MiRC

Cerpen by : Funky Tri Doretta

Yogyakarta, 2006

Sudah beberapa malam aku tidak melihat Clara. Jam di sudut monitorku menampilkan angka 22:14. Biasanya jam segini dia sudah nongol dengan senyum sumringahnya, mengambil beberapa batang rokokku dari dalam kotaknya yang tergeletak diatas meja, lalu membawanya berlalu menuju cubicle kesukaannya Nomor 10. Pojok sebelah kanan, mepet dinding toilet. Setelah duduk di cubicle dan log in ke komputer, ia akan meyulut sebatang rokoknya dengan bibirnya yang ranum. Membuka Friendster dengan akun Clara Agnesia, log in ke Yahoo Messenger dengan akun Clara_Clearly. Di Yahoo messenger ini ia akan masuk ke room Yogyakarta, Bandung dan Jakarta. Dan yang terakhir, ia akan log in di MiRC dengan nick name Ce_Clara lalu join di channel #Yogyakarta, #Jogja dan #Yogya. Jangan heran jika aku tahu semua akun-akun email, media sosial dan chat nya. Dari Komputer operator, aku tentu bisa me-remote semua aktivitas client dari server.

Setelah selesai semuanya log in, ia akan mengirimiku pesan melalui Yahoo Messeger, meminta diputarkan playlist yang romantis-romantis. Smoking room sebenarnya adalah room yang agak keras, agak aneh sebenarnya jika lagu-lagu yang melantun justru lagu-lagu yang sendu. Tetapi apa boleh buat, sebab jika aku tidak segera memutarkan playlist permintaannya, ia akan mengirimiku Buzz berkali-kali sampai tak berhenti yang tentu saja membuatku sangat terganggu.  Jadilah aku memutarkan song list Rick Price, Diana Ross, Chicago dan Richard Marx kesukaannya .

“Sedang mikirin aku ya?” Dari ambang pintu suaranya mengagetkan aku tiba-tiba.

“Enak aja. Aku masih lebih banyak pekerjaan lain ketimbang mikirin cewe kayak kamu” elakku sekenanya.

“Habis melamunnya jauh gitu” ujarnya seraya masuk dan duduk di sofa sebelahku yang diperuntukan untuk user yang menunggu antrian. Mengenakan kaos ketat biru muda yang dibungkus cardigan pink serta celana jeans ketat biru, ia membiarkan seluruh lekuk tubuhnya yang indah terjiplak sempurna. Wajah khas orientalnya dengan mata yang sipit nampak masih cukup segar untuk ukuran jelang tengah malam begini. Rambut panjangnya dikuncir ekor kuda, membuat lehernya yang jenjang, putih dan ditumbuhi rambut-rambut halus tersibak dengan mempesona.

“Kemana saja?” tanyaku berbasa-basi. Eh tidak, sebenarnya aku serius menanyakan hal itu.

“Tuh kan, kamu kangen sama aku” jawabnya sambil menunjuk hidungku dengan jari telunjuknya yang lentik. Aku membuang muka kearah monitor, mencibirkan bibirku, menepis dugaannya yang entah salah atau bisa jadi benar.

“Kemarin aku demam. Biasalah, cuaca sedang tidak bersahabat” terangnya sambil memungut 3 batang rokokku dari kotaknya. Sebatang langsung disulut dan dihisapnya dengan dalam.

“Kau yakin tidak merindukanku?” tanyanya lagi sembari menyandarkan kepalanya di bahu kiriku. Dengan posisinya seperti itu, aku bisa melihat dengan leluasa sekembar daging padat yang terbungkus kaus ketatnya.

“Ngga lah” jawabku yang sebenarnya entah yakin entah tidak. “Cuma kalau ngga ada kamu sepi aja nih warnet. Setoranku berkurang banyak” candaku.

“itu sama aja kamu rindu, bodoh!” ucapnya sembari berdiri dan berjalan menunu cubicle 10. Aku segera meng-Unlock computer 10 tersebut. Tidak lama kemudian, tiga buzz telah menggetarkan yahoo messeger-ku. Baiklah  Scorpion, Deff Leppard dan White Lion sepertinya harus segeraturun panggung, berganti penyanyi-pennyanyi dengan lagu-lagu cinta yang penuh pilu dan sendu. Aku harus menyeduh secangkir kopi pahit, sepertinya aku akan sangat mengantuk malam ini.

***

Aku tidak mengenal Clara secara pribadi. Selama ini ia tidak lebih dari seorang langganan warnet tempatku bekerja yang selalu rutin mengisi salah satu cubicle smoking room setiap harinya. Jadwal kedatangannya tidak jelas. Kadang ia datang pagi, kadang siang, atau seperti sekarang ini, ia datang menjelang tengah malam. Tetapi yang pasti, ia selalu datang pada saat aku yang menjaga smoking room. Biasanya, ia akan bertanya kepadaku melalu pesan singkat ponsel ‘Kamu masuk sift apa hari ini?’ atau sebelum pulang ‘Besok masuk malam lagi kan?’.

Aku tidak mengenal Clara secara pribadi. Selain di warnet, kami memang tidak pernah bertemu di tempat lain. Dari profil akun Friendster nya ia mengaku berasal dari kota kembang Bandung. Hobinya menyanyi dan modeling. Masuk akal memang, karena selama ini yang aku tahu dia suka mendengarkan music  dan dia kerap mengikuti lagunya dengan bernyanyi pelan. Dan untuk menjadi seorang model juga sepertinya tidak sulit untuknya. Meskipun tubuhnya tidak begitu tinggi, ia mempunyai bentuk tubuh yang indah. Kulitnya kuning langsat khas sunda, dengan wajah yang memiliki mata sayu dan hidung mancung, bibir kecilnya menambah manis kesan di wajahnya. Tetapi meskipun ia memiliki pinggul yang besar dan dada yang padat berisi, aku selalu mengagumi rambut hitam mengkilatnya selalu dibiarkannya tergerai sepunggung. Singkatnya, untuk ukuran seorang perempuan, penampilannya cukup membuat mata pria mencuri-curi pandang. Terlebih, Clara sangat suka memakai kaos ketat dan celana jeans pensil yang membuat seluruh lekuk tubuhnya mengecap di pakaiannya.

Sewaktu baru-baru akrab dahulu, Clara pernah bercerita kepadaku bahwa ia sedang menempuh kuliah di salah satu Universitas Kristen di daerah mrican dan tinggal di sebuah kos-kosan putri daerah demangan baru, tidak jauh dari warnet tempatku bekerja. Itu sebabnya ia memilih warnet tempatku bekerja, karena untuk kesini ia cukup berjalan kaki saja. Satu hal yang kupertanyakan sejak dulu ialah, untuk apa dia sering menghabiskan waktunya di warnet? Karena jika kuperhatikan, tidak ada hal yang terlalu penting yang dikerjakannya di internet. Dia tidak membuka situs-situs jurnal yang berkaitan dengan kuliahnya, tidak membuka situs-situs berita atau info terupdate. Dia hanya membuka aplikasi-aplikasi chatting seperti yang kuceritakan tadi. Dan pada browser, dia hanya membuka Friendster dan dan email.

“Suka banget sih, chatting di MiRC” kataku ketika suatu siang dia duduk disebelahku. Semua cubicle siang itu penuh, hingga ia harus menunggu sampai ada user yang log out.

“Iseng aja, hitung-hitung menambah teman” jawabnya santai sambil menghisap rokok mild nya. Aku hanya menggelengkan kepala. Bertahun-tahun aku menjadi operator warnet, dan aku tahu betul seperti apa teman yang akan didapat dari dunia MiRC. Semua orang yang lama bergelut di dunia warnet tahu, bahwa lebih dari separuh chatters di MiRC tidak sepenuhnya berniat mencari teman yang benar-benar teman. Memang ada yang serius mencari teman talam arti yang sebenarnya, tetapi kebanyakan mereka mencari teman untuk bercinta. Aku serius, di dunia MiRC laki-laki dan perempuan akan sama abu-abunya. Kalian akan mengetahui apakah dia bisa diajak bercinta atau tidak setelah basa-basi yang cukup panjang dimulai dari Asl, pls?* hingga kemudian kelamaan obrolan meyinggung soal sex. Chatters yang benar-benar mencari teman dalam arti yang sebenarnya, biasanya akan risih dengan obrolan topic ini. Mereka akan meminta untuk mengganti topic pembicaraan lain atau langsung meng-iqnore chatter tersebut. Tetapi jika chatter tersebut enjoy dengan obrolan tema sex, ini biasanya menjadi angin segar bagi Chatter-Chatter yang yang memang mencari pasangan untuk bisa diajak bercinta. Tidak lama kemudian, biasanya mereka akan membuat janji untuk kopi darat.

 “Permisi, mas” Seorang pria tiba-tiba sudah berdiri di sebelah mejaku. Tubuh tingginya memakai kaus oblong putih yang dibungkus jaket jeans hitam dan celana jeans biru, wajahnya cukup segar untuk ukuran waktu jelang tengah malam seperti ini. Kutaksir, ia memang golongan lekaki kekelawar yang tidur disiang hari dan berkelana dimalam hari.

“Silahkan pilih saja, mas. Banyak yang kosong” tawarku kepadanya.

“Oh tidak, mas. Saya cuma permisi untuk bertemu dengan seorang teman” ujarnya kemudian sambil mengangkat telapak tangannya dan sedikit membungkuk tanda permisi. Ehm, sopan juga ternyata pemuda ini.

“Oh, kalau begitu silahkan, mas” ucapku kepadanya. Pria itu lalu menyusuri lorong cubicle sambil memperhatikan satu persatu nomor yang tertera di depan cubicle. Cuma ada 2 user di smoking room, dan sudah kuduga ia akan berhenti di cubicle nomor 10. Cubicle Clara. Sayup-sayup aku mendengar mereka berbicang sebentar. Tidak lama kemudian, window Billing nomor 10 pada layar monitorku telah berwarna merah, pertanda Clara telah log out. Merekapun berjalan kearahku sambil bercengkarama renyah.

“Berapa, mas?” tanya pemuda itu ketika tiba dimejaku.

“Lima ribu lima ratus” jawabku. Pemuda itu lalu menyerahkan selembar uang kertas sepuluh ribuan kepadaku. Aku lantas memberinya kembalian uang tersebut.

“Jangan sampai ketiduran, ya!” Goda Clara sebelum berlalu menghilang dibalik pintu. Aku hanya menyengir menanggapinya.

Seperti itulah Clara. Aku sudah tidak heran melihat dia di jemput seorang pria seperti itu. Besok tinggal menunggu di bercerita apakah apakah pemuda itu mahasiswa arsitek, sastra, ekonomi atau hukum. Tinggal tahu apakah pemuda itu orang jawa, Kalimantan atau sumatera. Lalu Clara tidak akan pernah ketinggalkan memberikan penilaian tentang kemapuan sexualnya. Apakah dia impoten, pengidap ejakulasi dini, atau yang kuat diajak main berkai-kali. Tidak ketinggalan, ia akan berkomentar tentang ukuran kemaluan si pemuda tadi. Apakah sekecil caring atau sebesar anaconda.

Tetapi jangan salah duga, Clara bukanlah gadis penjaja sex komersial yang menjadi dunia maya sebagai target marketnya (Pernah baca novel ‘Sex in Chatting’ karya Ruwi Meita’?). Memang ada beberapa perempuan penjaja sex yang menjadikan MiRC dan Yahoo Messenger sebagai tempatnya mencari pelanggan. Tetapi biasanya tanpa basa-basi mereka akan langsung blak-blakan soal tariff, tempat kencan, dan lain-lain.

Nah, Clara bukan typical perempuan yang seperti itu. Suatu hari, Clara pernah bercerita kepadaku bahwa ia melakukan semua itu semata hanya untuk bersenang-senang. Hanya untuk mengusir kepenatannya dan membuang semua sejenak kegalauan hidupnya. Entahlah, mungkin bagi Clara minum soda gembira dan minum racun rumput sama menyenangkannya. Belakangan aku mengetahui bahwa jalan hidup Clara ternmyata tidak semolek dan semulus tubuhnya. Suatu hari Ia pernah bercerita kepadaku bahwa ia hidup dalam keluarga yang broken home. Sejak kecil, ia sudah menjadi langganan kekerasan papanya. Mamanya tidak pernah mengurusinnya. Kakak laki-laki satu-satunya yang seharusnya ia andalkan, belakangan malah terjerat kedalam jurang narkotika. Hidupnya benar-benar terlunta-lunta. Hingga akhirnya pamannya menawarkan untuk mengkuliahi dirinya di Jogja. Clara mengambil tawaran itu meskipun ia sebenarnya tidak berniat untuk kuliah. Tertapi setidaknya, ia punya alasan yang bagun untuk meniggalkan rumah dan lepas dari hingar bingar yang menyakitinya.

mirc_vcdnmpg

“Kupikir kau hanyalah kesepian, Clara. Carilah pacar yang benar-benar serius denganmu, lalu sudahi petualanganmu di dunia MiRC” Saranku ketika itu kepadanya. Siang hari, smoking room sedang penuh-penuhnya. Semua users menghisap nikotin yang menyebabkan seluruh ruangan penuh kabut asap dan menjadi samar. Dua buah exhaust fan yang kunyalakan dengan kecepatan penuh tak kuasa membuang kepulan asap itu. Smoking room persis ruangan ditengah awan.

“Pacar?” Clara malah terkekeh. Aku menggaruk-garuk kepala, entah dimana letak kelucuan saranku.

“Itu saran yang buruk. Aku sudah mencobanya. Pacaran adalah konsep hubungan yang paling konyol yang pernah kucoba. Puncaknya tetap saja pada sex, dan aku harus tuntuk pada aturan-aturan orang lain yang kadang tidak masuk akal bagiku. Pacaran hanyalah cara memasangkan kaki dan tangan sendiri kedalam pasung yang jelas-jelas akan mengekang diriku sendiri. Tidak, tidak !” Clara menggelengkan kepalanya dengan keras. Aku juga menggelengkan kepala. Bingung dengan pemahamannya akan konsep pacaran.

***

                Lagi jaga ?

     From : Clara

     Sebuah pesan masuk ke ponsel Siemens C35 –ku. Dari Clara.

                Iya, lagi jaga

     Sent  to : Clara

     Aku membalas singkat.

                Aku kesana.

     From : Clara

     Clara membalas lagi. Jam di ponsel menampilkan pukul  3:39 dini hari. Aku menarik nafas, menggelengkan kepala. Dasar Clara.

                Selang lima belas menit kemudian terdengar suara motor dengan knalpot yang sangat berisik. Ada obrolan kecil antara seorang lelaki dan perempuan. Dan aku mengenali suara perempuan itu. Clara.

                “Hai.., kos-kosanku sudah dikunci. Jadi bolehkah aku menunggu matahari terbit disini?” Mengenakan kaos putih ketat yang dibalut cardigans merah muda dan celana jeans biru dongker, seketia ia sudah tiba di depan pintu. Pasti ia habis ketemuan dengan lelaki MiRC nya.

                “Duduk sini” Aku menepuk sofa tunggu disebelahku. Ia pun melangkah dengan gegas dan menjatuhkan pantatnya dengan keras di sofa sebelahku, menyandarkan kepalanya di dinding lalu menarik nafas panjang.

                “Dari mana saja?” tanyaku memulai obrolan.

                “Cuma makan, trus ke kos-kosan dia di jalan kaliurang”  ia menjawab sembari menguap. Kelopak matanya yang sayu menegaskan bahwa ia sedang mengantuk berat.

                “Ngapain aja di kos-kosannya?”  sebenarnya aku tidak perlu menanyakan hal itu, karena aku sudah tahu pasti apa yang mereka lakukan di kos-kosan. Aku hanya ingin mengajaknya ngobrol agar ia tidak mengantuk. Tapi belum sempat menjawab, kepalanya sudah bersandar di bahuku. Hanya terdengar desah nafasnya yang letih. Aku lalu memapahnya ke Cubicle 1 yang paling dekat denganku. Di sofa cubicle kemudian ia meringkuk dengan kaki tertekuk. Sejenak aku memandangi wajahnya yang halus. Tahi lalat halus di bawah matanya sebelah kiri, rambut-rambut halus poninya yang tergerai menutupi separu kening. Ada tahi lalat lagi di sebelah kiri lehernya yang jenjang. Posisi tidurnya yang menghadap samping membuat membuat kedua dadanya yang padat menumpuk dan membentuk sebuah belahan indah. Pada perut posisi lambung yang tersingkap, ada sebuah tatoo kecil bergambar cupido.  Aku menelan ludah. Buru-buru kulepaskan sweaterku dan kuselimutkan ke tubuhnya. Entah darimana doa itu terucap, tetapi sungguh aku sangat ingin menyelamatkan perempuan cantik yang sedang tertidur di hadapanku ini.

***

                Lama kemudian aku tidak melihat Clara main ke warnet. Ingin rasanya mengirim pesan ke ponselnya menanyai khabar, atau main ke kos-kosannya sekedar mampir bersua sebentar. Tapi aku malu melakukannya. Sahabatku Budi yang juga operator warnet pernah menyarankan kepadaku untuk menjadikan Clara kekasih saja. Menurutnya, Clara hanya butuh orang yang benar-benar peduli padanya, orang yang benar-benar bias membuatnya nyaman dan dilindungi. Bukan orang yang hanya ingin menikmatinya. Lagian menurut Budi, Clara juga sepertinya menyukaiku. Karena diantara operator warnet, Clara hanya akrab denganku. Sejujurnya, sudah lama memang aku merasa ada yang salah dengan perasaanku. Muncul keinginan untuk dekat lebih jauh dengan Clara. Tiba-tiba aku ingin memberikan sandaran untuknya. Memberikan kenyamanan yang sebenarnya ia butuhkan. Aku ingin menjadi orang yang selalu melindungi dia. Atas saran Budi dan pertimbangan perasaanku sendiri, maka aku berniat untuk membicarakan ide ini dengan Clara begitu aku bertemu dengannya nanti.

                “Heh ! Jangan melamun. Masih ngantuk ya?” Koh Liong, teknisi warnet menepuk bahuku. Tidak terbiasa jaga pagi membuatku mataku sangat berat. Pukul 9 : 13 pagi, artinya baru satu jam aku bekerja, tetapi entah mengapa rasanya lama sekali. Aku ingin matahari lekas tinggi, karena biasanya Clara datang dising hari atau malam hari. Tidak pernah dipagi hari. Sudah tidak sabar rasanya aku ingin mengutarakan perasaan dan niat baikku kepadanya.

                “Sudah baca Koran pagi ini?” Koh Liong kembali mengampiriku setelah ia mengecek server.

                “Belum. Aku tidak pernah membaca Koran. Memang ada berita penting, koh?” Aku bertanya balik.

                “Entahlah, ini cuma perasaanku atau memang dia user kita. Bacalah halaman paling belakang” Koh Liong melempar sebuah Koran harian ke meja lalu berlalu pergi.

                Pensaran, aku buru-buru menggapai Koran tersebut dan membalik halaman paling belakang yang ternyata bagian nerita criminal.

“Seorang Perempuan Muda Ditemukan Tewas di Sebuah Hotel Melati di Daerah Umbulharjo”

                Begitu bunyi Headline berita kriminal tersebut. Ada sebuah foto perempuan yang tergeletak di lantai kamar yang sudah di sensor. Dalam berita tersebut disebutkan bahwa kroban ditaksir berusia sekitar 22 tahun dan memiliki tatoo malaikat kecil memegang anak panah di bagian perut. Aku tercekat membacanya. Dari foto yang meskipun sudah di blur mirip sekali dengan postur tubuh Clara. Dalam Koran tersebut diberitakan bahwa korban ditengarai menjadi korban perkosaan seorang maniak sex dengan beberapa luka pada bagian alat vital dan lainnya.

                Kuraih Siemens C35-ku dan segera menelfon Clara, manun nomor ponselnya sudah tidak aktif lagi. Lemas. Seluruh tulangku serasa runtuh ke tanah. Kusandarkan kepalaku di meja dan kuremas Koran tersebut. Air mataku tiba-tiba mengalir sederas-derasnya.

Maafkan aku Clara.

***

*Asl, Pls?  : Age, Sex, Location Please. Bisanya digunakan untuk sapaan di dalam MiRC.

Ditulis hanya untuk mengenang. Bahwa dulu penulis bersama seorang sahabat bernama Budi pernah bekerja sebagai operator warnet, pernah bermain MiRC dan Yahoo Messenger dan pernah menggunakan ponsel Siemens C35.

Iklan

Tentang Funky Tri Doretta

Simple Ordinary Boy
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s