Dua Cangkir Kopi Pahit

“Aku tidak peduli atas keadaan susah dan senangku, karena aku tidak tahu manakah diantara keduanya itu yang baik bagiku…” – Umar Bin Khattab.

Entah siapa yang lebih sial atau lebih beruntung diantara kami. Saya tidak tahu.

Tetiba saja senja tadi kami kompak saling merindu. Mungkin karena ikatan batin 2 sahabat yang sudah lama tidak saling berlempar khabar. Demi menuntaskan rindu itu kami lantas berjanji bertemu di sebuah kedai kopi tua di sudut kota. Disana, kami memang kerap bertukar cerita.

Langit malam baru saja digelar. Duduk bersebrangan diantara meja jati bundar, kami sama-sama menikmati secangkir kopi tubruk bali kintamani yang ringan. Melengkapi teman ngobrol, ada sepiring kentang dan singkong goreng lengkap dengan saos tomat dan sambalnya.

Masih dengan gaya anggunnya yang tak pernah pudar, teman saya malam itu masih mengenakan blus kantornya yang berwarna abu-abu. Wajahnya masih cukup segar dengan Make up nya sudah tipis dan rambut yang digulungnya dengan sebatang pensil. Untuk ukuran ibu bocah berusia 6 tahun, teman saya ini terbilang masih cantik.

kopi-gayo_dsg_20160625_132100

Secara pribadi, saya memang membutuhkan pertemuan ini. Beberapa kejadian yang mengguncang kehidupan saya belakangan ini membuat saya merasa membutuhkan beberapa orang untuk bercerita, untuk mendapatkan nasihat, dan memperoleh suntikan semangat untuk kembali melanjutkan hidup dan berkarya.

Saya ingin bercerita padanya, bahwa sebenarnya saya  sedang terluka. Bahwa saya sedang kecewa tapi tidak tahu harus kecewa pada siapa. Bahwa, ya, sejujurnya saya sedang bersedih. Saya sedang sedih   setelah saya merasa telah gagal lagi. Ya, Hubungan asmara yang telah saya jaga sekuat tenaga selama 2 tahun belakangan ini, lagi-lagi harus berakhir dengan sempurna. Saya sedih, karena itu berarti lagi-lagi saya harus menghapus semua rencana yang pernikahan yang sudah saya susun sejak jauh-jauh hari. Sialnya, saya sepertinya sudah terlalu malas untuk memulai sebuah hubungan baru lagi.

Sudah berhari-hari saya mencoba menapak tilas perjalanan 2 tahun ini. Mencoba mencari langkah yang mungkin salah arah. Tidak ada yang saya temukan selain fakta, bahwa waktu ternyata adalah ujian terbesar dalam cinta. Bahwa dalam mekanismenya bertahan, cinta akan diuji dengan setumpuk cobaan oleh waktu. Waktu ibarat hujan yang tak pernah letih mengikis aspal jalanan. Ibarat ombak yang tak kenal menyerah mendentum karang yang kokoh. Sayangnya tidak semua cinta ditakdirkan kuat dan tegar, sanggup bertahan menghadapi ujian waktu yang bertubi-tubi. Beberapa melemah. Tergerus menipis hingga perlahan habis. Perasaan yang dulu membara berkorbar-kobar, ternyata bisa pupus dan meredup seperti obor yang kehabisan bahan bakar.

“Aku mau cerai. Sudah proses” spontan, seloroh teman saya itu membuat kopi yang sudah berada di kerongkongan saya menyembur keluar kembali. Adegan tersedak ala sinetron yang sering saya kutuk itu, sungguh-sungguh terjadi pada diri saya. Saya segera mengambil air mineral dan meminumnya beberapa teguk untuk meredakan batuk saya.

“Hah?!” Saya menuntut penjelasan. Teman saya masih tampak santai. Mencomot beberapa kali kentang goreng, mencocolnya ke dalam saus tomat lalu mengunyahnya.

“Jangan kaget gitulah. Biasa aja” protesnya dengan reaksi saya yang mungkin memang agak berlebihan.

“Iyaa, tapi kenapa kamu mau cerai? Selama ini aku lihat rumah tangga kamu baik-baik aja.”  Saya mempertegas maksud saya.

“Itukan pandangan kamu, Kik. Cuma aku yang tahu persis keadaan rumah tanggaku yang sebenarnya” jawabnya masih sambil mengunyah kentang goreng. Saya mendengus nafas. Tidak mengerti. Selama ini, memang dia tidak pernah menceritakan masalah apapun dalam rumah tangganya. Sayapun melihat dan berfikir bahwa rumah tangganya memang tidak ada masalah apa-apa. Semua terlihat baik-baik saja.

“Oke, aku ceritakan sama kamu” teman saya mengambil selembar tissue, mengelap tangan dan bibirnya yang sesikut berminyak akibat kentang goreng, lalu menyeruput sedikit kopinya.

“Sebenarnya sudah 3 tahun ini hubunganku dengan suami tidak bagus. Entah bagaimana dan darimana awalnya, aku sendiri ngga ngerti. semuanya berjalan begitu aja. Sampai aku menyadari bahwa kami mulai merasakan semuanya seperti hambar” lanjut teman saya.

Saya melipat dahi. Masih tidak mengerti. Saya seruput kopi bali kintamani beberapa kali. Mungkin kafein bisa membantu saya lebih fokus.

“Penyebab retaknya?” Saya melipat tangan diatas meja. Menunggu jawaban.

“Ngga tahu, Kik. Kami berdua juga ngga mengerti. Yang pasti 3 tahun ini kami merasa seperti 2 orang asing yang dipaksa berada dalam satu atap” jawabnya dengan nada serius. Membuat saya percaya bahwa dia tidak sedang main-main.

“Puncaknya setahun ini. Kamu boleh percaya atau tidak. Bahwa sudah setahun ini kami sangat jarang bertegur sapa di rumah. Sudah setahun ini pula kami tidak tidur sekamar” ia melanjutkan lagi. Saya menarik nafas panjang. Rasanya saya semakin tidak mengerti. Apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan rumah tangga teman saya? Bagaimana mereka merasa hambar setelah bertahun-tahun menikah? Setelah mempunyai anak perempuan berusia 6 tahun yang cantik dan menggemaskan.

“Kalian masih saling mencintai kan?” Saya ajukan pertanyaan yang mungkin jawabannya bisa membuka logika saya.

Teman saya menyeringai kecil. “Disitulah masalahnya, Kik. Aku sudah tidak mencintainya. Dan kurasa diapun demikian kepadaku” lingkaran bola mata saya membesar, tidak percaya pada apa yang baru saja diucapkannya.

“Kamu sudah tanya sama dia?”

Teman saya malah tertawa kecil. Menyingkirkan helai-helai poni yang mengganggu pandangnya.

“Tidak perlu ditanyainlah, Kik. Kamu kan yang dulu ngajarin aku. Kalau cinta itu bahasanya luas. Cinta akan terlihat dari pancaran mata, tutur kata, juga tercermin dari tingkah laku. Tidak perlu ditanya, kita tahu apakah orang itu masih mencintai kita atau tidak” jawabnya yang malah membuat saya tercengung. Saya menelan ludah. Rasanya tadi saya yang ingin mengeluh kepada teman saya ini. Rasanya saya yang awalnya ingin bercerita kepadanya bahwa kemarin cinta pasangan saya telah memudar dan kandas tanpa bersisa hingga menyebabkan ia  dengan berat hati memilih untuk menyudahi hubungan dengan saya. Memaksa saya memilih untuk kembali mengubur harapan untuk segara menikah.

Sunyi menjeda diantara kami. Terpekur dalam pikiran masing-masing. Entah apa yang sedang bergentayang di pikiran teman saya. Tetapi saya berfikir, mungkin ini yang menggerakan hati kami tadi untuk bertemu. Kami ternyata sedang berada dalam masalah yang sama meskipun situasinya berbeda. Entah siapa yang lebih sial diantara kami. Saya yang gagal menikah, atau teman saya yang harus memilih bercerai. Siapa yang lebih beruntung diantara kami. Teman saya yang setidaknya pernah menikah dan merasakan kehidupan rumah tangga, atau saya yang digagalkan pernikahan karena pudarnya perasaan pasangan.

“Eh, kamu sendiri gimana, Kik? Jadi mau menikah tahun ini?” Teman saya memecah kesunyian yang mengambang sejenak diantara kami. Mendadak saya merasa ling-lung, bingung harus menjawab apa. mengulur waktu, saya menyeruput kopi yang sudah nyaris tandas.

“Ngga jadi” jawab saya akhirnya.

“Loh kenapa?” ganti teman saya yang melipat dahi.

“Perasaan dia cuma sampai disini. Ngga bisa dilanjutin lebih jauh” jawab saya sembari berusaha tersenyum semanis mungkin.

Teman saya menepuk dahinya, tertawa kecil. Dia lalu mengangkat tubuhnya, berdiri, lalu mengenakan cardigannya.

“Bersyukurlah kamu belum menikah. Daripada perasaan dia selesai saat kalian sudah menikah seperti aku?” Temanku mengambil tasnya diatas meja, bersiap pulang. “Kamu yang bayar, ya!” pungkasnya sebelum berlalu meninggalkan saya.

Saya memanggil pelayan, memesan secangkir kopi lampung tanpa gula. Saya merasa, saya membutuhkan kafein yang lebih banyak malam ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tentang Funky Tri Doretta

Simple Ordinary Boy
Pos ini dipublikasikan di Cerita Inspirasi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s