Berjalan dengan 2 Kaki

“Love your job. But Never fall in love with your company!”

Pak Hendry, namanya. Pria berusia sekitar 40 tahunan yang merupakan manager sebuah perusahaan financial di Baturaja. sudah sekitar 2 bulan ini, pak Hendry menjadi pelanggan tetap di Flow Kafe. Hampir setiap sore beliau datang untuk minum kopi atau memesan beberapa camilan sore. Biasanya, beliau datang bersama rekan-rekan kerjanya, bawahan-bawahannya, atau juga pernah beberapa kali datang bersama keluarganya. Tetapi kali ini, dia datang seorang diri.

Duduk sendirian di meja sudut, parasnya terlihat sangat kusam dari biasanya. Wajah yang biasanya tidak pernah lepas dari tawa, senyum dan sapa yang ramah itu seolah tertutupi oleh kabut mendung yang pekat. Sebuah refleksi, bahwa awan mendung pula tengah menggantung didalam benaknya. Dengan pandangan kosong ia menatap hilir mudik kendaraan yang melintas di tengah jalan. Tangannya tiada henti mengapit ujung filter rokok, sementara kopi lampung diatas mejanya sudah habis setengah dan menjadi dingin.

Melihatnya berkabut mendung seperti itu, saya berinisiatif untuk duduk menemaninya. Sebagai seorang pelanggan dan pemilik kedai kopi yang hampir setiap hari bertemu, diantara kami memang hampir sudah tidak ada lagi sungkan. Pak Hendry dan saya sudah seperti teman dekat. Dan bukankah sudah tugas seorang teman untuk mengusir kabut pekat diwajah temannya? Dan ketahuilah, satu-satunya cara untuk mengusir kabut pekat diawah temanmu adalah dengan membiarkannya bercerita. Memancingnya untuk mengeluarkan seluruh mendung itu dari benaknya. Lalu kau, hanya perlu mendengarkan tanpa perlu menyela.

“Tumben pak, sendirian?” sapa saya berbasa-basi sembari meletakkan sepiring kentang goreng dan secangkir kopi diatas meja. Sayapun menarik kursi tepat dihadapannya.

“Iya nih, mas. Manusia kalau lagi ada masalah, jarang ada yang mau menemani. Tapi kalau lagi seneng-seneng, pasti banyak yang datang menghampiri” jawabnya seraya bercanda. Saya terkekeh, ternyata meskipun dalam keadaan yang tampak pusing, Pak Hendry tidak kehilangan selera humornya.

“Hahaha, memangnya sedang ada masalah apa sih, pak? Sampai galau seperti ini?” saya langsung memancingnya untuk bercerita.

Tidak perlu waktu banyak untuk basa-basi. Setelah menyesap kopi lampungnya yang telah dingin dan menyulut kembali sebatang nikotin, Pak Hendry kemudian bercerita kepada saya bahwa beliau tengah menghadapi masalah serius di kantornya. Sebuah kesalahan, ia lakukan tanpa ia sadari. Kesalahan tersebut cukup fatal dan sialnya perusahaan tidak mau mentolerir apapun alasan Pak Hendry. Perusahaan bahkan sudah mengancam untuk memberi sangsi. Tidak tanggung-tanggung, hukuman tersebut adalah pemecatan.

“Di perusahaan, ketika kita melakukan satu kesalahan, hancur semua reputasi dan kontribusi kita sebelumnya untuk perusahaan. Padahal, kalau mau dibandingkan, kesalahan kita mungkin belum apa-apa ketimbang kontribusi kita kepada perusahaan” keluhnya kepada saya. Ya, saya mengerti. Sebagai mantan karyawan yang pernah bekerja di perusahaan selama hampir sepuluh tahun, saya tahu persis kebijakan perusahaan.

“Sebenarnya, aku tidak masalah jika memang harus dipecat oleh perusahaan. Aku hanya mengkhawatirkan anak dan isteriku, mas. Sementara untuk mencari kerja lain bukan perkara mudah. Butuh waktu yang cukup panjang” Keluhnya lagi dengan nada lirih. Saya menarik nafas. Sensasi ketakutan itu menular pada batin saya. Kutub simpul awan mendung yang manungi wajah pak Hendry sedari tadi terkuak jua. Tidak banyak yang bisa saya sarankan kepada Pak Hendry, selain memintanya untuk tetap bersabar dan berdoa untuk diberikan jalan yang terbaik. Jika memang masih menjadi jalan rezeky Pak Hendry, Insyaallah dia masih akan dipertahankan untuk bekerja di perusahaan itu. Namun Jika memang rezeky Pak Hendry di perusahaan tersebut memang sudah sampai disini, niscaya Allah akan menunjukan jalan rezeky lain yang lebih berkah.

Tentu saja dipecat dari perusahaan adalah hal yang sangat mengerikan, terutama bagi orang-orang yang memiliki tanggung jawab besar. Orang-orang yang tidak cuma menafkahii dirinya sendiri, melainkan juga anak-isteri atau mungkin orang tua mereka. Mau diberi makan apa mereka? sementara penghasilan tiba-tiba akan terputus begitu saja. Kehilangan pekerjaan, adalah dilema utama bagi seorang karyawan. Ketakutan yang paling pertama. Ketakutan yang kemudian terkadang membuat seseorang lantasb mengorbankan apa saja untuk bertahan. Tidak jarang bahkan ada yang sampai rela merendahkan harga dirinya dimaki oleh atasaanya,  rela dipotong haknya, mempertaruhkan kesehatan dan keselamatan dirinya. Demi patuh pada perusahaan, beberapa bahkan sampai mengorbankan kewajibannya kepada Allah, swt.  Semua dilakukan hanya demi 1 motivasi : tanggung jawab kepada keluarga dan diri sendiri.

Ketakutan-ketakutan itu  juga menghantui saya sewaktu menjadi karyawan dulu. Bayang-bayang yang selalu menghantui saya setiap waktu. Bagaimana kalau saya tiba-tiba dipecat? bagaimana kalau perusahaan suatu hari nanti bangkrut lalu saya di PHK? Bagaimana jika saya sudah tidak betah lagi bekerja di perusahaan? Mau dapat penghasilan darimana saya jika perusahaan tiba-tiba memberhentikan saya atau saya tidak tahan lantas mengundurkan diri? Lama saya mencari jawaban, sampai akhirnya saya memutuskan untuk mencoba membuat keseimbangan.

Berjalan dengan 2 kaki.

Seperti itulah kira-kira filosofinya. Coba bayangkan jika tubuh kita hanya mempunyai 1 kaki, dimana 1 kaki tersebutlah yang kemudian kita andalkan untuk menopang tubuh kita. Tentu kita akan terjatuh jika kaki kita satu-satunya tersebut keseleo atau patah bukan? Itu alasannya mengapa kita diberi sepasang kaki. untuk menjaga keseimbangan tubuh kita. Setidaknya, jika satu kaki kita terluka, keseleo atau patah, masih ada 1 kaki lainnya untuk menopang tubuh kita. Meskipun mungkin limbung, setidaknya kita tidak akan terjatuh.

Berangkat dari pemikiran tersebut saya lemudian memutuskan untuk mencoba mencari pengahasilan lain selain gaji bulanan sebagai karyawan yang selama ini saya andalkan. Memberanikan diri untuk berproses dengan bisnis.  Dengan doa dan harapan, bahwa bisnis akan membawa ketenangan pada diri saya selama masih menjalani status sebagai karyawan. Tidak khawatir jika sewaktu-waktu perusahaan bangkrut. Tidak cemas jika kemudian saya harus dipecat oleh perusahaan. Apalagi bagi seorang karyawan outsourcing,  putus kontrak hanyalah masalah waktu. Cepat atau lambat.

Emang mudah memulai bisnis sambil tetap menjadi karyawan? Hehehe sudah pasti jawabannya adalah tidak mudah. Mulai dari kebingunan harus memulai dari mana?, tidak fokus, sampai merugi berkali kali. Tetapi saya berfikir berproses untuk bisnis lebih baik dimulai ketika masih berstatus sebagai Karyawan, setidaknya kalau bisnisnya merugi atau belum berhasil, perekonomian kita masih bisa ditunjang dari gaji sebagai karyawan. Karena ternyata bisnis adalah sekolah yang membutuhkan proses pembelajaran yang panjang. Harus jatuh bangun. Kebayang, kalau kita yang masih amatiran ini baru memulai bisnis setelah dipecat atau mengundurkan diri, dengan modal pas-pasan pula. Sekali bisnis kita gagal, hancur sudah kita.

Kegagalan-kegagalan bisnis itu juga saya alami sewaktu menjadi karyawan. Tidak sedikit uang yang terbuang sia-sia karena usaha-usaha yang tidak berjalan dan merugi. Tetapi saya menganggap itu adalah uang kuliah untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman yang matang dalam berwirausaha. Butuh waktu 4 tahunan sampai akhirnya menemukan usaha yang settle. Hingga ketika Perusahaan  tempat saya bekerja kemudian tidak dapat meneruskan kontrak saya, tidak ada sedikitpun yang saya khawatirkan karena saya hanya perlu melanjutkan bisnis saya.

Dengan usaha kedai kopi yang saya jalani saat ini, saya kembali berjalan dengan 1 kaki, tidak lagi sambil menjadi karyawan. Suatu hari nanti mungkin saya akan kembali bekerja diperusahaan sebagai cadangan jika kedai kopi yang tengah saya urus ini drop. Atau mungkin, saya akan membuka sebuah bisnis baru sebagai kaki saya yang satu lagi agar keduanya bisa saling menyeimbangkan. Saya tidak tahu yang mana yang akan saya jalani kelak, tergantung pintu rezeki mana yang akan dibukakan Allah untuk saya suatu hari nanti.

IMG-20140209-00847_Fotor

***

Iklan

Tentang Funky Tri Doretta

Simple Ordinary Boy
Pos ini dipublikasikan di Cerita Inspirasi, Uncategorized dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Berjalan dengan 2 Kaki

  1. Wahyy berkata:

    Sungguh memotivasi sekali

  2. Reza Ahmad F berkata:

    keren sekali mas.. salam dari https://rezaahmadfadila.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s