decak decak kagum. Seperti pada-novel-novel sebelumnya, Tere Liye selalu menggambarkan tokohnya sebagai petarung kehidupan yang tangguh dan tidak mudah menyerah. Karakter inilah yang kemudian disematkan oleh Tere Liye dalam tokoh Sri Ningsih dan Zaman Zulkarnaen. Dua tokoh yang berbeda masa namun mempunyai watak yang sama.

Sri Ningsih berkali-kali terjatuh dan terpuruk dalam kehidupannya. Mulai dari kehilangan orang tua semasa kecil, kehilangan saudaranya pada masa remaja, kehilangan perusahaan yang dirintisnya dengan susah payah, sampai harus kehilangan kedua buah hatinya saat baru dilahirkan, lalu kehilangan suaminya tercinta. Dus! Komplit sekali paket kehilangan Sri Ningsih. Dia pernah kehilangan segalanya dalam kehidupan, tetapi dia tidak pernah kehilangan semangat untuk melanjutkan kembali hidupnya. Semangat hidup itulah yang membuat Sri Ningsih mampu bertahan dan bangkit berkali-kali memulai hidup demi hidup baru.

Tidak berbeda dengan Sri Ningsih, Zaman mempunyai semangat pantang menyerah yang sama. Tidak mudah menyelusuri perjalanan hidup Sri Ningsih dengan berbekal informasi yang sangat minim. Berkali-kali Zaman menemui jalan buntu, namun Zaman tidak menyerah begitu saja. Seperti kata pepatah, ‘Tidak ada jalan buntu selama manusia mau mendaki’. Dengan penuh kesabaran dan ketelitian ia menghadapi kendala demi kendala itu dengan niat yang sungguh-sungguh.

Diselingi dengan sejarah-sejarah Pulau Bungin, Jakarta hingga bus kota London, Novel ini memberikan ilmu pengetahuan penting selain nilai-nilai persahabatan kental yang terimplisit dalam konektifitas setiap tokoh-tokoh disamping tokoh utama.

Setelah kecewa dengan novel futuristik Tere Liye sebelumnya yang berjudul “Hujan”, saya akhirnya menemukan apresiasi kembali pada novel Tere Liye kali ini. Sama-sama ber-alur maju-mundur,  tanpa prolog yang terlampau panjang novel ini mempunyai konflik dan misteri tersendiri sedari awal. Disinilah kekuatan dari novel ini yang membuat pembaca sulit menghentikan lembar demi lembar untuk memuaskan pertanyaan dalam lembar-lembar sebelumnya.

Dan tentu saja, Tere Liye selalu menyelipkan petuah-petuah bijaknya sebagai tebusan mahar yang telah dibayarkan pembaca untuk merndapatkan buku ini.

Final words, selamat menelusuri perjalanan Zaman Zulkarnen dan  kehidupan Sri Ningsih. Semoga turut mendapatkankan hikmahnya.

***

 

Iklan

Tentang Funky Tri Doretta

Simple Ordinary Boy
Pos ini dipublikasikan di Resensi buku dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s