Perihal Menikah (Lagi dan Lagi)

Iya sih, Memang menikah merupakan Sunnah Rasul saw, barang siapa tidak mau menikah berarti tidak mengikuti Sunnah Rasul. Namun menurut saya , orang yang belum mendapat jodoh tapi sebenarnya berniat ingin menikah, tentulah berbeda dengan orang yang tidak mau menikah. Oleh karena itu, saya kira manusia telah berpahala, karena mempunyai keinginan untuk menikah sebagai salah satu bentuk mengikuti sunnah-sunnah Rasul, meskipun belum tercapai karena faktor-faktor yang berada di luar kemampuan kita sebagai manusia. Dalam berbuat baik, seseorang telah dicatat melakukan satu kebaikan meskipun baru “sekadar” berniat.

Hal itu saya sebutkan merujuk dari  sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari melalui Ibnu Abbas ra, dimana Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah mencatat kebaikan dan keburukan. Barang siapa ingin (berniat, bertekad) berbuat kebaikan, tetapi tidak melakukannya, Allah mencatat keinginan itu sebagai satu kebaikan penuh. Apabila ia melakukannya, Allah mencatat kebaikan itu sebagai sepuluh kebaikan sampai 700 kebaikan hingga tak terbatas. Dan apabila ia ingin berbuat keburukan, tetapi tidak melakukannya, Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan penuh. Apabila ia melaksanakan keinginan itu, Allah mencatatnya sebagai satu keburukan.”

Di sisi lain, saya berfikir bahwa menikah juga bukan segalanya dalam hidup ini. Pada umumnya orang menikah karena ingin mendapatkan kebahagiaan hidup atau ingin hidup lebih baik. Tetapi dalam kenyataan banyak orang menikah yang tidak bahagia dan sebaliknya, tidak sedikit orang yang bahagia hidupnya, walaupun tidak menikah. Banyak orang yang setelah menikah––apalagi kalau niatnya untuk sekadar memperoleh status sebagai “suami” atau “istri”––justru tidak mampu menjadikan lembaga keluarga sebagai sarana ibadahnya. Suami dan anak-anak yang sangat berpotensi mendatangkan kebaikan dan pahala, tidak jarang disia-siakan begitu saja. Berbakti kepada suami dianggap sebagai tindakan merendahkan diri. Mendidik anak dirasa berat. Padahal semua itu merupakan sarana yang amat baik untuk meningkatkan ibadah. Bukankah ibadah kepada Allah swt merupakan tujuan paling tinggi dalam hidup ini (baca: QS adz-Dzariyat [51]: 56)? Bukankah sarana untuk beribadah––termasuk membahagiakan orang tua––pun sangat luas? Tidak terbatas hanya dengan cara menikah.

Betul,  sebagai orang tua, mungkin saja kalau mereka khawatir mengapa sampai saat ini anaknya belum memiliki calon istri,apalagi jika saudara-saudaranya yang lain dan teman-temannya kebanyakan sudah menikah semua.  Tetapi saya tidak mau terlalu mengambil pusing, sebab masing-masing orang memiliki jalan dan ketentuannya sendiri-sendiri.  Toh tidak ada  yang bisa menjamin bahwa saudara-saudara atau teman-teman yang sudah menikah lebih diridai oleh Allah daripada yang masih single?

Dalam menilai sesuatu, kita memang sering kali terjebak oleh kacamata kita sendiri sebagai manusia, baik oleh ukuran kita sendiri atau oleh ukuran lingkungan kita sendiri. Bukan ukuran Tuhan. Padahal, kita tidak punya ilmu yang cukup untuk melakukan itu. Dialah, Allah swt, yang lebih mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk bagi hamba-Nya. Kebaikan dan keburukan itu sangat boleh jadi berbeda di mata Allah swt antara satu orang dengan yang lainnya. “Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal sesuatu itu baik untuk kamu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal sesuatu itu buruk bagi kamu. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui” (QS. al-Baqarah [2]: 216).

Apakah saya tidak ingin menikah? Berkali-kali saya katakan kepada orang yang bertanya kepada saya, bahwa tentu saja sebagai manusia normal saya juga ingin menikah. Sama seperti orang lain pada umumnya. Tetapi saya sudah tidak mau “memaksa” Tuhan untuk melakukan sesuatu yang  saya inginkan. Melainkan mencoba  tawakal menjalani yang Dia kehendaki. Saya mencoba untuk  memasrahkan semuanya kepada-Nya.

Saya terus berikhtiar dan berdoa menuju niat saya ini. Meskipun mungkin doanya tidak lagi menyebut secara eksplisit minta dipertemukan jodoh saya, atau minta menikah secepatnya. Hal ini saya pelajari dari doa yang diucapkan oleh Nabi Musa as yang direkam dalam  QS. al-Qashash [28]: 24 “Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan”.  Juga dari Doa yang diajarkan oleh Rasullulah saw kepada Aisyah ra : “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dari segala kebaikan, yang cepat maupun yang lambat, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan, yang cepat maupun yang lambat, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui”.

Saya merasa bahwa kedua doa tersebut penuh dengan keimanan dan ketawakalan terhadap Allah swt. Kalau sampai hari ini saya belum menikah, bisa jadi inilah yang terbaik menurut Allah swt. Kalau semua ikhtiar-ikhtiar saya di masa lalu digagalkan oleh Allah, bisa jadi Allah sedang melindungi saya dari keburukan apabila semuanya tetap dijalankan sampai ke pernikahan. Wallahu’ alam

Seiring dengan itu, Allah mungkin menyediakan waktu bagi saya untuk terus memperbaiki diri dan memperbanyak tasbih kepada-Nya. Bukankah  Nabi Yunus as bisa selamat keluar dari perut ikan bukan karena ia memohon “Ya Tuhan, selamatkanlah aku dari perut ikan ini.” Bukan! Ia selamat karena banyak bertasbih, tidak secara terang-terangan minta dikeluarkan dari perut ikan, walaupun di dalam hatinya tentulah ada harapan untuk selamat. Dalam Alquran disebutkan demikian: “Maka sekiranya dia (Yunus as) tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di dalam perut ikan itu sampai Hari Berbangkit (QS. ash-Shaffat [37]: 143-144). Zikir dan tasbih itulah yang lebih berperan menyelamatkannya daripada yang lain. Zikir dan tasbih yang diucapkan Nabi Yunus as itu pun direkam di dalam QS. al-Anbiya’ [21]: 87 yaitu: Lâ ilâha illâ anta, subhânaka, innî kuntu min azh-zhâlimîn (tiada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim).

Saya termasuk yang mempunyai keyakinan tinggi bahwa lafal tasbih seperti yang dibaca oleh Nabi Yunus as itu, jika kita lakukan dengan penuh kepasrahan dan pengakuan atas kesalahan dan dosa kita, akan mempermudah tercapainya jalan keluar dari masalah yang kita sedang hadapi. Semoga 🙂

Henna-Bridal-9

Iklan

Tentang Funky Tri Doretta

Simple Ordinary Boy
Pos ini dipublikasikan di Cerita Inspirasi dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Perihal Menikah (Lagi dan Lagi)

  1. Saya kira ini tulisan tentang poligami Gan. Tapi terima kasih atas wawasannya. Yang terpenting hidup kita harus selalu bersyurkur dalam setiap kondisi 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s