Drupadi | Resensi Buku

Oleh : Funky Tri Doretta

Ada 2 hal yang membuat saya memutuskan untuk membaca buku ini. Pertama, saya memang selalu penasaran dengan cerita-cerita tentang epos Mahabarata. Yang kedua, saya memang fans nya SGA. Karena keterikatan 2 hal itulah saya akhirnya rela merogoh kocek yang sebenarnya cukup mahal untuk ukuran buku dengan tebal 150 hal (ini curhat).

drupadi

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Resensi buku | Meninggalkan komentar

Petang Panjang di Central Park |Ulasan Buku

Oleh : Funky Tri Doretta

“Aku mencintaimu Marie-Claire,” bisik Mahar

Marie-Clarie memandangi mahar.

“Jangan katakan itu, mahar” katanya lirih. “kita hanya dua mahluk kesepian yang dipertautkan oleh keadaan. Dan keadaan akan selalu berubah”

-Paris, 29 Apri ; Bondan Winarno

“Ringan seperti keripik. Renyah seperti kacang”. Mungkin seperti itulah singkatnya kesan saya setelah menikmati sepaket cerita pendek bertajuk ‘Petang Panjang di Cenral Park’ karya pak Bondan Winarno ini. Dengan tebal 334 halaman, tidak sulit untuk menghabiskan buku ini. Sama seperti kita menikmati kacang atau keripik yang sedikit demi sedidikit lalu habis tanpa kita sadari.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Resensi buku | Meninggalkan komentar

Ngopi Join

Saya suka ngopi. Semua orang sepertinya sudah paham itu. Dari semua metode meminum cairan hitam kental ini, yang paling saya suka adalah ngopi join. Meminum kopi dengan beberapa orang kerabat dalam 1 gelas yang sama. Semasa kuliah dulu, saya sering ngopi join dengan beberapa teman di Benteng Vredeburg. Dari Angkringan, biasanya kami membeli segelas besar kopi hitam lalu meminumnya bersama-sama. Sambil ngopi, kami biasanya ngobrol-ngobrol banyak hal. Tentang apa saja,  mulai dari masalah kuliah, teman kost, pacar masing-masing, bahkan masalah keluarga. Beberapa teman tentu sambil menghisap berbatang-batang rokok sambil menyemil keripik singkong atau kacang garing. Seiring seruputan demi seruputan kopi, akan lahir banyak derai tawa, hening cipta yang khusuk atau bahkan guratan kesedihan yang terbias di wajah.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Cerita Inspirasi | Tag | Meninggalkan komentar

Negeri Kabut | Ulasan Buku

Oleh : Funky Tri Doretta

“Jangan2 sebenarnya aku pergi menyebrangi laut, mendaki gunung, menuruni lembah dari satu negeri ke negeri lainnya hanya untuk lari dari persoalan, lari dari kenyataan bahwa aku sebenarnya tidaklah terlalu tabah menghadapi penderitaan ”
-Negeri Kabut ; Seno Gumira Ajidarma

Saya pernah membaca sekilas kumpulan cerpen ‘Negeri Kabut’ Seno Gumira Ajidarma ini beberapa tahun  yang lalu di sebuah rumah baca. Karena milik publik, saya tentu tidak bisa membaca nya berulang dengan leluasa buku yang memenangi hadiah sastra tahun 1997 ini. Maka ketika Grasindo menerbitkan kembali kumpulan cerpen ini, tanpa berfikir 2 kali saya meminang buku ini.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Resensi buku | Tag | Meninggalkan komentar

Bermimpi, Suatu hari

by : Funky Tri Doretta

Suatu hari kita pernah bermimpi. Tentang sebuah perhelatan pernikahan yang unik, yang lain daripada yang lain, yang belum pernah ditemui orang-orang disekitar kita.

“Bagaimana kalau di taman?” Aku memberikan ide

“Ah, terlalu mainstream” jawabmu sembari melempar kerikil kedalam air danau.

“Pantai?” aku melempar pikiran lagi

“Sudah sering di Bali dan Lombok” Kau menyibakkan rambutmu yang tertiup angin hingga menutupi wajahmu.

“Padang pasir?” Aku mulai konyol, mungkin karena sudah frustasi.

“Pernah ada di Abu Dhabi” jawabmu menatap air danau yang mengkilat karena cahaya mentari sore. Aku mendesah nafas, tidak tahu harus menyarankan apalagi.

“Lihat disana” Kau menunjuk hutan pinus diseberang danau sana.

Merebahkan tubuhmu diatas rerumputan, kau lantas menatap awan sore yang berarak digiring bayu. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Cerita Pendek | Tag , | Meninggalkan komentar

Perempuan Patah hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi | Ulasan Buku

By : Funky Tri Doretta

“Membuatnya senang kupikir hal yang lebih penting dari apapun. Percuma ia hidup, jika tidak senang”

-Membuat Senang Seekor Gajah ; Eka Kurniawan

perempuan-patah-hati-yang-kembali-menemukan-cinta-melalui-mimpi

Banyak teman-teman yang melihat buku ini tergeletak diatas meja saya bertanya “Buku tentang apa ini? Bagus tidak?”. Okelah, saya akan ceritakan apa isi buku ini.

Saya sendiri  Ketika melihat buku ini di salah satu rak toko buku, tanpa pikir panjang langsung mengadopsinya. Saya merasa sangat jarang membaca cerpen-cerpen Eka Kurniawan, karena Eka Kurniawan sendiri memang nyatanya lebih banyak menulis novel ketimbang Cerita Pendek. Sebutlah ‘Manusia Harimau’ atau ‘Cantik itu Luka’, kedua novel yang bahkan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Tentu saja hal itu dikarenakan memang novel-novel Eka Kurniawan tersebut berkualitas sastra dunia.

Setelah mengabiskan 15 cerpen dalam ‘Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi’ berulang-ulang, saya menemukan kualitas yang sama seperti pada novel-novel Eka Kurniawan : Sastra kelas dunia.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Resensi buku | Meninggalkan komentar

REX : Ulasan Buku

“Aku mencintaimu” kataku

“Kau bicara pada hujan?”

Selorohnya itu membuat aku agak terperangah.

“Kuperhatikan setiap turun hujan, kau selau menyatakan cinta. Aku masih ingat, kamu dari Jakarta pernah mengirimiku pesan, it’s raining here and I’ve been missing you. Jangan-jangan kamu cuma jatuh cinta pada hujan, bukan padaku” lanjutnya.

-Somerset, Bre Redana.

rex

Banyak teman-teman yang bertanya, mengapa buku  REX karya om Bre Redana ini selalu ada di dalam tas saya. Apa nilainya buat saya, sehingga buku ini selalu saya bawa kemana-mana. Saya masih ingat ketika saya menemukan buku ini di bazaar cuci gudang Gramedia Raden Intan, Bandar lampung di awal tahun 2012 lalu. Buku ini, saya tebus dengan mahar bahkan tidak sampai sepuluh ribu rupiah.

Om Bre sendiri saya kenal pertama kali setelah membaca cerpennya yang berjudul ‘Kota Yang Menyenangkan’ yang juga ada di dalam buku kumpulan cerpen ini. Percayalah, saya menyelesaikan membaca buku yang berisi 14 cerita pendek ini hanya dalam sekali duduk bersama secangkir kopi hitam.

Banyak para pengikut-pengikut cerpen Om Bre yang sebenarnya kecewa dengan buku ini. Kurang menggigit dan kurang mengena. Masih jauh lebih menarik menghabiskan ‘Urban Sensation’  yang terbit sebelumnya. Entahlah mengapa banyak orang yang berpendapat seperti itu, apakah karena ‘Urban Sensation’ lebih banyak mengupas soal sensualitas metropolitan yang mungkin lebih mempresentasikan dan mewakili banyak kisah kaum masyarakat perkotaan? Entahlah.

Kembali ke REX. Dibalik kekosongan yang dinilai banyak orang, saya sendiri menilai buku isi ini sangat ringan. Seringan bobot dan ukurannya yang hanya 11×16 cm dengan tebal tidak lebih dari 152 halaman. Itulah salah satu alasan mengapa saya suka membawa buku ini kemana-mana. Ia begitu ringkas. Bisa dimasukan kedalam tas apapun juga termasuk saku jaket, sehingga memudahkan saya membacanya dimanapun. Ringan. Seringan obrolan-obrolan antara laki-laki dan perempuan yang mendominasi sepanjang 14 cerita pendek di dalam buku ini. Saya suka cara-cara Om Bre menghadirkan dialog-dialog di setiap cerita dalam buku ini. Santai namun berbobot, dialog-dialog antara laki-laki dan perempuan yang cerdas namun tidak bikin kening mengkerut.

Saya juga suka cara Om Bre mendeskripsikan suatu tempat kedalam sebuah cerita. Cara Om Bre menggambarkan setting cerita dalam beberapa cerpen di buku ini membuat saya seperti melihat sebuah sketsa sebuah tempat. Dalam cerpen ‘Dan Daun-daun Berterbangan..’ dan ‘Somerset’ misalnya, saya benar-benar merasakan seperti sedang ikut duduk bersama tokoh di Leicester Squre atau berjalan di tengah gerimis ke Somerset. Sensasi serupa saya rasakan ketika Om Bre mendeskripsikan setting dalam cerpen ‘Kota Yang Menyenangkan’; ‘Ciawi Junction’ atau ‘Indrakila’. Saya pikir, inilah salah satu kekuatan Om Bre dalam buku ini.

Singkatnya, saya menilai REX adalah bacaan yang ringan namun berisi. Tidak perlu repot membawa buku ini, seperti tidak perlu bersusah payah mencerna apa yang coba disampaikan oleh penulis dalam setiap ceritanya.

  ***

 

Dipublikasi di Resensi buku | 1 Komentar