THE LUNCHBOX

lunchbox_ver3

 “Tidak ada lahan yang paling subur bagi cinta untuk tumbuh selain jiwa-jiwa yang kesepian”

Saya sejujurnya tidak begitu suka film India, meskipun sedari saya masih kanak-kanak, stasiun-stasiun televisi kita sudah menyodorkan drama khas bolywood ini. Tidak banyak film India yang saya ketahui selain My Name is Khan, The Fans, atau beberapa film Amir Khan seperti 3 Idiots dan Taare Zaamen. Kalau pada akhirnya saya menonton film The Lunch Box yang akan saya ulas ini, itu tidak lain karena tema filmnya ada kaitannya dengan kuliner. Dan saya, selalu tertarik dengan film-film yang menyentil dunia makanan.

Sebelum memulai lebih jauh, saya katakan diawal  kepada kalian para penggemar film Bolywood, jangan berharap menemukan actor dan artis yang tampan dan cantik-cantik disini. Jangan harap ada adegan lebay, polisi yang selalu datang terlambat, nyanyian atau tarian khas Bolywood. Semua itu tidak akan ada dalam film ini. Tetapi justru disitulah letak menariknya film ini, karena di dalam film ini kalian akan menemukan potret kehidupan sesungguhnya dari tanah hisdustan tersebut.

Ceritanya di Mumbai, ada sebuah jasa pengantar makan siang bernama dabbawala. Konon dabbawala ini katanya tergabung dalam sebuah organisasi dengan sistem pendataan yang benar-benar efisien sehingga memungkinkan mereka mengantar makan siang tepat waktu dengan memanfaatkan berbagai macam jenis transportasi. Jadi konsepnya, ;para dabbawala ini akan menjemput makan siang yang yang dimasak para ibu-ibu atau restoran, mengantar makan siang tersebut ke tujuan lalu langsung mengantar kembali rantan-rantang kosongnya ke tempat semula pada hari yang sama. Begitu luar biasanya sistem yang dipakai, pihak Harvard pun pernah sampai tertarik menelitinya.

Nah, dengan menggunakan jasa dabbawala ini lah Ila (Nimrat Kaur) mengantarkan makanan untuk suaminya, dia belajar khusus dari auntie, sang tetangga yang tinggal se-apartement dengannya untuk membuat masakan terlezat agar bisa menyenangkan suaminya. Disinilah takdir itu bermula, rantang yang dikirimkan Ila lewat jasa dabbawala malah menyasar ke Saajan Fernandez (Irrfan Khan), seorang pegawai kantor pajak yang sudah mau pensiun. Sebaliknya, makan siang catering dari restoran yang dipesan oleh Fernandez malah menyasar ke suami Ila. Pendeknya, rantang mereka ini tertukar.

Menyadari rantang untuk suaminya tertukar, Ila berinisiatif untuk menyurati orang yang menerima dan menghabiskan masakannya. Surat yang kemudian dibalas oleh Fernandez. Dari komentar-komentar soal masakan Ila, komunikasi mereka lewat surat ini kemudian berlanjut lebih jauh.  Ferandez kerap bercerita tentang hal-hal yang ditemuinya sehari-hari. Ila bercerita tentang kehidupannya, tentang suaminya yang dingin, tentang Auntie Deshpande tetangganya yang menjadi mentor memasak sekaligus penasehat rumah tangganya. Begitu terus surat menyurat itu terjadi dengan perantara rantang makanan yang dikirim oleh Ila. Mereka saling bertukar cerita tentang apa saja, tentang masa lalu, masalah, sampai rencana masing-masing kedepannya.

Seperti yang saya katakan di baris pertama ulasan ini, tidak ada lahan yang paling subur bagi cinta untuk tumbuh selain jiwa-jiwa yang kesepian. Ila telah lama merasakan kehambaran dan sikap dingin suaminya, ia bahkan mencurigai bahwa suaminya telah berselingkuh darinya. Sementara Fernandez telah lama hidup sebatang kara semenjak isterinya meninggal dunia. Mereka tidak bisa menghkhianati bahwa komunikasi yang intens diantara mereka melalui surat-surat rantang telah membuat mereka saling mengisi kesepian dan kekosongan masing-masing, menumbuhkan benih-benih cinta diantara mereka berdua. Cinta memang begitu ajaib, mereka bisa tumbuh dengan media apa saja, bahkan pada orang yang tidak pernah djumpai sekalipun.

the-lunchbox-film

Selain mengekplorasi perasaan karena ikut deg-degan setiap kali melihat Fernandez berharap-harap cemas saat dabbawala mengantarkan rantang ke meja kerjanya, ikut tidak sabar untuk melihat Fernandez begitu menikmati masakan Ila, saya juga dibuat merasakan pilu kehidupan masing-masing mereka melalui adegan-adegan yang dibuat begitu satir dengan menyaksikan kesepian-kesepian Fernandez di rumah tuanya, atau keacuhan suami Ila yang menggores hati. Sungguh ini adalah film tentang mereka yang tengah berada dalam fase berat hidupnya akibat kesendirian dan kesepian. Sesuatu yang kembali mengingatkan kita bahwa kita adalah mahluk sosial yang tidak ditakdirkan untuk sendirian.

Disisi lain, saya menemukan banyak keunikan di dalam film ini. Selain kepiawaian para dabbawala dalam proffesionalisme mereka menjadi kurir rantang makan siang yang sangat menarik, juga keteguhan Ila dan Fernandez dalam menjadikan surat sebagai media komunikasi mereka. Bayangkan dijaman seperti ini, jika saya menjadi salah satu dari mereka sudah pasti saya cukup menyurati satu kali saja dengan menanyakan no HP. Selanjutnya komunikasi akan berlanjut pada media teknologi digital. Lebih cepat, tidak perlu repot-repot  menulis di kertas. Sosok-sosok dibelakang Ila dan Fernandez juga sangat menarik untuk diperhatikan. Ada Auntie Deshpande yang sepanjang film tidak pernah terlihat sosoknya, hanya suara saja. Atau Shaikh (Nawazuddin Siddiqui), Seorang pemuda pekerja keras yang akan menggantikan posisi Fernandez selepas pensiunnya.Dan tentu saja, hal yang sejak awal menarik saya untuk menonton film ini : Kuliner khas India masakan Ila yang sangat menggugah selera.

the-lunchbox-014

Seperti yang saya sampaikan di awal, film ini akan menyuguhkan kalian potret sesungguhnya kehidupan khas India sebagai negara dari dunia ke-3. Lalu lintas yang sembrawut, Transportasi umum yang kacau balau, pedagang kaki lima sampai pengamen hingga ritual pernikahan India  akan tergambar jelas dalam adegan demi adegan. Sebuah hal yang jarang ditemui pada film-film Bolywood lainnya.

Pada endingnya film ini seperti memberikan kesempatan kepada penonton untuk menyimpulkan sendiri akhir dari romantisme surat-menyurat Ila dan Fernandez. Secara keseluruhan saya akan mengatakan film ini simple namun sangat mengena, membuat penonton sangat menikmati setiap adegannya. Selamat menonton.

Iklan

Tentang Funky Tri Doretta

Simple Ordinary Boy
Pos ini dipublikasikan di Resensi Film, Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke THE LUNCHBOX

  1. warmpastel berkata:

    ciye yang nonton indiaa. jadi pngn nonton ane gan. hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s