Senyum Terindah

Kedewasaanmu diukur, dari seberapa bijak kau menghadapi masalah”

Tidak ada yang salah dengan pagi tadi. Tidak ada hujan, apalagi badai. Matahari bersinar dengan cerah dan hangat. Semua orang datang dan beraktifitas seperti biasa. Begitupula dengan salah seorang rekan saya (yang tidak bisa saya sebutkan namanya). Sepagi tadi ia sudah datang tepat waktu, absen, menyalakan komputernya, lalu duduk sebentar di parkiran belakang kantor sembari menghabiskan sebatang rokok dan menyesap beberapa hirup kopi panas. Setelah itu, ia kembali ke meja melanjutkan tugas dan  pekerjaannya.

Jelang tengah hari, ia di panggil oleh tim HRD untuk naik ke lantai 2 kantor. Disana sudah menunggu salah satu tim HRD dari HO Jakarta yang ingin berbicara dengan teman saya. Tidak sampai 1 jam, teman saya turun dengan senyum sumringahmengembang di wajahnya. Sambil berjalan ia sempat mengisegi rekan-rekan lainnya yang terlihat serius bekerja. Melihat wajah ceria dan senyum sumringah teman saya, beberapa orang sempat menggodanya “Naik Gaji nih, ye..!” Ada lagi yang menggodanya “Uhuui, naik jabatan, pak?” Tetapi teman saya hanya merespon mereka dengan tawa dan cengiran.

Setelah makan siang, saya dan teman saya duduk kembali di parkiran. Ada 2 cangkir kopi, sebatang rokok disulut dan dihisapnya.

“Tadi dipanggil kenapa ?” Tanyaku penasaran

“Ngga papa. Biasalah” jawab teman saya sambil tersenyum penuh misteri.

“Dimutasi atau naik jabatan?” Aku semakin penasaran

“Ngga dua-duanya” temanku menghirup kopinya lalu menghisap rokoknya. “Aku udahan” sambungnya.

“Udahan? Maksudnya?” Aku semakin bingung

“Tadi itu cuma pemberitahuan soal pesangon dan lain-lain” jawabnya

“Kamu di PHK?” Aku nyaris berteriak karena kaget. Tetapi temanku dengan santai dan menyengir, menampilkan gigi-gigi nya.

“Jangan kaget gitulah, biasa aja” responnya ringan.

“Kamu serius?” Aku menuntut keyakinan. Temanku yang sedang mengisap rokok hanya mengangguk keras.

“Aku dikasih waktu seminggu untuk serah terima semua pekerjaan” ucapnya setelah menyeruput lagi kopinya yang mulai dingin. Aku hanya terdiam, menarik nafas panjang dan mengusap rambut dan wajahku. Entah mengapa, aku yang menjadi cemas dan panik. Bukan temanku yang sudah diputuskan PHK. Kami diam beberapa menit, hanyut dalam pikiran masing-masing.

“Kamu kok santai, sih?” Tanyaku yang heran akan sikapnya yang terlihat sama sekali tidak ada masalah.

“Ya mau diapain lagi?” Lagi-lagi dia nyengir seperti kuda jantan yang melihat betina.

“Kamu punya anak istri, loh!” Aku mengingatkannya. Dia malah tambah tertawa.

“Iya sih, jujur aja tadi sempet kepikiran mereka juga. Tapi ya udahlah, rezeky kan sudah di jamin Allah. Mengkhawatirkan rezeky mereka, seperti tidak menaruh kepercayaan kepada Allah. Aku takut malah zholim kepada Allah dan itu malah akan menghambat rezeky ku kedepannya” ia menghisap rokok dan menyeruput kopinya lagi. Aku ikut menyeruput kopiku yang rasanya jadi lebih pahit.

“Jadi apa rencanamu, selanjutnya?” Tanyaku yang malah kuatir. Ia menghisap dalam rokoknya lalu tersenyum sumringah.

“Menyelesaikan serah terima ini dengan lekas dan baik, lalu bergegas mencari pekerjaan lain. Menggapai rezeky lain yang masih di gantung Allah” jawabnya santai. Sama sekali telihat seperti tidak ada beban dalam pikirannya. Ia sudah  benar-benar dalam posisi tawakal. Dalam keadaan iman yang sepenuhnya kepada kehendak Allah. Sore harinya kami bersalaman, dan ia masih memberikan senyum terbaiknya. Senyum yang menurut pandanganku lebih indah dari senyuman-senyumannya sebelumnya. Mungkin benar, bahwa senyum yang paling indah adalah senyuman ketika kita menerima apapun ketetapan Allah.

Jelang tengah hari, ia di panggil oleh tim HRD untuk naik ke lantai 2 kantor. Disana sudah menunggu salah satu tim HRD dari HO Jakarta yang ingin berbicara dengan teman saya. Tidak sampai 1 jam, teman saya turun dengan senyum sumringahmengembang di wajahnya. Sambil berjalan ia sempat mengisegi rekan-rekan lainnya yang terlihat serius bekerja. Melihat wajah ceria dan senyum sumringah teman saya, beberapa orang sempat menggodanya “Naik Gaji nih, ye..!” Ada lagi yang menggodanya “Uhuui, naik jabatan, pak?” Tetapi teman saya hanya merespon mereka dengan tawa dan cengiran.
Setelah makan siang, saya dan teman saya duduk kembali di parkiran. Ada 2 cangkir kopi, sebatang rokok disulut dan dihisapnya.

“Tadi dipanggil kenapa ?” Tanyaku penasaran

“Ngga papa. Biasalah” jawab teman saya sambil tersenyum penuh misteri.

“Dimutasi atau naik jabatan?” Aku semakin penasaran

“Ngga dua-duanya” temanku menghirup kopinya lalu menghisap rokoknya. “Aku udahan” sambungnya.

“Udahan? Maksudnya?” Aku semakin bingung

“Tadi itu cuma pemberitahuan soal pesangon dan lain-lain” jawabnya

“Kamu di PHK?” Aku nyaris berteriak karena kaget. Tetapi temanku dengan santai dan menyengir, menampilkan gigi-gigi nya.

“Jangan kaget gitulah, biasa aja” responnya ringan.

“Kamu serius?” Aku menuntut keyakinan. Temanku yang sedang mengisap rokok hanya mengangguk keras.

“Aku dikasih waktu seminggu untuk serah terima semua pekerjaan” ucapnya setelah menyeruput lagi kopinya yang mulai dingin. Aku hanya terdiam, menarik nafas panjang dan mengusap rambut dan wajahku. Entah mengapa, aku yang menjadi cemas dan panik. Bukan temanku yang sudah diputuskan PHK. Kami diam beberapa menit, hanyut dalam pikiran masing-masing.

“Kamu kok santai, sih?” Tanyaku yang heran akan sikapnya yang terlihat sama sekali tidak ada masalah.

“Ya mau diapain lagi?” Lagi-lagi dia nyengir seperti kuda jantan yang melihat betina.

“Kamu punya anak istri, loh!” Aku mengingatkannya. Dia malah tambah tertawa.

“Iya sih, jujur aja tadi sempet kepikiran mereka juga. Tapi ya udahlah, rezeky kan sudah di jamin Allah. Mengkhawatirkan rezeky mereka, seperti tidak menaruh kepercayaan kepada Allah. Aku takut malah zholim kepada Allah dan itu malah akan menghambat rezeky ku kedepannya” ia menghisap rokok dan menyeruput kopinya lagi. Aku ikut menyeruput kopiku yang rasanya jadi lebih pahit.

“Jadi apa rencanamu, selanjutnya?” Tanyaku yang malah kuatir. Ia menghisap dalam rokoknya lalu tersenyum sumringah.

“Menyelesaikan serah terima ini dengan lekas dan baik, lalu bergegas mencari pekerjaan lain. Menggapai rezeky lain yang masih di gantung Allah” jawabnya santai. Sama sekali telihat seperti tidak ada beban dalam pikirannya. Ia sudah benar-benar dalam posisi tawakal. Dalam keadaan iman yang sepenuhnya kepada kehendak Allah.

Sore harinya kami bersalaman, dan ia masih memberikan senyum terbaiknya. Senyum yang menurut pandanganku lebih indah dari senyuman-senyumannya sebelumnya.

Mungkin benar, bahwa senyum yang paling indah adalah senyuman ketika kita menerima apapun ketetapan Allah.

***

Iklan

Tentang Funky Tri Doretta

Simple Ordinary Boy
Pos ini dipublikasikan di Cerita Inspirasi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s