Pertemuan dengan Pakde

“Apalagi yang pantas kupinta. Sementara aku selalu berdoa, Jadikan yang terbaik menurut-Mu ya Allah”

Ulang tahun ke kemarin saya menyempatkan diri untuk bertemu dengan Pakde. Sekedar bersilahturahmi, kami duduk di teras belakang rumah pakde sambil menghabiskan dua cangkir kopi dan sepiring singkong goreng buatan Budhe.

12424713_824296297681154_1305427982_n

Ada banyak hal yang kami diskusikan petang itu. Perihal pekerjaan dan rencana saya kedepannya, tentang keseharian pakde dan kesehatannya yang naik turun. Hingga isu dan hingar bingar politik yang semakin gaduh dewasa ini. Petang semakin terpuruk. Matahari semakin redup diufuk barat. Sebelum beranjak pulang, saya meminta sepotong nasihat yang mungkin bisa memotivasi saya untuk mengarungi usia yang baru ini.

“Pakde tidak akan menceramahin kamu soal pekerjaan, kafe ataupun buku-bukumu. Kamu lebih tahu dari Pakde tentang apa yang harus kamu lakukan. Kamu lebih pintar soal itu” ucap Pakde sembari tersenyum. Senyum tulus yang selalu berhasil menangkan batin saya.

“Tapi soal menjaga perasaan dirimu sendiri, Fungky..” Pakde melanjutkan. Saya mendengar dengan hati-hati. “Berhentilah menyakiti perasaanmu sendiri” ucap Pakde sembari menepuk-nepuk bahu saya. Saya tersenyum, entah untuk sedih atau untuk bahagia. Cangkir kopi saya angkat dan saya reguk kembali untuk memanipulasi perasaan saya yang tidak menentu.

“Dihari ulang tahunmu ini, bolehlah sekiranya kamu memberi hadiah untuk dirimu sendiri. Untuk perasaanmu sendiri” sambung Pakde lagi. Saya tertunduk, mencoba menelaah nasihat dari Pakde.

“Kau mungkin bisa memulai untuk membahagiakan perasaaanmu sendiri. Melepaskan segala hal yang mungkin menekan dan menyakitinya selama ini”

“Kau tahu, Fungky. Untuk urusan satu ini, kau terkadang terlalu banyak memaksakan diri” Saya tertunduk semakin dalam. Cangkir kopi yang masih saya pegang, berkali-kali saya sesap isinya sedikit-sedikit.

“Jangan kaku sama takdir. Melunaklah. Ketika Allah tidak bisa mengikuti pintamu, mungkin saatnya kamu yang mengikuti kehendak Allah”

“Untuk hal-hal yang sekiranya menyakiti perasaanmu, tinggalkanlah. Untuk semua yang membahagiakanmu, perjuangkanlah sekuat tenaga. Hidup ini terlalu panjang untuk dijalani dengan hati yang berat. Kau bisa mati kelelahan” pungkas Pakde sembari  menyesap kopinya.

Jelang maghrib, saya pamit undur diri. Mencium tangan dan memeluknya erat, saya mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada Pakde. Dengan melepaskan banyak hal yang menyakitkan, semoga langkah ini akan semakin lebih ringan. Semoga.

***

 

Iklan

Tentang Funky Tri Doretta

Simple Ordinary Boy
Pos ini dipublikasikan di Catatan Pendek. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s