REX : Ulasan Buku

“Aku mencintaimu” kataku

“Kau bicara pada hujan?”

Selorohnya itu membuat aku agak terperangah.

“Kuperhatikan setiap turun hujan, kau selau menyatakan cinta. Aku masih ingat, kamu dari Jakarta pernah mengirimiku pesan, it’s raining here and I’ve been missing you. Jangan-jangan kamu cuma jatuh cinta pada hujan, bukan padaku” lanjutnya.

-Somerset, Bre Redana.

rex

Banyak teman-teman yang bertanya, mengapa buku  REX karya om Bre Redana ini selalu ada di dalam tas saya. Apa nilainya buat saya, sehingga buku ini selalu saya bawa kemana-mana. Saya masih ingat ketika saya menemukan buku ini di bazaar cuci gudang Gramedia Raden Intan, Bandar lampung di awal tahun 2012 lalu. Buku ini, saya tebus dengan mahar bahkan tidak sampai sepuluh ribu rupiah.

Om Bre sendiri saya kenal pertama kali setelah membaca cerpennya yang berjudul ‘Kota Yang Menyenangkan’ yang juga ada di dalam buku kumpulan cerpen ini. Percayalah, saya menyelesaikan membaca buku yang berisi 14 cerita pendek ini hanya dalam sekali duduk bersama secangkir kopi hitam.

Banyak para pengikut-pengikut cerpen Om Bre yang sebenarnya kecewa dengan buku ini. Kurang menggigit dan kurang mengena. Masih jauh lebih menarik menghabiskan ‘Urban Sensation’  yang terbit sebelumnya. Entahlah mengapa banyak orang yang berpendapat seperti itu, apakah karena ‘Urban Sensation’ lebih banyak mengupas soal sensualitas metropolitan yang mungkin lebih mempresentasikan dan mewakili banyak kisah kaum masyarakat perkotaan? Entahlah.

Kembali ke REX. Dibalik kekosongan yang dinilai banyak orang, saya sendiri menilai buku isi ini sangat ringan. Seringan bobot dan ukurannya yang hanya 11×16 cm dengan tebal tidak lebih dari 152 halaman. Itulah salah satu alasan mengapa saya suka membawa buku ini kemana-mana. Ia begitu ringkas. Bisa dimasukan kedalam tas apapun juga termasuk saku jaket, sehingga memudahkan saya membacanya dimanapun. Ringan. Seringan obrolan-obrolan antara laki-laki dan perempuan yang mendominasi sepanjang 14 cerita pendek di dalam buku ini. Saya suka cara-cara Om Bre menghadirkan dialog-dialog di setiap cerita dalam buku ini. Santai namun berbobot, dialog-dialog antara laki-laki dan perempuan yang cerdas namun tidak bikin kening mengkerut.

Saya juga suka cara Om Bre mendeskripsikan suatu tempat kedalam sebuah cerita. Cara Om Bre menggambarkan setting cerita dalam beberapa cerpen di buku ini membuat saya seperti melihat sebuah sketsa sebuah tempat. Dalam cerpen ‘Dan Daun-daun Berterbangan..’ dan ‘Somerset’ misalnya, saya benar-benar merasakan seperti sedang ikut duduk bersama tokoh di Leicester Squre atau berjalan di tengah gerimis ke Somerset. Sensasi serupa saya rasakan ketika Om Bre mendeskripsikan setting dalam cerpen ‘Kota Yang Menyenangkan’; ‘Ciawi Junction’ atau ‘Indrakila’. Saya pikir, inilah salah satu kekuatan Om Bre dalam buku ini.

Singkatnya, saya menilai REX adalah bacaan yang ringan namun berisi. Tidak perlu repot membawa buku ini, seperti tidak perlu bersusah payah mencerna apa yang coba disampaikan oleh penulis dalam setiap ceritanya.

  ***

 

Iklan

Tentang Funky Tri Doretta

Simple Ordinary Boy
Pos ini dipublikasikan di Resensi buku. Tandai permalink.

Satu Balasan ke REX : Ulasan Buku

  1. Ihan Sunrise berkata:

    Penggalan di Somerset itu bikin penasaran 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s