Terpana | Sebuah Resensi

Oke, setelah kemarin posting sedikit khayalan yang terinspirasi dari film Terpana. Kali ini saya coba ulas film ini bener-bener. Sebenarnya ketika pertama kali tahu bahwa film ini digarap dan di tulis langsung oleh Richard OH, saya sudah tahu bahwa film ini akan bernilai seni tinggi. Sebagai seorang pembaca, saya tentu mengikuti beberapa karya sastrawan satu ini. Dari sanalah saya bisa menilai jiwa seni yang tinggi pada sosok Richard OH.

Dan benar, film Terpana membuat saya berdecak kagum beberapa kali. Saya bisa menilai bahwa film itu Richard OH banget deh. Its unussual film. Dimana penonton akan dibawa pada adegan-adegan yang menakjubkan yang jauh dari adegan sinetronik.

Ceritanya Rafian (Fachri) tidak sengaja bertemu dengan Ada (Raline) di salah satu sudut kota Medan. Rafian yang saat itu sedang menyebrang jalan terpesona melihat Ada yang sedang duduk di salah satu bangku kedai Kopi di pinggir jalan. Saking terpesonanya, Rafian sampai bengong di tengah jalan di tengah jalan dan tidak menyadari bahwa ada sebuah truk yang nyaris saja menabrak dirinya.

Rafian percaya bahwa Ada telah menyelamatkan nyawanya. Jika saja Ada tidak duduk disana dan ia tidak terpesona hingga bengong di tengah jalan, andai saja ia tidak terhenti di tengah jalan dan meneruskan langkah menyebarang, mungkin ia sudah mati tertabrak truk tadi. Namun Ada tidak yakin dengan pandangan Rafian. “You’re just lucky”. Kamu hanya beruntung, begitu katanya. Pada adegan-adegan selanjutnya, kedua lantas terlibat dalam teori masing-masing dalam menjelaskan keyakinana mereka. Mulai dari teori probabilitas, fisika, filsafat, hingga sejarah.

terpana-poster

Yang membuat saya begitu terkesan dengan film ini adalah hubungan antara Rafian dan Ada yang menurut saya unik banget. Bayangin, kamu bertemu dengan orang yang tidak pernah kamu kenal sebelum nya di dunia manapun juga. Lalu tiba-tiba kamu terpana padanya tepat pada pandangan pertama.  Tidak hanya sampai disitu, tapi kemudian kamu sama dia nyambung ngobrolin apa saja bahkan hal-hal yang absurb sekalipun. Kamu bisa beradu argument, berbagi ide dan pemikiran, berdiskusi bahkan hanya lewat tawat tatapan mata atau gesture tubuh. Adengan-adegan seperti itu akan banyak kamu temui di dalam film ini. Sebuah dialog yang mengalir bukan dari mulut ke mulut, melainkan dari hati ke hati, dari pikiran ke pikiran.

Pada sebuah adegan lain, Rafian dan Ada memutuskan untuk berpisah pada sebuah perimpangan untuk menguji sejauh mana kebetulan akan mempertemukan mereka kembali? Dengan santai Rafian melenggang, ia percaya dan yakin bahwa takdir akan mempertemukan mereka kembali dengan caranya sendiri. Dengan cara yang kebetulan. Tetapi di tengah jalan pilihannya, Ada tiba-tiba meragu. Ia tiba-tiba takut tidak ditemukan lagi dengan Rafian. Maka ia sengaja berbalik arah, agar kemudian ditemukan lagi oleh Rafian.

Terpana-pemain

Oh, ya di filim ini juga ada sosok unknown Reza Rahardian. Disini Reza sendiri hanyalah sebuah sosok imajinasi yang hidup di kepala Rafian maupun Ada.

Jujur saya akui, bahwa fim ini adalah film yang berat. Dialog-dialog scientific dan filosofis itu cukup membuat saya mengernyitkan dahi. Saya bahkan harus menonton film ini beberapa kali untuk memaknai adegan demi adegannya. Tetapi setelah semua tertangkap, saya merasa sangat puas. Ada banyak hal yang bisa saya maknai dengan sudut pandang yang berbeda dari film ini. Film yang membawa saya pada pemikiran-pemikiran dan perenungan-perenungan yang dalam akan banyak hal, temasuk cinta. Menurut saya inilah fim yang memanusiakan penontonnya.

Sayanya menurut saya, film-film seperti ini memang belum cocok untuk pasar penonton Indonesia. Di negara kita ini, film atau bioskop untuk saat ini baru dijadikan sarana hiburan. Bukan sarana pembelajaran atau perenungan. Itu sebabnya, film-film yang menghibur di bioskop-bioskop kita lebih laku dibanding film-film yang mendidik atau bembuat kita berfikir.

Mungkin itu sebabnya, film ini hanya mendapatkan 4500an penonton. Bandingkan dengan film Warkop reborn yang tembus sampai jutaan penonton. Pada akhirnya, mungkin hanya orang-orang yang berjiwa seni yang bisa memaknai film ini.

 Oh, ya. Saya sengaja tidak membahas pemain-pemainnya. Fachri Albar, Raline Shah, Reza Rahardian. Apalagi yang kita ragukan dari kemampuan acting mereka? Awesome !

***

Dipublikasi di Resensi Film | Meninggalkan komentar

KEBETULAN

Hai..,

Kita tahu bahwa kita sama-sama belum pernah bertemu. Setelah berbagai upaya kita lakukan untuk menciptakan peluang bertemu selama 10 tahun terakhir ini, kita lalu sampai pada kesimpulan : kita mungkin memang ditakdirkan untuk tidak pernah bertemu. Berdua, kita lalu sepakat untuk menghapus semua remcana juga harapan dan mimpi kita untuk bertemu.

terpana

Tapi biarlah kuceritakan kepadamu, bahwa pada suatu hari setelah kesepakatan kita itu, aku pernah berharap bahwa kelak kita akan bertemu dengan cara-cara yang tidak kita duga. Dengan cara-cara yang telah diatur oleh alam semesta. Bukan oleh kita sebagai manusia. Sebuah pertemuan yang kebetulan.

Sebagai kebetulan, tentu saja kita akan bertemu sebagai dua orang yang tidak saling mengenal. Mungkin ketika itu kita sedang duduk sepesawat bersebelahan. Atau mungkin kita ternyata dua orang rekan bisnis yang sedang bernegosiasi. Atau seperti film itu? Kita betemu ketika kamu sedang menghabiskan secangkir kopi bersama setumpuk pekerjaanmu di kedai pinggir jalan yang tanpa sengaja kulintasi. Kebetulan.

Seperti apapun kebetulan itu, yang jelas kita bisa tiba-tiba merasa nyaman satu sama lain seolah kita telah lama saling mengenal. Tiba-tiba bisa saling mengisi kesepian dan kekosongan masing-masing. Aku yang tanpa sungkan menceritakan segala hal perihal kehidupanku, dan kau yang dengan tabah mendengarkan setiap detil kisahku. Kita lantas larut dalam pembicaraan-pembicaraan abstrak yang tidak tahu kemana arah ujungnya hingga kemudian saling takut berpisah.

Setelah 10 tahun, apakah kita sanggup menghitung kemungkinan-kemungkinan untuk kita bertemu secara kebetulan? Entahlah, aku sendiri tidak berani melakukannya. Sejak sekolah, aku tidak sudak dengan teori-teori probabilitas. Karena mungkin, aku memang tidak suka dengan kemungkinan-kemungkinan yang kadang berakhir kecewa.

Namun Jika kelak kebetulan itu harus terjadi, maka biarlah semesta yang mengaturnya.

***

NOTE : Ini bukan Resensi Film. Butuh ilmu tinggi untuk meresensi film dengan nilai seni seperti TERPANA ini. Tapi nanti kita coba ulas.

Dipublikasi di Catatan Pendek, Cerita Pendek | Meninggalkan komentar

Surat Buat Nabila

Assalamualaikum, Nabila…

Selamat datang ya di dunia. Selamat datang di planet bumi yang ada yang bilang bundar, ada juga yang bilang datar. Nanti kamu pelajari sendirilah, bumi itu sebenarnya bundar atau datar. Yang pasti, tahu bulat digoreng dadakan, itu bentuknya ya bulat. Bukan persegi panjang apalagi jajaran genjang. Hehehe

Nabila

Uncle tadi liat foto kamu di grup whatsapp keluarga kita. Duuhhh, kamu lucu sekali di bedong kayak gitu. Katanya kamu tadi nangis ya waktu diangkat dari rahim bundamu? Yaaah, maafkanlah Nak, dunia memang tidak senyaman rahim bundamu. Tapi kita emang tidak bisa selamanya berada dalam keadaan nyaman, nak. Nanti kalau kita nyaman terus, kita tidak mau belajar dan tidak bisa berkembang. Jadi, relakanlah kenyamanan rahim bundamu itu ya, nak. Karena kini saatnya kamu menghadapi dunia.

Oh,ya. Tadi pas foto kamu di share oleh eyang, banyak yang berdebat kamu itu mirip siapa. Ada yang bilang kamu itu mirip kakak kamu yang paling tua, si Zio karena kamu rada item kata eyang. Tapi kalo menurut ayah kamu, kamu itu mirip  Attalah, kakak kamu yang nomor dua. Karena kamu sama sama sipit kayak orang cina. Jadi menurut uncle sih, kamu itu gabungan antara kakak-kakak kamu. Zio dan Attalah. Baguslah, paling ngga kamu ngga mirip sama uncle. Uncle jelek sih. Eh tapi jelek-jelek gini banyak loh cewe-cewe yang suka sama uncle. Suka ninggalin gitu aja sih, maksudnya. Upss, maaf ya Bila, kayaknya belum saatnya deh kamu dengerin Uncle curhat.

Asal kamu tahu ya Bila, kehadiran kamu itu paling di tunggu-tunggu keluarga besar kita. Maklumlah, kamu tuh cucu perempuan eyang yang pertama. Anak perempuan ayah bunda kamu yang pertama. Sejauh ini semua sodara dan sepupu kamu laki semua. Kakak kamu, Zio dan Attalah laki. Sepupu kamu si Adam, laki. Kemaren pas di lebaran, digabungin jadi satu. Waaaah, pada paduan suara. Nangis gantian ngga berhenti-berhenti berebut mainan. Ampun deh uncle ngasuh mereka. Nanti ketika kamu gabung ama mereka, jangan kaget kamu diajak main pistol-pistolan, robot ultramen kesukaan adam, atau mobilan koleksi si Zio. Ayah kamu sih lagi demen banget main finger spinner. Kemarin lebaran, dia beli 3. Katanya sih, satu buat Adam, satu buat Zio sama satu lagi buat Attalah. Tapi faktanya sih yang punya Attalah dia yang maenin, Attalah kan belum ngerti maenan gituan. Tapi kamu jangan takut, uncle mau kok kamu ajak main masak-masakan, boneka, atau yang lagi trend sekarang, Playdoh. Atau kamu uncle bacain buku aja ya, uncle punya banyak buku buat kamu. Dan ketahuilah Bila, buku jauh lebih mendidik dan lebih baik dari pada gadget.

Nabila sayang,

Selamat datang di Indonesia ya. Kamu lahir pas keadaan negara ini lagi ngga bagus-bagus banget sih. Katanya sih, perekonomian negara kita lagi turun banget dan ngga juga naik-naik. Banyak usaha-usaha yang pada tutup. Itu 7 eleven, tempat kesukaan uncle nongkrong kalo lagi di Jakarta, tutup semua. Pasar tanah abang, yang katannya barometer perekonomian negara kita, sepi. Omset pedagangnya turun sampe 75%. Yah, maklumlah. Orang-orang lagi pada ngga punya duit buat belanja. Lagi banyak yang kehilangan pekerjaan karena kena PHK. Petani karet dan sawit masih menangis karena harga jual mereka yang belum juga kunjung naik. Waktu uncle nulis ini buat kamu nih, uncle baca di berita online utang negara kita udah sampe Rp.3.672,33 Trilyun. Busyed dah, entah sampe kapan tuh utang bisa lunas ya? Ngga ngertilah uncle. Hufft, maaf ya, Nak. Baru lahir sebagai warga negara aja, kamu udah dibebani dengan hutang yang sebegitu besar. Semoga sebelum kamu dewasa tuh hutang-hutang udah lunas, biar ngga menjadi beban buat generasi kalian. Jangan sampe nanti siapa yang ngutaaang, siapa yang nanggung. Hehehe

Uncle bersyukur sih, kamu ngga lahir beberapa bulan kemarin. Waktu negara kita lagi rusuh-rusuhnya dengan perbedaan-perbedaan. Waktu demonstrasi udah kayak sinetron berseri, udah kayak novel ber-jilid.  Uncle bilangin ya, kamu memang wajib membela agamamu. Wajib bila ! Wajib ! 3 kali ya Uncle bilangin. Tapi ngga harus demonstrasi Bila. Menegakkan Sholat 5 waktu juga membela agama. Membaca Al-quran dan Menegakkan sunah-sunnah juga membela agama. Sedekah, dan menyantuni anak yatim dan fakir miskin juga membela agama. Yang paling penting, tegakkanlah dulu tiang-tiang agama itu untuk dirimu sendiri, karena nanti, kamu akan menegakkan agama itu untuk anak-anakmu kelak.

Yang lucu pada saat kamu lahir ini Bila, Ada bocah 16 tahun yang nikah sama Nenek-nenek. Hahahaha ya ampun Bila, Uncle ngga berhenti geleng-geleng kepala tiap baca berita tentang pernikahan itu. Itu sih bukan cinta buta namanya Bila, tapi cinta kelilipan. Banyak juga tuh temen-temen uncle yang malah jadi godain uncle, “Masa anak kecil aja berani nikah, kamu belum berani?” mereka bilang gitu. Ada juga yang bilang “Tuh, nenek-nenek aja laku. Masa kamu bujang ngga laku-laku!” uncle sih nyengir aja. Uncle ngga maulah ikut ikutan nikah karena cinta kelilipan. Begitu juga dengan kamu ya nanti, kamu jangan mau nikah karena cinta kelilipan. Karena ketika kelilipannya sembuh dan kamu bisa melek secara normal, kamu bakal menyesal. Jangan juga karena cinta buta. Uncle bilangin, cinta itu ngga ada yang buta. Yang ada ketika jatuh cinta, manusia sering menutup matanya sendiri. Kalau sekarang, uncle belum nikah nih, semata karena uncle masih mencari Aunty yang layak buat kamu. Kamu doain aja, semoga cepet dapet ya. Doain tuh tante Gal Gadot mau jadi aunty kamu. hehehe

Huh, semoga kamu ngga capek ya baca tulisan uncle. Maklumlah uncle ini memang lebih suka menulis dari pada bicara. Kalo semua orang bicara kan bising, Nabila. Jadi mending uncle banyak nulis aja dari pada banyak bicara. Ngurangin polusi udara. Nanti, kamu juga harus banyak membaca. Ketahuilah, Bangsa kita akan maju dan lebih tenang kalau orang-orangnya banyak membaca, bukan banyak omong. Oke? Tenang, tuh di kamar, uncle udah siapin banyak buku buat kalian dewasa kelak.

Ya udah deh kalo kamu udah capek. Uncle  juga udah ngantuk,  mana laper belum makan. Sekali lagi selamat datang di dunia. Uncle sih belum bisa banyak nasehatin, karena uncle juga masih belajar di dalam hidup ini. Yang jelas nanti sepengalaman uncle, kamu akan melewati semuanya silih berganti. Habis ketawa, nangis; habis gagal, berhasil; habis jatuh cinta, patah hati dll. Enjoy aja. Jalani aja terus tanpa menyerah. Sekali kamu tidak menyerah, kamu pasti akan sampai pada tujuan kamu. Nikmatilah perjalanan hidupmu.

Jangan benci ya, nanti kalo uncle marah karena kamu ngga hormat sama orang tua kamu. Mereka itu orang nomor satu yang harus kamu hormati. Jangan sebel kalo uncle marahin karena kamu males belajar, ngga mau ngaji, males makan. Percayalah, itu karena uncle sayang sama kamu. Ketahuilah, bahasa  sayang itu ngga hanya pelukan. Tapi juga amarah yang membangun.

Nabila sayang,

Ketika nanti kamu mendewasa, mungkin uncle yang berangsung meng-kanak-kanak lagi.  Jadi jangan bosen juga nanti gantian ingetin uncle ya.

Terima kasih sudah bersedia datang, Nabila. Terima kasih sudah menggenapkan kebahagiaan keluarga besar kita.

Oh, ya. Zio, Adam dan Attalah udah manggil uncle dengan sebutan ‘Abi’. Biar agak intelek dikit, kamu panggil dengan Uncle aja. Tapi kalo kamu ngga suka, boleh kok kamu panggil Om, tapi jangan pakdhe ya. Emang sih kkita orang jawa, tapi kok rasanya tua banget ya dipanggil pakdhe. Hahaha..

                Wassalam

                Uncle Kiky,.

Dipublikasi di Catatan Pendek | Meninggalkan komentar

Di Bawah Langit yang Sama | Ulasan Buku

-Agama memang penuh dengan cinta. Tetapi cinta, tidak pernah punya Agama. *Rumi Djalaludin


Kemarin dikirimin temen buku ini. Buat bantu2 riset katanya. Kebetulan aku memang lagi garap novel dgn tema yg sama dengan novel ini.

Di bawah langit yang sama

Setelah Angin Bersyair nya Andrei Aksana, aku pikir novel Helga Rif inilah novel dengan setting Bali terbaik yg pernah aku baca. Bali memang tidak pernah habis-habisnya untuk dibicarakan. Pemandanganya indah, budayanya adalah seni.

Kalau dalam Angin Bersyair, Andrei Aksana lebih banyak berbicara tentang sejarah Bali. Disini Helga Rif banyak bicara tentang budayanya. Sebagai orang Bali asli, Helga bisa menceritakan prosesi Ngaben dengan lugas. Lengkap dengan dialog2 dan istilah2 dalam bahasa bali. Susunan strata masyarakat, juga cara beribadah mereka.

Mengusung tema cinta berbeda budaya, suku dan Agama novel ini penuh dengan konflik batin tokoh utamanya dalam menentukan pilihan cintanya. Meninggalkan keluarga ? Atau meninggalkan kekasihnya ?

Ada cinta segitiga diantaranya, yang tentu saja memakan korban yang terluka hatinya. Namun dalam cinta sejati, sering kali ketulusan diukur dari seberapa besar pengorbanan yang diberikan.

Jadi pengen ke bali euyy.. 😂

Dipublikasi di Resensi buku | Tag | Meninggalkan komentar

Critical Eleven | Ulasan Buku

Sebenarnya, aku agak terganggu dengan terlalu banyaknya diksi english dlm novel ini. Hampir 25% menurutku.
Tapi aku angkat topi dengan sudut pandang yang diambil oleh penulis.
Dalam tiap kejadian, pembaca akan di ping-pong menilik dari sudut pandang tokoh pria dan tokoh wanitanya. Alhasil, pembaca selalu bisa memandang tiap persoalan dari dua sisi dengan adil.
Critical Eleven

Aku pernah memakai konsep double view ini dalam cerpen “Riecky-Nadine” di tahun 2010. Dan aku bisa membayangkan betapa sulitnya seorang Ika Natassa mengatur psikologinya dalam menulis novel ini. Banyangkan kamu sedang menjadi seorang laki-laki yang maskulin, tegas namun penyabar. Tiba2 di paragraph selanjutnya kamu harus menjadi seorang perempuan yang feminim, mewek dan ngambekan.

Disinilah kemampuan seni psikologi seorang penulis diuji. Hanya penulis2 yang punya faktor Schizoprenia (kepribadian ganda) yang tinggi yang bisa menulis dengan sudut pandang seperti ini.

Awesome

Dipublikasi di Resensi buku | Tag | Meninggalkan komentar

COFFEE CORNER II

Perihal Coffee Corner 2

Cover Coffee Corner2 Fix

Cukup lama saya tidak mengeluarkan buku. Hampir 3 tahun sejak buku terakhir saya yang berjudul “Mencari Amanda” dan hampir 5 tahun sejak buku “Coffee Corner” pertama  diterbitkan. Meskipun menulis masih menjadi rutinitas keseharian yang tidak bisa saya tinggalkan, ada sesuatu yang kemudian membuat saya membatasi publikasi tulisan-tulisan saya. Entah mengapa sekarang setelah menyelesaikan sebuah tulisan, baik itu cerpen, resensi, atau esai. Berbagai pertanyaan-pertanyaan selalu menggerayangi pikiran saya sebelum saya memutuskan mempublikasikan tulisan-tulisan saya tersebut. Mengapa saya harus mempublikasikan tulisan tersebut? Apa yang akan orang-orang dapatkan setelah membacara tulisan saya? Dan apa yang akan saya dapatkan kelak setelah orang-orang membaca tulisan saya? Maka meskipun menulis telah menjadi nafas, menerbitkan buku sekarang bukan lagi menjadi hal yang sederhana. Sebab saya merasa menerbitkan buku adalah seperti sebuah pertaruhan. Bukan hanya pahala yang bersifat ‘jariyah’ yang akan didapatkan, melainkan bisa  juga ada dosa yang akan terus mengalir dari buku yang telah diterbitkan.

Dari semua buku-buku yang pernah saya tulis, “Coffee Corner” adalah  satu-satunya buku yang sedari awal sudah saya niatkan untuk dilanjutkan. Saya merasa tulisan-tulisan yang saya buat di dalam buku ini murni terlahir dari inspirasi-inspirasi yang datang dalam kehidupan sehari-hari. Dari perjalanan-perjalanan yang tidak terduga, dari pemikiran dan perenungan-perenungan yang khidmat, dari persahabatan dan selalu dari diskusi-diskusi yang lahir disela-sela seruputan cangkir demi cangkir kopi. Ketika saya merasa terinspirasi, tidak ada hal lain yang ingin saya lakukan selain menuliskannya dan membagikan inspirasi itu kepada orang lain sebanyak mungkin. Tidak ada kesedihan, tidak ada kebencian, yang ada hanyalah inspirasi yang akan melahirkan inspirasi lainnya. Buku seperti inilah yang kemudian selalu ingin saya tulis. Buku-buku yang bergizi, memberi arti dan mudah dicerna menjadi amal suci. Seperti yang pernah diucapkan oleh Imam Ali Bin Abi Thalib r.a, “Tulisan itu abadi, maka tulislah sesuatu yang akan menyenangkanmu di akhirat nanti.”

Membagi buku ini menjadi beberapa bagian, saya menempatkan inspirasi-inspirasi yang lahir dari pemikirian sehari-hari pada Coffee Talk. Motivasi-motivasi yang lahir dari dan untuk dunia wirausaha saya pada Entrepreneur Soul, dan pemikiran-pemikiran seputar dunia cinta dan jodoh pada Two Become One. Pada bagian Solidarity sengaja saya banyak bercerita tentang Komunitas Peduli Anak Bangsa (KOMPAS). Saya Merasa, diantara begitu banyak komunitas sosial yang saya cemplungi, KOMPAS lah yang paling mendapatkan kesan yang paling mendalam di hati dan ingatan saya. Sayang, sebentar sekali rasanya saya menjadi bagian dari mereka. Pendek sekali kebersamaan kami. Hanya sekejap mata saja, kami sudah harus berpisah. Maka izinkanlah saya mengabadikan perjalanan yang singkat itu kedalam tulisan dan buku saya. Sekedar untuk mengenang bahwa saya pernah terbakar gelora dalam melakukan banyak hal baik bersama mereka. Pernah bersama berjuang dan melakukan sesuatu yang kelak akan dikenang oleh banyak anak-anak.

Terima kasih saya ucapkan kepada orang-orang yang masih dan selalu menginspirasi saya. Aini & Budi yang masih menjadi bagian dari Coffee Corner sejak buku pertama. Ade Irawan, Agus, Hery & orang-orang yang pernah menjadi bagian dari Flow Pancake & Coffee. Ahmad Azwan dan Okta Libriansyah yang telah menjadi sahabat disaat-saat yang sulit. Orang-orang yang ceritanya saya angkat namun namanya tidak bisa saya sebutkan didalam buku ini. Afi yang sudah setia menemani selama proses editing buku ini. Keluarga besar KOMPAS tentu saja. Bangga sekali pernah menjadi bagian dari kalian. Teruslah menebar inspirasi dimanapun berada. Allah SWT untuk segala berkat, rahmat juga hidayahnya, Alhamdullilah.

Semoga catatan-catatan didalam buku ini membawa kemaslahatan bagi kita semua. Aamiin Allahumma aamiin. Selamat membaca.

 Funky Tri Doretta

https://funkytridoretta.wordpress.com

***

Pre Order

“Sangat inspiratif dan sarat akan nilai-nilai kehidupan. Dengan gaya bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti, pesan yang tersirat di dalam buku ini mampu tersampaikan tanpa menggurui.” ~ Hendika Risman, Ketua KOMPAS

“Membaca seluruh isi buku ini seperti menikmati pagi usai diguyur hujan, lalu disirami cahaya mentari; menyejukan, menghangatkan, dan mencerahkan. ”                ~ Ihan Sunrise, Pemimpin Umum www.portalsatu.com

“Sarat akan makna, dikemas dengan bahasa yang apik dan mudah dipahami, membuat buku ini menarik untuk terus melanjutkan membaca dari halaman ke halaman berikutnya hingga selesai tanpa disadari” ~ Elis Wahyuni, Owner Mimikopi- Yogyakarta

“Duduk dan menikmati secangkir kopi bersama Mas Funky memang selalu mendapatkan inspirasi dan pencerahan. Seperti menyelesaikan membaca buku ini, ada banyak petikan-petikan yang simpan dan membuat saya tercerah.”                          ~  Nadya Iriani, Blogger

Dipublikasi di Cerita Inspirasi | Tag | Meninggalkan komentar

Angan Senja & Senyum Pagi | Resensi Buku

Resensi by : Funky Tri Doretta

“Untukmu dan masa lalu,

Semua yang tersimpan dalam ingatan namun tak terkatakan

Beberapa keputusan tidak bisa diubah, meski bisa disesali

Sementara waktu tidak mungkin bisa diulang

Kisah manis selalu layak dikenang

Semoga mereka mengerti”

 

Setelah melewatkan 2 karya Fahd Pahdepie sebelumnya, Jodoh dan Sehidup Sesurga, saya akhirnya menyempatkan untuk membaca novel besutannya yang terakhir, “Angan Senja & Seyum Pagi”. Ada beberapa hal yang membuat saya tertarik untuk membaca novel teranyar Fahd ini. Pertama karena judulnya yang puitis, kedua kerena ilustrasi covernya yang artistik (Lukisan Leonid Afremov : Love by the Lake), juga karena penerbitnya dalah “Falcon Publishing” yang merupakan penerbit baru  anak dari Falcon Music & Falcon Movie.

Angan Senja & Senyum Pagi

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Resensi buku | Tag , | Meninggalkan komentar