Manisnya… (Kopi & Cerita Teman)

Dari Sahal bi Sa’ad, ada sebuah kisah pada jaman Rasullulah. Suatu hari, seorang sahabat berkata kepada Rasul, “Wahai Rasullulah, nikahkanlah saya dengan wanita itu” Ucapnya sambil menujuk kepada salah seorang wanita yang juga berada dalam satu majelis bersama mereka. Rasullullah lantas bertanya “Apakah kamu memiliki sesuatu?” Sahabat itu menjawab “Tidak ya Rasullullah!” Rasullullah lantas berkata “Pulanglah ke keluargamu dan lihatlah apakah kamu mendapatkan sesuatu?”

Pulanglah sahabat itu, lalu kembali lagi dan berkata”Demi Allah aku tidak mendapatkan sesuatu di rumah.” Rasullullah SAW lalu berkata “Cari lagi walaupun hanya sebuah cincin besi” lalu sahabat itu pulang dan kembali lagi seraya berkata “Demi Allah tidak ada wahai Rasullulah, walaupun sebuah cincin dari besi. Kecuali kain sarung milikku ini”

Rasullullah lantas bertanya, “apakah kamu bisa membaca Al-Qur’an?” Sahabat tersebut menjawab “Saya bisa membaca surah ini, ya Rasullullah” sambil menebutkan nama-nama surah yang bisa dibacanya satu per satu. Rasullullah lantas bertanya kembali “Apakah kamu menghafalnya?” Sahabat tersebut menjawab “Ya” lalu Rasullulah bersabda “Nikahilah wanita itu dengan mahar mengajarkan sudah Al-Qur’an yang kamu hafal”

Lain cerita ketika Ali bin Abi Thalib hendak melamar Fatimah putri Rasullullah SAW. Dari hadist riwayat Ummu Salamah, diceritakan bagaimana proses lamaran tersebut.

“Ketika itu kulihat, wajah Rasullulah nampak berseri-seri. Sambil tersenyum Rasullulah bertanya kepada Ali, “Wahai Ali, apakah engkau mempunyai bekal sebuah mas kawin?””

“Demi Allah” jawab Ali bin Abi Thalib dengan terus terang “Engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku. Tidak ada sesuatu tentang diriku yang tidak engkau ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta”

“Tentang pedangmu itu”, Kata Rasullulah menanggapi Ali bin Abi Thalib. “Engkau tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah. Dan Untamu itu juga engkau perlukan untuk keperluan mengambil air untuk keluargamu dan juga engkau memerlukan untuk perjalanan jauh. Oleh karena itu, aku hendak menikahkan engkau dengan mas kawin sebuah baju besi. Aku puas menerima barang itu darimu. Wahai Ali, engkau wajib bergembira,  sebab Allah sebenarnya sudah menikahkanmu lebih dulu di langit, sebelum aku menikahkan engkau di bumi”

Maka menikahlah Ali dengan Fatimah.  Pernikahan mereka penuh hikmah walau diarungi di tengah kemiskinan. Bahkan disebutkan Rasullullah sangat terharu melihat tangan Fatimah yang kasar karena  harus menepung gandum untuk membantu suaminya.

Dua cerita diatas adalah kisah bagaimana sebenarnya Islam sangat mempermudah pernikahan. Sebenarnya masih banyak cerita lainnya lagi, ada sahabat Rasul yang menikah dengan mahar sepasang sandal, ada juga yang menjadikan keislamannya sebagai mahar . Lebih jauh lagi di dalam Al-Qur’an surat Al Qhashas diceritakan bagaimana proses pernikahan Nabi Musa, ini lah satu satunya cerita pernikahan yang dikisahkan di dalam Al-Qur’an. Nabi Musa ketika itu tidak memiliki apapun sebagai mahar. Bagaimana bisa Beliau memiliki mahar, sementara Beliau sendiri adalah pengembara miskin, buronan dari Firaun. Tetapi  Nabi Syu’aib yang kemudian menjadi mertuanya mengganti mahar tersebut dengan meminta Nabi Musa bekerja dengannya selama 10 tahun.

 kopi1

Mudah sekali memang jika kita menikah dengan pendekatan-pendekatan dan tuntunan-tuntunan agama.

Tetapi Lihatlah, dihadapan saya sekarang duduk seorang pemuda tampan, bekerja dan terkenal ramah nan baik hati. Tetapi sayang, dia sedang patah hati. Cukup terlihat dari banyaknya puntung rokok dan cangkir kopi arabika gayo yang sudah tidak ada sisanya lagi. Bagaimana tidak patah hati, jika pernihakan yang telah direncanakannya sejak setahun silam bersama pasangannya harus kandas di tengah jalan. Tidak sampai ketujuan. Ketidaksepakatan keluarga perihal mahar atau mas kawin, menjadi penghadang niat teman saya ini untuk mengikat kekasihnya kedalam ikatan suci dan abadi. Mahar yang ditepkan oleh pihak kekasihnya  dinilainya terlalu tinggi untuk dia jangkau. Sedang ia hanya buruh kontrak yang bergaji tidak seberapa. Yang meskipun selama berpacaran selama empat tahun dia sudah menyisihkan uang menabung untuk menikah, pun tidak cukup untuk memenuhi mahar yang telah ditetapkan oleh keluarga kekasihnya.

Negosiasipun telah dilakukan berkali-kali untuk menemukan jalan keluar yang terbaik menuju niat yang baik ini. Namun keluarga kekasihnya tetap bersih kukuh pada pendirian mereka. Mereka beralasan, di dalam adat mereka mahar adalah simbol kehormatan dan gengsi. Baik bagi keluarga wanita maupun keluarga lelaki. Bagi pihak wanita, tingginya nilai mahar menunjukan edudukan sosial keluarga wanita tersebut. Nilai mahar tersebut ditentukan berdasarkan tingkat pendidikan yang dienyam, kemampuan ekonomi, keturunan bangsawan juga dari kecantikan. Semakin tinggi tingkat variable yang disebutkan tadi, semakin tinggi juga nilai mahar yang ditetapkan oleh keluarganya. Bagi pihak laki-laki, memenuhi nilai mahar yang telah ditetapkan oleh pihak perempuan juga merupakan sebuah kehormatan. Akan lebih terhormat lagi, jika ia bisa memberikan lebih dari permintaan keluarga perempuan.

Tetapi apa mau dikata, mencukupi permintaan keluarga kekasihnyapun tabungan teman saya tidak cukup, apalagi hendak memberi lebih banyak daripada permintaan itu.

“Mungkin bisa jika aku menabung 5 atau 10 tahun lagi” ucapnya sambil mengangkat cangkir kopi yang telah kosong. Saya memanggil pelayan, memesan kembali secangkir kopi gayo untuknya dan secangkir kopi toraja yang disajikan dengan Vietnam drip untuk saya.

“Tapi ketika itu aku mungkin sudah berusia 40 tahun lebih” sambungnya sembari menyalakan sebatang rokok lagi.

“Aku juga bisa saja meminjam uang untuk mencukupi permintaan keluarganya. Mungkin aku bisa menggadaikan sertifikat tanah orang tuaku. Tetapi itu akan menyulitkan kehidupan kami selanjutnya, karena kami akan hidup dalam bahtera hutang” Ia menambahkan lagi.

Pelayan datang dan meletakkan secangkir kopi gayo yang masih mengepulkan asap juga kopi toraja dalam Vietnam drip. Tanpa menambahkan gula teman saya langsung menyeruput dengan hati-hati kopi gayo tersebut. Saya masih menunggu dripper meneteskan sedikit demi sedikit kopi toraja kedalam cangkir yang telah ditunggui susu kental manis.

Masalah mahar ini, memang manjadi pelik pada dareah-daerah tertentu. Disatu sisi, di dalam agama islam mahar memang diwajibkan bagi laki-laki yang hendak menikahi seorang perempuan. Hal ini ditunjukan oleh firman Allah dalam surat An-nisa  ayat 4 “Berikanlah mahar kepada wanita-wanita yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan”. Islam memperbolehkan mahar dengan sebuah cincin besi, sebutir kurma atau mengaajarkan Al-Qur’an kepada pasangannya.yang penting pasangan tersebut rela dan reda atas mahar tersebut.

 Namun dalam perkembangannya pada beberapa daerah, mahar ini kemudian menjadi adat yang kemudian nilai-nilai keluhurannya diambil dari masa lalu dan dijadikan parameter bagi generasi-generasi selanjutnya. Pernikahan tidak lagi menjadi ritual agama semata, tetapi juga menjadi ritual adat dan budaya. Selain tuntutan agama, ada tuntutan-tuntutan adat yang harus diindahkan. Disinilah kemudian nilai-nilai mahar itu bergeser makna dan jumlahnya.

Padahal dalam hadist riwayat Ahmad, Rasullulah bersabda “Pernikahan yang paling besar berkahnya itu adalah pernikahan yang paling murah maharnya”. Meskipun memang Rasullulah menganjurkan pihak laki-laki untuk memberikan mahar terbaik seperti pada sabdanya “Sebaik-baiknya laki-laki adalah yang memberikan mahar yang banyak” Namun lanjut Rasullulah “Sebaik-baiknya wanita adalah yang meminta mahar sedikit”. Inilah sesungguhnya pernikahan yang dianjurkan oleh Rasullulah. Ada win-win solution disini, sehingga tidak ada pihak yang diberatkan untuk melanjutkan niat yang suci.

“Sisi baiknya dari kegagalan pernikahanku ini, adalah menceritakan semuanya kepadamu. Sahabatku yang juga belum menikah” Ucapnya setelah mengisap rokok yang dalam. Saya menurunkan dripper dari atas cangkir yang sudah penuh terisi. Hitam dan putih terlihat berlapis di dalam cangkir saya. Kopi dan susu. Pahit dan manis.

“Jadi kamu bisa mengambil pelajaran berharga dari pengalamanku” Lanjutnya sambil menyeruput lagi kopi gayo tanpa gula dari cangkirnya. Terlintas tanya didalam benak saya tiba-tiba, apakah kopi tanpa gula yang diseruputnya itu tidak pahit? Hmm, tetapi sepertinya ada yang lebih pahit yang tengah dirasakan oleh teman saya ini.

“Persiapkan pernikahan kamu sebaik mugkin dari sekarang, Fungky. Persiapkan uang yang banyak. Karena kamu tidak akan tahu seberapa banyak keluarga pasanganmu nanti meminta mahar darimu”

Saya mengangguk pelan sambil mengaduk gelas kopi. Menyatukan pahit dan manis. Teman saya beberapa kali menghembuskan nikotinnya dengan kencang. Ada semacam kelegaan saya rasakan keluar dari dadanya melalui asap-sap putih itu.

“Tetapi lebih dari semua itu, Fungky” ia menatap saya dengan serius. “Aku berharap kamu menemukan pasangan yang bersedia menerima kamu apa adanya” tutupnya dengan menyeruput kembali kopi gayonya. Saya kembali mengangguk, mengamini, mengangkat untuk kali pertama kopi  toraja yang telah bercampur dengan susu.

“Pahit?” Tanya saya akhirnya ketika ia memungkaskan kopi gayonya.

“Cukuplah untuk membuat mata tetap melek” Jawabnya sambil mengemasi rokoknya, memasukannya kedalam saku jaketnya.

“Tapi ada manisnya juga” lanjutnya sambil menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan kepada pelayan yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari kami.

“Manisnya, mulai sekarang aku bisa mencari yang lebih manis lagi.” Tutupnya dengan tawa yang lepas. Sebentar kemudian ia sudah berlalu dengan sepeda motornya menembus malam yang semakin meninggi.

Saya masih terdiam di hadapan secangkir kopi toraja. Mulai menyesap sedikit demi sedikit pahit dan manisnya.

Mmm.., ternyata tidak kalah pahit dengan cerita teman saya tadi.

 

Iklan

Tentang Funky Tri Doretta

Simple Ordinary Boy
Pos ini dipublikasikan di Cerita Inspirasi. Tandai permalink.

2 Balasan ke Manisnya… (Kopi & Cerita Teman)

  1. Ihan Sunrise berkata:

    masalah mahar ini memang masalah klasik yang nggak pernah ada jalan keluarnya :-D….

  2. warmpastel berkata:

    Ya wes.. sudah jalannya. Allah kasih jalan sakit dulu.. smga nanti dikasih rezeki jodoh yang baik di mata Allah agar semua dilancarin termasuk urusan mahar. Gw yakin kalo emang Allah kasih redho, masalah apa aja ada solusinya. dan yakin aja gak semua wanita minta mahar mahal. nah tinggal kita aja siapin diri jadi manusia yang baik dimata Allah biar dikasih istri dengan ilmu nya sdh smpe sana. amiin … semangat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s