Rindu yang Tak Terbeli

Cerpen by : Funky Tri Doretta

love

“Kau tahu apa yang membuat cinta tetap berkorbar menyala?”

“Rindu!”

Ia menelan ludah mendengar ucapan dari karibnya itu. Tentu saja ia merasa masih memiliki rindu, dan ia yakin betul akan hal itu. Ia bahkan merawatnya setiap hari. Memupuk kerinduan-kerinduan itu agar senantiasa tumbuh dan tidak mati. Tapi bagaimana dengan kekasihnya?

Tidak mudah dan sungguh menyulitkan memang memelihara kerinduan. Anak-anak rindu itu kerap menyiksa dirinya. Tidak jarang ia harus terbangun ditengah malam karena terusik oleh rintihan kerinduan-kerinduan itu. Jika sudah begitu ia pun lantas harus bangkit untuk menimang anak-anak rindu itu, membelai mereka agar mereka dapat sejenak terlelap dan ia bisa melanjutkan tidurnya kembali.

Ketika ia baru membuka mata di ambang fajarpun kerinduan-kerinduan itu telah hadir di depan matanya. Menjadi hal pertama yang dirasakanya. Melompat-lompat seperti anak kecil yang kegirangan melihat ibunda mereka terbangun dipagi hari. Dengan tanpa permisi mereka lalu melukiskan wajah tampan kekasihnya, mendengungkan dengan elok merdu suara bariton yang selalu menentramkan hatinya. Ada bahagia yang terselip tentu saja saat rindu membayangkan rautan wajah kekasihnya, tetapi juga banyak kesedihan yang lantas singgah. Ah, rindu memang pisau bermata dua, bisa membuatmu tersenyum merona, sekaligus berderai airmata.

Anak-anak rindu seperti tidak pernah lelah menggelayuti dan mendekap dirinya hari demi hari. Mereka selalu merengek dan mengiba untuk meminta dituruti. Memohon untuk selalu dilampiaskan. Mengganggu, tetapi ia tetap senantiasa merawat dan menjaga anak-anak rindu itu dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Seperti yang karibnya bilang, Rindu adalah emulsi yang dapat menjaga agar cinta tetap menyala. Rindu adalah isyarat, bahwa cinta masih memiliki percik-percik cahaya pengharapan.  Tanpa kerinduan cinta hanyalah tubuh tanpa nyawa. Seperti Gelas tanpa air. Kosong. laksana kata tanpa makna.

Ia masih memiliki dan merawat kerinduan-kerinduan itu seberapapun hal itu menyiksa dan menyakitkan untuknya. Tentu saja karena ia tidak mau api cinta untuk kekasihnya menjadi redup apalagi padam.  Ia ingin api cinta itu terus menyala dihatinya. Menghangatkan perasaanya, mewarnai hari dan menemani kesepiannya. Tetapi bagaimana dengan kekasihnya nun jauh disana? Apakah dia juga merawat kerinduan-kerinduan untuknya demi tetap menyalakan api cinta mereka berdua? Sudah hampir sebulan lamanya dia tidak memberikan kabar. Tidak ada suara, pesan ataupun secarik berita darinya. Selama itu, apakah dia tidak pernah dirongrong anak-anak rindu seperti halnya dirinya? Jika iya, bagaimana caranya dia bisa menenangkan kerinduan-kerinduan itu? Sementara ia tahu bahwa cara yang paling ampuh untuk menuntaskan hasrat kerinduan-kerinduan itu tidak lain hanyalah satu : Bertemu.

“Aku curiga, kekasihmu itu sudah sama sekali tidak lagi mempunyai kerinduan untukmu. Jika memang ia masih merawat anak-anak rindu untukmu, ia pasti sudah mencarimu sejak kemarin-kemarin” Ia hanya tertunduk mendengar ucapan karibnya itu. ingin menyangkal, tetapi tidak bisa. Apa yang baru saja diucapkan oleh karibnya mau tidak mau diakuinya sebagai kebenaran. Adakah orang yang betah dirongrong rindu? Ia saja sejujurnya seperti sudah tidak tahan lagi untuk melepaskan diri sejenak dari anak-anak rindu itu.

“Jika rindu sudah tidak ada disisinya, lantas bagaimana dengan cintanya? Masihkah cinta itu berpijar dihatinya?” dengan harapan yang kosong ia melontarkan pertanyaan.

“Entahlah, mungkin masih ada meskipun sudah sekarat” jawab karibnya mencoba untuk memberikan sedikit harapan yang sebenarnya hanya basa basi.

“Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya dengan nada putus asa.

“Belilah sepaket anak-anak rindu terbaik. Lalu kirimkan kepadanya. Dengan rindu terbaik, mungkin saja kekasihmu akan kembali menemukan gairahnya kepadamu”

“Rindu terbaik? Dengan apa aku harus membayarnya?”Ia masih kebingan dengan saran dari karibnya.

“Kau harus menebus dengan seluruh kenanganmu bersamanya. Kenangan terbaik. Kenangan terindah tentu saja” lagi-lagi ia menelan ludah. Berat sekali pengorbanan itu. Ia harus menggadaikan seluruh kenangan-kenangan terbaiknya. Tetapi ia harus melakukannya. Mau tidak mau, suka atau tidak suka. Bagaimanapun ia ingin kekasihnya kembali merindukannya. Ia ingin cinta kekasihnya untuknya tetap terjaga menyala, hangat dan membara seperti dulu kala. Dan ia tahu, hanya rindu yang bisa membuat cintanya berkobar  seperti dulu.

Tetapi ia tidak akan menitipkan anak-anak rindu itu kepada siapapun. Ia tidak ingin kerinduan terbaik yang telah ia tebus dengan seluruh kenangannya itu tercecer atau hilang ditengah jalan. Ia ingin memastikan sendiri bahwa anak-anak kerinduan itu sampai tepat dipelukan kekasihnya. Maka ia sudah bertekad untuk mengantarkan sendiri anak-anak kerinduan itu kepada kekasinya. Ia ingin menyelipkan sendiri kepingan-kepingan perasaan itu kedalam rongga-rongga dada dan kepala kekasihnya. Ia ingin melepaskan sendiri anak-anak itu rindu hingga ia bisa melihat dengan mata kepala sendiri ketika anak-anak rindu terbaik menggelayuti dan memanjai kekasihnya, hingga ia yakin ketika ia pergi kembali  kekasihnya akan selalu mencarinya karena tidak betah digelayuti kerinduan terus menerus.

Perjalanan seribu kilometer lebih tidak jua meruntuhkan tekadnya. Membutuhkan 3 kali naik angkot, 2 malam didalam bus antar kota dan 1 kali menumpang ojek untuk tiba di kota kekasihnya. Tempat dimana pohon-pohon tinggi telah berganti dengan beton-beton pencakar langit. Dimana rumput hijau yang luas telah berganti hitam aspal dan keras batu paving. Tidak ada embun meskipun ia tiba disana tepat disaat fajar menyingsing. Yang terasa hanyalah kabut emisi yang menyesakkan dada. Dimana kicau burung yang biasanya ia dengar di kampungnya? Disini denting klakson kendaraan terdengar lebih nyaring memekakkan telinga.

Di kota itu orang-orang berjalan dengan diam dan tidak saling bertegur sapa. Mereka berjalan seperti robot yang dikendalikan oleh mesin. Penuh kekakuan. Diantara orang-orang yang berjalan penuh kekakuan itu ia menyaksikan kejadian yang begitu mengiris hatinya. Dimana ia melihat begitu banyaknya anak-anak kerinduan yang bergelimpangan sekarat. Mereka tercecer dimana-mana, disetiap sisi dan sudut kota. Anak-anak rindu yang sudah terusir, mereka adalah kerinduan-kerinduan yang tidak bertuan.

Rupanya orang-orang disini sengaja mengusir dan bahkan membunuh kerinduan yang datang kepada mereka. Mereka membunuh kerinduan-kerinduan itu dengan kesibukan-kesibukan mereka. Mereka melempar anak-anak kerinduan itu dari jendela gedung pencakar langit, menusuk  dengan sebatang pulpen atau memukul dengan monitor komputer, dengan berbagai cara agar kerinduan itu mati dan berhenti menghinggapi mereka. Bagi orang-orang sibuk, rindu adalah hal yang remeh temeh. Pengusik yang bisa mengganggu produktifitas mereka dalam bekerja. Tidak ada waktu untuk mendengarkan anak-anak rindu. Maka wajar jika ia kemudian menemukan sebuah fakta dimana orang-orang disini kemudian banyak kehilangan cinta mereka. Mereka tidak pernah menyadari bahwa api cinta mereka meredup dan berangsur padam. Mereka tidak tahu, bahwa mereka telah menyirnahkan suluh cinta dihati mereka.

Dijumpainya kekasihnya dengan wajah yang masai. Rona diwajahnya sudah tidak lagi bercahaya, tatapan yang dingin jauh dari sinaran cinta. Patah sudah berkeping-keping hatinya ketika itu. Hanya dengan tatapan mata itu ia sudah tahu bahwa cinta sudah tidak bersemayam lagi di hati kekasihnya. Bukankah mata adalah pancaran hati?  Bahkan anak-anak rindu terbaik yang ia beli dengan seluruh kenangan tak jua bisa menyalakan kembali api cinta di hati kekasihnya. Dan ia sudah tidak tahu lagi harus dengan apa lagi ia menebus kerinduan untuk sang kekasih pujaan hatinya. Tinggallah ia sendiri yang masih setia menimang anak anak kerinduan dihatinya.

Mungkin, sudah saatnya ia menuruti saran Tere Liye dalam sebuah novelnya : “Aku harus menyibukan diri. Membunuh dengan tega setiap kerinduan itu datang” *

***

*Tere Liye dalam novel Sunset Bersama Rosie

Dipublikasi di Cerita Inspirasi, Uncategorized | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Cinta, Sudah Kadaluarsa

Cerpen by : Funky.Tri.Doretta

laki-laki sendiri

Hari yang berbeda di kota Z. Hampir semua orang berbondong-bondong menuju Taman Kota yang terletak persis di pinggir pantai. Sebuah acara bazaar baru saja diakan disana. Bukan bazaar biasa, ini adalah bazaar special karena yang ditawarkan dalam acara bazaar ini adalah cinta. Ya, perasaan cinta.  Sontak, acara bazaar yang lain daripada yang lain ini menyedot banyak perhatian dan peminat.  Banyak orang-orang kemudian memanfaatkan acara ini untuk menjajakan cinta mereka, dan tentu saja acara ini tidak akan dilewatkan oleh orang-orang yang selama ini memang begitu mendambakan dan kehausan akan cinta.

Aku kemudian memutuskan untuk turut meramaikan acara tersebut. Tidak..,tidak..! bukan aku ingin menjajakan cinta atau turut mencari cinta disana. Aku hanya datang sebagai penbonton saya. hanya untuk menuntaskan rasa penasaran akan bagaimana meriahnya acara tersebut. Aku sudah tidak memerlukan cinta dari siapapun  lagi, karena saat ini aku tengah merawat segumpal perasaan cinta dari seorang bidadari, pun sebaliknya aku sudah memeberikan cinta yang kupunyai kepadanya. Bayangkan betapa beruntungnya pemuda jelatah seperti aku ini bisa mendapatkan cinta seorang bidadari dari negeri khayangan.

Ceritanya beberapa tahun silam aku menemukan seorang bidadari yang duduk termenung ditepi pantai. Aku kemudian memberanikan diri untuk mengampiri dan menyapanya. Rupanya bidadari yang berparas jelita itu tengah terluka sayapnya hingga ia belum bisa terbang kembali ke khayangan sampai sayapnya sembuh kembali. Aku lantas menawarkan diri untuk mengisi kesepiannya diantara waktu kesembuhan sayapnya. Berhari-hari kami lantas banyak banyak berbagi cerita, berbagi banyak tawa sampai air mata. Hingga ketika sayapnya pulih dan ia bisa terbang kembali, Bidadari tersebut merogoh dadanya dan memberikan segumpal perasaan cintanya kepadaku. Sebuah perasaan cinta yang merah merona, dan selalu hangat membara. Aku lantas berjanji akan menjaga gumpalan cinta itu dengan baik dan sepenuh hati, sang Bidadari pujaan hati berjanji akan kembali turun ke bumi seminggu sekali untuk bersama-sama memupuk cinta itu agar tetap menyala.

Baru saja tiba di gerbang taman kota, sudah berbagai kejadian yang aku temui. Mulai dari pemuda yang berjalan tertunduk lesu dengan penampilan yang kusut dan wajah yang masai, hingga seorang perempuan cantik yang berjalan sambil bernyanyi dan menari sembari menghirup sebuket bunga ditangannya. Bisa kutaksir apa yang terjadi pada mereka berdua adalah kedua hal yang sangat anti klimaks. Antara gagal dan berhasil mendapatkan cinta pujaan hatinya. Kuhampiri seorang penjaga pintu taman dan menanyakan berapa harga tiket yang harus kubayar untuk masuk ke bazaar cinta.

“Tidak perlu membayar. Simpan baik-baik uangmu untuk bisa mendapatkan cinta yang kau dambakan di dalam sana. Syukur jika kau mendapatkan cinta yang diobral murah. Semoga kau beruntung” Wow! Mengejutkan sekali ucapan penjaga bazaar itu. Aku bahkan tidak perlu membayar untuk masuk ke bazaar ini. Pantas sekali jika bazaar ini dipadati banyak pengunjung. Dan what? Ada cinta yang diobral juga? Waw! Pasti menarik sekali.

Aneh bagiku ketika mendapati mayoritas orang yang memadati bazaar ini adalah remaja-remaja yang masih bau kencur. Mulai dari penjaja cinta sampai pencari cinta. Di usia mereka yang masih begitu muda, untuk apa mereka tergopoh-gopoh menyibukan diri dengan cinta? Bukankah masih banyak hal lain yang lebih pantas mereka perjuangkan? Mengapa mereka tidak lebih sibuk menggapai cita ketimbang cinta? Ah, entahlah. Mungkin jaman memang sudah beranjak gila.

Berlatar pantai yang bermandikan hangat cahaya mentari senja, para penjaja cinta menggelar panggung mereka masing-masing untuk menawarkan cinta mereka. Beberapa panggung terlihat sangat dipadati oleh pengunjung. Mugkin sang penjaja cinta memang seorang idola, atau mungkin panggung terjebut menjajakan cinta yang diobral seperti yang diutarakan oleh penjaga bazaar tadi. Aku tidak berani mendekatinya karena aku malas berdesak-desakan. Lagian aku tidak mengerti. Untuk apa orang-orang tersebut rela sikut menyikut memperebutkan 1 cinta? Sementara masih begitu banyak cinta-cinta lainnya yang bertebaran dimuka bumi ini. Apakah cinta yang murahan memang begitu diminati saat ini?

Menenteng sandal ditangan, aku berjalan membaiarkan telapak kakiku menyatu dengan pasir yang selembut es krim sembari menikmati satu persatu panggung penjaja cinta. Ada banyak cara yang dilakukan para penjaja cinta untuk menawarkan cinta mereka. Ada yang membaca puisi, melukis, atau memamerkan keahliannya memainkan alat musik atu bernyanyi. Mereka ini sudah pasti kelompok-kelompok para pekerja seni yang mencari tambatan cinta mereka. Disini, semua penjaja cinta memang bebas menebarkan pesonanya untuk memikat para pencari cinta. Pada salah satu panggung yang cukup ramai dipadati para mengunjung wanita  aku sempat mengintip seorang pemuda tampan dengan rambut rapi dan  setelan jas lengkap duduk diatas kursinya yang tampak megah dan empuk. Dibelakangnya terpampang sederet mobil mewah dan harta kekayaannya. Banyak kemudian wanita-wanita yang mendambakan cintanya. Mungkin, mereka berfikir bahwa pasti akan sangat membahagiakan memiliki cinta dari seorang pemuda yang punya segalanya. Muda, tampan dan kaya raya. Wanita-wanita tersebut berteriak-teriak mengeluh-eluhkan nama pemuda tersebut dan bersedia membayar dengan apa saja yang mereka miliki untuk mendapatkan cintanya.

Ironis, tepat diseberang panggung  pemuda itu, seorang wanita yang juga masih belia tengah sibuk mempertontonkan setiap lekuk tubuhnya yang sintal. Dengan tatapan sayu dan bulu mata yang lentik, mata itu berkedip sesekali menggoda para pria pencari cinta yang telah memadati panggungnya. Jemarinya yang gemulai sesekali mengusap halus kulit putihnya yang lembut, seolah menawarkan kenyamanan jika disandarkan pada otot-otot bisep pria. Terang saja, para pria dibuat mabuk kepayang olehnya. Mereka berlomba-lomba mempertaruhkan apapun untuk mendapatkan cinta wanita tersebut. Seluruh harta hingga nyawapun bersedia mereka korbankan. Duh, cinta. Betapa ia bisa dengan sangat mudah membuat manusia menjadi khilaf dan gila.

Menyusuri bazaar cinta di tepi pantai ini membuat aku sekali lagi mensyukuri cinta yang sudah kumiliki saat ini. Aku percaya bahwa Bidadari yang telah memberiku sebentuk cinta bukanlah seorang penjaja cinta. Ia bukan wanita pengobral cinta yang mengamburkan cintanya dimana-mana. Ia juga bukan wanita penebar syahwat yang memamerkan setiap lekuk tubuhnya demi penawar cinta. Ia adalah wanita yang agung, wanita yang selalu menjaga kehormatan dirinya. Dan aku selalu percaya bahwa ia adalah wanita yang selalu memegang janji dan kesetiannya.

“Belum menemukan cinta yang cocok?” Suara seorang laki-laki tua tiba-tiba mengejutkanku ketika mengamati seorang pria tengah mengemis cinta pada salah satu wanita di panggung.

“Tidak, tidak ! ugghh.., aku tidak datang kesini untuk mencari cinta” rupanya laki-laki tua  itu adalah penjaga taman yang kutemui di pintu gerbang tadi. Laki-laki tua itu menyeringai dengan matanya yang menyipit. Kumisnya yang putih naik menutupi lubang hidungnya.

“Ehhmm, hanya untuk menghibur diri saja” tambahku salah tingkah. Laki-laki tua itu kali ini menganggukan kepala. Entah isyarat mengerti, atau isyarat tidak percaya.

“Kupikir kau kebingungan hendak menawar cinta yang mana” ucapnya sembari tersenyum

“Oh, tidak. Aku tidak lagi mencari cinta. Aku sudah memilkinya dari seorang bidadari” jawabku dengan nada bangga.

“Bidadari? Kau pasti laki-laki yang sangat beruntung” puji laki-laki tua itu. Aku membusungkan dada, tersenyum.

“Aneh bagi kami para orang tua ini. Dewasa ini, mudah sekali manusia mendapatkan cinta. Lihatlah disini, cinta ditawarkan dengan bebasnya. Begitu banyak pilihan, mulai dari yang murahan sampai yang harus ditebus dengan nyawa. Jaman kami orang-orang dulu. Cinta tidak bisa ditawarkan begitu saja. Sebelum ditawarkan, cinta harus ditempa lebih dulu dengan harapan dan doa. Diuji oleh waktu yang lama” Sang laki-laki tua menghembuskan nafas yang panjang. Membuat aku terbawa pada ucapannya yang tampaknya serius.

“Mungkin jaman memang telah berubah” Aku berkomentar sekenanya. Lelaki tua itu itu mengagguk dengan lemah.

“Sayangnya tidak banyak yang tahu, bahwa cinta yang banyak tawarkan saat ini sangat jarang yang abadi untuk selamanya. Ada masa berlakunya yang kelak akan habis tanpa mereka sadari” sambung laki-laki tua itu masih dengan serius. Aku mengernyitkan dahi.

“Masa berlaku?” tanyaku heran.

“Iya. Cinta yang ditawarkan jaman sekarang banyak yang memilki masa kadaluarsa. Seharusnya mereka lebih berhati-hati dalam memilih sebuah cinta jika mereka menginkan cinta itu untuk mereka jaga selamanya” Jelas laki-Laki tua itu.

“Oh,ya ? Aku tidak tahu kalau cinta sekarang banyak yang memilki masa kadaluarsa” ucapku tidak percaya. Laki-laki tua itu tertawa dengan lantang.

“Lantas menurutmu apa yang membuat jaman sekarang pasangan begitu mudanya berpisah? Yang berpacaran putus ditengah jalan, yang sudah menikah memutuskan untuk bercerai? Semua karena cinta mereka telah layu, pupus, habis masa berkalunya” Jelas laki-laki tua itu lagi. Aku menelan ludah. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dijelaskan oleh laki-laki tua itu.

Tidak menanggapinya lagi, Kutinggalkan laki-laki tua itu begitu saja. Buru-buru aku keluar dari bazzar cinta itu. Sepanjang perjalanan pulang, ucapan-ucapan laki-laki tua it uterus menghantui pikiranku. Benarkah cinta jaman sekarang banyak yang memilki masa kadaluarsa? Bagaimana dengan cinta bidadari yang tengah kujaga sekarang? Apakah juga memilki masa kadaluarsanya? Pada sebuah gang yang sepi aku merogoh dadaku, mengeluarkan sebentuk cinta yang diberikan bidadari itu. Warnanya memang sudah pudar, tidak semerah sebelumnya. Ia pun sudah tak sehangat biasanya. Pantas saja semakin hari debarnya semakin tak terasa. Dengan panik aku membolak-balik sebongkah perasaan cinta itu, mencari tahu jikalau memang terdapat tanggal masa berlakunya.

20.04.2050

Aku menelan ludah, keringat tiba-tiba saja mengucur dari seluruh tubuhku. Sial! Itu berarti masa berkalu cinta ini hanya tinggal sehari lagi. Brengsek! Tega sekali bidadari itu memberikan cinta sementara kepadaku. Aku sangat kecewa! Sungguh, aku sangat marah kepadanya! Aku tidak pecaya, bidadari yang begitu cantik dan kukira tulus hatinya bisa melakukan hal itu kepadaku. Cinta itu kini sekarat, menunggu detik-detik kematiannya esok hari.

***

Dibelahan bumi lain, seorang bidadari cantik tengah memeberikan sebongkah perasaan cinta lainnya kepada seorang pemuda yang kesepian. Tentu saja dia tidak lupa menorehkan tanggal masa berlaku disana.

11.09.2052

***

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi di Cerita Pendek, Uncategorized | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Berjalan dengan 2 Kaki

“Love your job. But Never fall in love with your company!”

Pak Hendry, namanya. Pria berusia sekitar 40 tahunan yang merupakan manager sebuah perusahaan financial di Baturaja. sudah sekitar 2 bulan ini, pak Hendry menjadi pelanggan tetap di Flow Kafe. Hampir setiap sore beliau datang untuk minum kopi atau memesan beberapa camilan sore. Biasanya, beliau datang bersama rekan-rekan kerjanya, bawahan-bawahannya, atau juga pernah beberapa kali datang bersama keluarganya. Tetapi kali ini, dia datang seorang diri.

Duduk sendirian di meja sudut, parasnya terlihat sangat kusam dari biasanya. Wajah yang biasanya tidak pernah lepas dari tawa, senyum dan sapa yang ramah itu seolah tertutupi oleh kabut mendung yang pekat. Sebuah refleksi, bahwa awan mendung pula tengah menggantung didalam benaknya. Dengan pandangan kosong ia menatap hilir mudik kendaraan yang melintas di tengah jalan. Tangannya tiada henti mengapit ujung filter rokok, sementara kopi lampung diatas mejanya sudah habis setengah dan menjadi dingin.

Melihatnya berkabut mendung seperti itu, saya berinisiatif untuk duduk menemaninya. Sebagai seorang pelanggan dan pemilik kedai kopi yang hampir setiap hari bertemu, diantara kami memang hampir sudah tidak ada lagi sungkan. Pak Hendry dan saya sudah seperti teman dekat. Dan bukankah sudah tugas seorang teman untuk mengusir kabut pekat diwajah temannya? Dan ketahuilah, satu-satunya cara untuk mengusir kabut pekat diawah temanmu adalah dengan membiarkannya bercerita. Memancingnya untuk mengeluarkan seluruh mendung itu dari benaknya. Lalu kau, hanya perlu mendengarkan tanpa perlu menyela.

“Tumben pak, sendirian?” sapa saya berbasa-basi sembari meletakkan sepiring kentang goreng dan secangkir kopi diatas meja. Sayapun menarik kursi tepat dihadapannya.

“Iya nih, mas. Manusia kalau lagi ada masalah, jarang ada yang mau menemani. Tapi kalau lagi seneng-seneng, pasti banyak yang datang menghampiri” jawabnya seraya bercanda. Saya terkekeh, ternyata meskipun dalam keadaan yang tampak pusing, Pak Hendry tidak kehilangan selera humornya.

“Hahaha, memangnya sedang ada masalah apa sih, pak? Sampai galau seperti ini?” saya langsung memancingnya untuk bercerita.

Tidak perlu waktu banyak untuk basa-basi. Setelah menyesap kopi lampungnya yang telah dingin dan menyulut kembali sebatang nikotin, Pak Hendry kemudian bercerita kepada saya bahwa beliau tengah menghadapi masalah serius di kantornya. Sebuah kesalahan, ia lakukan tanpa ia sadari. Kesalahan tersebut cukup fatal dan sialnya perusahaan tidak mau mentolerir apapun alasan Pak Hendry. Perusahaan bahkan sudah mengancam untuk memberi sangsi. Tidak tanggung-tanggung, hukuman tersebut adalah pemecatan.

“Di perusahaan, ketika kita melakukan satu kesalahan, hancur semua reputasi dan kontribusi kita sebelumnya untuk perusahaan. Padahal, kalau mau dibandingkan, kesalahan kita mungkin belum apa-apa ketimbang kontribusi kita kepada perusahaan” keluhnya kepada saya. Ya, saya mengerti. Sebagai mantan karyawan yang pernah bekerja di perusahaan selama hampir sepuluh tahun, saya tahu persis kebijakan perusahaan.

“Sebenarnya, aku tidak masalah jika memang harus dipecat oleh perusahaan. Aku hanya mengkhawatirkan anak dan isteriku, mas. Sementara untuk mencari kerja lain bukan perkara mudah. Butuh waktu yang cukup panjang” Keluhnya lagi dengan nada lirih. Saya menarik nafas. Sensasi ketakutan itu menular pada batin saya. Kutub simpul awan mendung yang manungi wajah pak Hendry sedari tadi terkuak jua. Tidak banyak yang bisa saya sarankan kepada Pak Hendry, selain memintanya untuk tetap bersabar dan berdoa untuk diberikan jalan yang terbaik. Jika memang masih menjadi jalan rezeky Pak Hendry, Insyaallah dia masih akan dipertahankan untuk bekerja di perusahaan itu. Namun Jika memang rezeky Pak Hendry di perusahaan tersebut memang sudah sampai disini, niscaya Allah akan menunjukan jalan rezeky lain yang lebih berkah.

Tentu saja dipecat dari perusahaan adalah hal yang sangat mengerikan, terutama bagi orang-orang yang memiliki tanggung jawab besar. Orang-orang yang tidak cuma menafkahii dirinya sendiri, melainkan juga anak-isteri atau mungkin orang tua mereka. Mau diberi makan apa mereka? sementara penghasilan tiba-tiba akan terputus begitu saja. Kehilangan pekerjaan, adalah dilema utama bagi seorang karyawan. Ketakutan yang paling pertama. Ketakutan yang kemudian terkadang membuat seseorang lantasb mengorbankan apa saja untuk bertahan. Tidak jarang bahkan ada yang sampai rela merendahkan harga dirinya dimaki oleh atasaanya,  rela dipotong haknya, mempertaruhkan kesehatan dan keselamatan dirinya. Demi patuh pada perusahaan, beberapa bahkan sampai mengorbankan kewajibannya kepada Allah, swt.  Semua dilakukan hanya demi 1 motivasi : tanggung jawab kepada keluarga dan diri sendiri.

Ketakutan-ketakutan itu  juga menghantui saya sewaktu menjadi karyawan dulu. Bayang-bayang yang selalu menghantui saya setiap waktu. Bagaimana kalau saya tiba-tiba dipecat? bagaimana kalau perusahaan suatu hari nanti bangkrut lalu saya di PHK? Bagaimana jika saya sudah tidak betah lagi bekerja di perusahaan? Mau dapat penghasilan darimana saya jika perusahaan tiba-tiba memberhentikan saya atau saya tidak tahan lantas mengundurkan diri? Lama saya mencari jawaban, sampai akhirnya saya memutuskan untuk mencoba membuat keseimbangan.

Berjalan dengan 2 kaki.

Seperti itulah kira-kira filosofinya. Coba bayangkan jika tubuh kita hanya mempunyai 1 kaki, dimana 1 kaki tersebutlah yang kemudian kita andalkan untuk menopang tubuh kita. Tentu kita akan terjatuh jika kaki kita satu-satunya tersebut keseleo atau patah bukan? Itu alasannya mengapa kita diberi sepasang kaki. untuk menjaga keseimbangan tubuh kita. Setidaknya, jika satu kaki kita terluka, keseleo atau patah, masih ada 1 kaki lainnya untuk menopang tubuh kita. Meskipun mungkin limbung, setidaknya kita tidak akan terjatuh.

Berangkat dari pemikiran tersebut saya lemudian memutuskan untuk mencoba mencari pengahasilan lain selain gaji bulanan sebagai karyawan yang selama ini saya andalkan. Memberanikan diri untuk berproses dengan bisnis.  Dengan doa dan harapan, bahwa bisnis akan membawa ketenangan pada diri saya selama masih menjalani status sebagai karyawan. Tidak khawatir jika sewaktu-waktu perusahaan bangkrut. Tidak cemas jika kemudian saya harus dipecat oleh perusahaan. Apalagi bagi seorang karyawan outsourcing,  putus kontrak hanyalah masalah waktu. Cepat atau lambat.

Emang mudah memulai bisnis sambil tetap menjadi karyawan? Hehehe sudah pasti jawabannya adalah tidak mudah. Mulai dari kebingunan harus memulai dari mana?, tidak fokus, sampai merugi berkali kali. Tetapi saya berfikir berproses untuk bisnis lebih baik dimulai ketika masih berstatus sebagai Karyawan, setidaknya kalau bisnisnya merugi atau belum berhasil, perekonomian kita masih bisa ditunjang dari gaji sebagai karyawan. Karena ternyata bisnis adalah sekolah yang membutuhkan proses pembelajaran yang panjang. Harus jatuh bangun. Kebayang, kalau kita yang masih amatiran ini baru memulai bisnis setelah dipecat atau mengundurkan diri, dengan modal pas-pasan pula. Sekali bisnis kita gagal, hancur sudah kita.

Kegagalan-kegagalan bisnis itu juga saya alami sewaktu menjadi karyawan. Tidak sedikit uang yang terbuang sia-sia karena usaha-usaha yang tidak berjalan dan merugi. Tetapi saya menganggap itu adalah uang kuliah untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman yang matang dalam berwirausaha. Butuh waktu 4 tahunan sampai akhirnya menemukan usaha yang settle. Hingga ketika Perusahaan  tempat saya bekerja kemudian tidak dapat meneruskan kontrak saya, tidak ada sedikitpun yang saya khawatirkan karena saya hanya perlu melanjutkan bisnis saya.

Dengan usaha kedai kopi yang saya jalani saat ini, saya kembali berjalan dengan 1 kaki, tidak lagi sambil menjadi karyawan. Suatu hari nanti mungkin saya akan kembali bekerja diperusahaan sebagai cadangan jika kedai kopi yang tengah saya urus ini drop. Atau mungkin, saya akan membuka sebuah bisnis baru sebagai kaki saya yang satu lagi agar keduanya bisa saling menyeimbangkan. Saya tidak tahu yang mana yang akan saya jalani kelak, tergantung pintu rezeki mana yang akan dibukakan Allah untuk saya suatu hari nanti.

IMG-20140209-00847_Fotor

***

Dipublikasi di Cerita Inspirasi, Uncategorized | Tag , , | 2 Komentar

SIBUK

Baru-baru ini, saya bertemu dengan teman lama yang susah sekali ditemui. Orang yang sangat sibuk dengan segala aktivitasnya, biasanya saya hanya bisa melihat timeline media sosialnya. Melihat kegiatan terkini yang luar biasa, saya hanya bisa kagum dengan segala bentuk kebaikan yang dia lakukan.

Hari ini pasti hari baik karena saya memiliki kesempatan untuk sekedar duduk bersama dalam sebuah acara. Bisa saling bertanya kabar dan bertanya tentang kesibukan saat ini. Kalau bertemu dengan orang baik, selalu saja ada hal-hal yang bisa didapatkan, salah satunya adalah ilmu.

Saat saya bertanya apa kesibukannya saat ini, dia tersenyum dan menjawab. Sedang sibuk mempersiapkan kematian. Sementara saya menjawab kesibukan saya adalah bekerja di sebuah perusahaan dan segala bentuk proyek yang sedang saya kerjakan. Tentu saja, saya penasaran dengan jawabannya. Dan kebaikannya memberikan saya pemahaman baru, dia bersedia menjelaskan jawabannya.

Ini penjelasanya.

“Kematian itu adalah hal terbaik untuk mengingatkan manusia pada kehidupan yang sebentar ini. Sesungguhnya kan, hidup ini serangkaian ujian. Di masa muda seperti ini, di tengah ramainya kegalauan yang memasal. Sedikit sekali yang mau bercerita tentang kematian. Semua orang sedang sibuk dengan membangun karir, mencari pasangan hidup, dan semua bentuk aktivitas yang sengat dunia sekali. Sampai pada satu titik, saya menyadari bahwa semua hal yang saya lakukan ini sebenarnya aktivitas menunggu kematian.

Saya tidak tahu kapan mati, mungkin besok, tidak pernah tahu. Maka, sejak saat itu saya meniatkan segala aktivitas ini adalah aktivitas terbaik untuk mempersiapkan kematian dengan sebaik-baiknya. Menjadi orang baik, melakukan hal-hal baik, berbagi hal-hal baik, dan segala hal yang sekiranya bisa membuat kematian nanti menjadi hal yang penuh rasa syukur, bukan penyesalan.

Kalau kita sedang bekerja, maka niatkan pekerjaan itu beribadah dan melakukannya dengan kejujuran dan kebaikan. Kalau kita mati saat bekerja, insyaallah kita tidak menyesali waktu kita yang banyak habis di tempat bekerja. Begitu pula dengan aktivitas saat ini, saya selalu mencari peluang beribadah. Bagaimana saya bisa beribadah sambil melakukan semua hal ini.

Ibadah kan maknanya luas, tidak sebatas pada shalat, puasa, haji. Tapi juga bentuk kebaikan lainnya. Ibadah sosial maksud saya. Semoga, setiap aktivitas ini memberikan kebaikan tidak hanya diri saya sendiri, tapi juga bagi orang lain. Saya sedih saat melihat orang berlomba-lomba memperkaya pahalanya, lupa untuk menolong orang lain agar bisa mendapatkan pahala juga dari setiap kebaikan yang dilakukan. Bayangkan, saat kamu melakukan kebaikan, yang mendapatkan pahala tidak hanya kamu, tapi kamu juga memudahkan orang lain untuk bisa mendapatkan pahala. Luar biasa kan?”

Saya berusaha memahami maksud kata-katanya, tidak bisa tidak setuju. Saya tersenyum karena selalu senang bertemu dengan orang baik. Selalu bisa merasakan kebaikan yang menyelimutinya dan bisa ikut mendapatkan kebaikan itu.

“Kamu sedang sibuk juga kan mencari pasangan? Semoga kamu dipertemukan dan disatukan dengan orang yang baik, kemudian membangun keluarga yang baik, melahirkan anak-anak yang baik, dan menjadikan keluargamu sebagai contoh kebaikan untuk keluarga lainnya. InsyaAllah. Dengan begitu, kamu sudah mempersiapkan kematianmu dengan cara yang benar,” ujarnya.

Saya mengaamiinkan doanya dalam hati, sambil tersenyum. Kami lalu saling berpelukan sebelum berpisah. Semoga tetap istiqamah di jalan kebaikan ini. Saya pun segera pergi, ikut mempersiapkan kematian.

***

 

Dipublikasi di Cerita Inspirasi, Uncategorized | Meninggalkan komentar

Syamsul Bahri

Tidak sulit mengenali bocah itu. Di taman kota Baturaja, ia sudah sangat dikenal oleh banyak orang. Kulitnya yang putih dan matanya yang kecoklatan menjadi ciri khas tersendiri bagi dirinya. Persis seperti anak seorang bule.  Saban sore mulai dari jam 4, bocah itu pasti muncul disekitar taman kota. Tanpa alas kaki, memanggul karung plastik putih yang sarat berisi botol-botol plastik dan kaleng susu bekas di pundaknya.

Syamsul namanya. Saya baru mengenalnya ketika Flow Kafe resmi dibuka di Taman Kota Baturaja sekitar 3 tahun yang lalu. Dari pengunjung kafe dan pedadang-pedagang lain yang sudah lama berjualan di Taman Kota, saya mendapatkan informasi bahwa bocah mirip bule itu sudah lama memulung di Taman Kota Baturaja. Biasanya, Syamsul tiba di Taman kota pukul 4 atau 5 sore dengan berjalan kali dari rumahnya yang berjarak sekitar 8 Km. Pukul 10 malam nanti, Ayahnya akan menjemputnya dengan sebuah gerobak kayu. Jadilah Syamsul dan botol-botol hasil memulungnya kemudian naik diatas gerobak, sementara Ayahnya akan mendorong gerobak tersebut sampai kerumah.

Photo0102

Syamsul (Kiri) bersama teman-teman Taman Kota Baturaja

Tidak langsung dijual, botol-botol yang berhasil dikumpulkan oleh Syamsul setiap malamnya akan ditumpuk di pekarangan rumahnya, dijadikan satu dengan botol-botol bekas yang didapat oleh ayah dan kakaknya yang juga mencari botol bekas. Setiap 3 atau 4 bulan, baru botol-botol tersebut akan dijual kepada pengepul. Hasil penjualannya kemudian digunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga juga pendidikan Syamsul. Dibelikan buku, sepatu dan seragam sekolah. Tidak selalu sendirian, saat-saat tertentu Syamsul terkadang mengajak kakak perempuannya yang bernama Yanti untuk membantu, terutama disaat-saat pengunjung Taman Kota ramai seperti pada malam tahun baru atau malam takbiran lebaran. Sama seperti Syamsul, Yanti juga berperawakan seperti seorang anak indo belanda. Berkulit putih, bermata cokelat dan berambut pirang. Cantik, namun ia tidak pernah gengsi disaksikan banyak orang memungut botol bekas di Taman Kota. Meskipun kemudian setahun belakangan ini Yanti sudah jarang membantu Syamsul mencari botol bekas di Taman Kota. Sekolahnya yang mulai menginjak bangku SMA membuatnya harus lebiuh banyak tinggal di rumah untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah. Tetapi tidak berarti dia berhenti membantu kedua orang tuanya.Di sela-sela waktuanya belajar, Yanti masih menyempatkan membuat dan memanggang kemplang untuk dijual sebagai tambahan penghasilan keluarga. Anak-anak yang luar biasa, bukan ?

IMG-20140728-01197

Kalau sudah begini, siapa yang percaya kalau dia adalah pemulung botol bekas ?

Saya yang memang selalu kagum sekaligus prihatin terhadap anak-anak pekerja keras seperti Syamsul kemudian mencoba mendekatinya secara personal. Mulai dari mengajaknya makan, ngobrol atau bermain bersama teman-teman lainnya sesama pencari nafkah di Taman Kota Baturaja.

Sedari awal mengenal dan kemudian dekat dengannya, saya sudah menemukan banyak perbedaan dan keistimewaan bocah ini dibanding teman-temannya yang lain. Syamsul adalah anak yang paling konsisten dalam pekerjaannya. Ketika teman-temannya yang lain berpindah-pindah pekerjaan mulai dari menyemir sepatu, mengamen atau jualan koran, Syamsul tetap bertahan memungut botol-botol plastik dan kaleng susu bekas para pengunjung dan pedagang di taman kota. Ketika teman-temannya yang lain terbawa arus pergaulan jalanan yang liar dan nakal, Syamsul menjadi satu-satunya anak yang sama sekali tidak terpengaruh dan bertahan pada jati dirinya. Motivasinya yang kuat untuk membantu perekonomian keluarga dan membiayai sendiri sekolahnya membuatnya teguh memiliki prinsip bahwa ia harus tetap menjadi anak yang baik. Untuk itulah ia menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan bekerja, bukan hanya untuk sekedar mencari uang jajan atau membeli mainan semata.

Di Taman Kota, Syamsul dikenal sebagai anak yang ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja. Penampilannya selalu bersih walaupun ia seorang pemulung. Syamsul juga tidak pernah mengulurkan tangan untuk mengiba kasihan kepada orang lain. Jika ada orang yang memang ingin membantunya, baru ia akan menerima dengan hati yang penuh syukur. Perilaku Syamsul inilah yang membuat ia disukai banyak orang di Taman Kota, mulai dari pedagang, juga pengunjung. Membuat ia menjadi anak jalanan yang paling dikenal di Taman Kota Baturaja. Berkah yang kemudian membuat Syamsul banyak diliput  oleh media cetak, online juga elektronik. Beberapakali, ia muncul di stasiun TV lokal dan nasional, juga di saluran Youtube. Liputan-liputan media ini tidak hanya membawa ketenaran untuk Syamsul, poin pentingnya adalah Syamsul dapat menjadi inspirasi bagi lebih banyak lagi anak-anak lain untuk giat membantu orang tua mereka. Meskipun mungkin tidak harus dengan bekerja mencari nafkah seperti Syamsul, melainkan dengan belajar lebih giat dan memperoleh prestasi yang membanggakan orang tua.

DSC07372

Kedekatannya dengan para pengunjung Taman Kota Baturaja

3 Tahun lebih mengenal dan dekat dengan Syamsul, membuat kami memiliki keterikatan emosi. Syamsul sudah seperti adik sendiri bagi saya. Meskipun saya kemudian jarang berada di kota Baturaja, kami terus berkomunikasi kasih lewat ponsel. Setiap lebaran di Baturaja, Syamsul selalu datang ke rumah, begitu juga setiap kali saya menggelar kegiatan “Baturaja Baca Gratis” setiap minggu pagi di Baturaja, Syamsul selalu hadir untuk membantu saya membereskan buku-buku bacaan. Tetapi sepertinya, saya akan lama tidak menjumpai adik berwajah bule ini. Seminggu yang lalu, Syamsul mengabarkan bahwa ia dan Yanti sudah dibawa keluarga ayahnya ke Kota Medan. Keluarga Ayahnya tersebut berniat untuk menyekolahkan Syamsul dan Yanti disana.

DSC_0000551

Saat lebaran di rumah

Ada perasaan sedih ketika mendengar khabar dari Syamsul tersebut. Bagaimanapun, mereka berdua sudah saya anggap seperti adik saya sendiri. Perasaan bersalah, juga menyelip tiba-tiba di dalam hati. Menyesal, karena selama ini saya belum bisa membantu banyak kedua adik saya tersebut. Di sisi lain, saya merasa bersyukur mereka berdua mau ikut keluarga yang mau menyekolahkan mereka meskipun kemudian mereka harus berpisah dengan kedua orang tua kandung mereka, karena selama ini sebenarnya sudah banyak orang yang bersedia mengangkat mereka sebagai anak dan disekolahkan, tetapi mereka selalu menolak karena enggan berpisah dengan kedua orang tua mereka.

983712_10205524643504085_6060653860293135686_n

Membantu di Baturaja Baca Gratis

Kali ini, Syamsul dan Yanti akhirnya menyerah pada keadaan. Sekolah mereka yang makin meninggi secara otomatis membuat biayanya semakin meninggi juga. Sementara, memungut botol bekas di Taman Kota bukan lagi pekerjaan mudah seperti dulu. Pengunjung yang semakin sepi dan banyaknya pemulung pendatang kerap kali membuat penghasilan Syamsul semakin berkurang. Tidak jarang ia kemudian mencari di luar Taman Kota sampai berpuluh-puluh kilometer demi memenuhi karungnya dengan botol bekas.

Demi alasan meneruskan pendidikan itulah, Syamsul dan Yanti akhirnya bersedia ikut keluarganya di Medan. Demi sekolah yang tidak boleh putus, demi harapan untuk terus membantu kedua orang tua mereka, demi masa depan yang lebih baik. Keputusan yang tidak mudah bagi anak seumuran mereka, namun tetap mereka jalani dengan ikhlas. Mengabaikan perasaan sedih, saya bersyukur Syamsul sekarang tidak perlu lagi menghabiskan tenaga dan waktunya untuk mencari botol bekas. Dengan begitu, ia bisa punya banyak waktu dan lebih fokus untuk belajar dan berprestasi disekolah. Demi membantu kedua orang tua, demi masa depan yang lebih baik. Teruntai doa untuk kedua adik saya disana.

Dipublikasi di Cerita Inspirasi | Tag , , | Meninggalkan komentar

KOTA BATU

 Cerpen by : Funky Tri Doretta

Minggu pagi. Penduduk kota Baturaja digemparkan oleh berita yang menghebohkan. Tugu Beras yang selama ini menjadi maskot kota Baturaja menghilang dari tempatnya. Berita tersebut membuat para penduduk kota Baturaja berbondong-bondong menuju simpang lima pasar inpres yang merupakan pusat kota Baturaja. Dan benar, mereka sudah tidak menemukan lagi patung sepasang petani yang duduk di atas tumpukan padi itu lagi disana. Simpang lima pasar inpres itu menjadi sangat lenggang dan lapang. Sama sekali tidak ada bekas sedikitpun yang tertinggal dari patung itu.

Lalu kemana patung sepasang petani itu pergi? Masyarakat kota Baturaja yang memadati pasar lama saling bertanya-tanya. Tetiba saja menghilangnya patung yang merupakan simbol kota baturaja ini menjadi misteri besar seluruh kota pagi ini. Bagaimana tidak? Bahkan sampai kemarin sore,  masyarakat masih melihat patung itu berdiri kokoh ditempatnya. Tidak bergeser satu senti pun.

“Pastilah ado jeme yang maling patung itu”1 ucap salah seorang warga setengah berteriak.

“Aau. Pastilah ado yang malingnyo”2 sahut salah seorang warga lainnya menyetujui.

“Siape uhangnye? Die harus betanggung jawab batakke patung itu lagi ketempatnye semule!”3 seru warga lainnya lagi dengan penuh emosi.

“Tangkep uhangnye..!!”4

“Tangkeeep..!”5 teriak yang lainnya sahut menyahut.

Seketika masyarakat yang telah memadati pasar terprovokasi. Mereka menuntut patung sepasang petani itu berdiri kembali ditempat semula. Suasana begitu riuh dan gaduh. Dari anak-anak sampai orang dewasa, laki-laki dan perempuan, semuanya sepakat berteriak menuntut sang pencuri diketemukan, dihukum dan patung sepasang petani itu diletakan ketempat semula.

Wajar saja. Karena patung sepasang petani yang merupakan tugu beras tersebut adalah  kebanggaan penduduk kota Baturaja. Sebuah simbol yang melambangkan keperkasaan pangan kota Baturaja dimasa lalu. Konon, memang produksi beras daerah ini melimpah ruah. Dengan tanah yang subur, sungai ogan yang terus mengalir dan sawah yang luas membentang, daerah Baturaja menjadi lumbung pangan bagi seluruh negeri. Membantu daerah-daerah lainnya yang mengalami krisis pangan.  Tidak hanya padi, Baturaja juga terkenal dengan hasil perkebunan buahnya yang terkenal nikmat. Durian Bakung, duku Peninjauan, cepedak, semua adalah buah-buahan khas Baturaja yang sangat tersohor. Ketika musimnya tiba, banyak pedagang-pedagang dari jawa yang berbondong-bondong memborong buah-buahan itu untuk dijual kembali di tanah mereka. Sekali sebut durian Bakung atau duku Peninjauan, sudah pasti dagangan mereka laris manis dan dibeli dengan harga tinggi.

Tetapi siapa yang bisa mencuri atau memindahkan patung sebesar itu? Pasti dibutuhkan tenaga, alat dan kendaraan yang ekstra besar untuk mengangkut dan menindahkan patung sepasang petani tersebut. Sebagian penduduk yang memadati pasar mulai meragukan pencurian patung sepasang petani tersebut. Tetapi tidak mungkin juga kalau patung sepasang petani itu menghilang begitu saja tanpa sebab musabab.

“Tenaang..! Tenaang..!” ditengah kegaduhan pasar, tiba-tiba seorang laki-laki tua mencoba untuk meredakan suasana. Dengan menggunakan pakaian dan sorban serba putih, laki-laki berjanggut panjang itu berdiri diatas anak tangga tertinggi pasar inpres agar terlihat oleh semua orang.

“Daripada kita menduga-duga, berprasangka buruk yang bisa berujung fitnah. Lebih baik kita memastikan kemana perginya patung itu” ujarnya dengan suara yang lantang.

“Cakmane carenye? Ngatek sikokpun uhang yang nginak siape malingnye” 6 tanya seorang warga tidak kalah lantang

            “Auuu, cakmane carenye?“ 7

            “Cakmane?“8 keadaan kembali riuh dan gaduh.

     “Tenaaang! Tenaaang semuanya!  Laki-laki tua bersorban itu kembali mencoba menenangkan suasana. Dalam sesaat keadaan berangsur tenang kembali, semua masyarakat menunggu ucapan selanjutnya dari laki-laki tua bersorban itu.

            “Aku akan mencoba memanggil seorang sesepuh kota ini yang bisa menerawang keberadaan tugu beras yang menghilang” ucap laki-laki tua itu kemudian.

            “Sape uhangnye?”8 tanya seorang penduduk dengan suara lantang.

            “Auu, sape uhangnye?”9 masyarakat yang penasaran kembali gaduh bertanya-tanya

            “Tenaaaang…! “ lagi-lagi laki-laki tua bersorban itu harus bersusah payah menenangkan penduduk yang sangat tidak sabaran.

           “Saya tidak bisa menghadirkan orang itu sekarang juga. Esok pukul 3 sore, kita berkumpul lagi di pasar lama ini. Kita akan mendengar sendiri pernyataan beliau mengenai hilangnya tugu beras” ucapnya dengan suara keras agar semua penduduk mendengar.

            “Sekarang, kita semua pulang ke rumah masing-masing. Aku berjanji, esok saya akan membawa sesepuh itu datang kemari dan kita semua akan mendapatkan jawaban atas misteri hilangnya tugu beraskita ini” lanjutnya mencoba memberikan keyakinan kepada penduduk.

            Laki-laki tua bersorban putih itu kemudian turun dari tangga pasar inpres dan berlalu dengan santai meninggalkan pasar lama. Para penduduk yang memadati pasar lamapun akhirnya mengikuti langkahnya meninggalkan pasar, mereka pulang dengan perasaan penasaran dan kepala penuh tanda tanya. Siapa sesepuh kota Baturaja yang dimaksud oleh laki-laki tua bersorban tadi? Karena setiap dusun di dalam kota Baturaja ini mempunyai sesepuh yang berbeda-beda. Sesepuh desa Saung Nage berbeda dengan sesepuh dusun Tanjung Kemala, sesepuh dusun Tanjung Kemala berbeda dengan sesepuh Dusun Baturaja. Siapa kira-kira diantara mereka yang mengetahui perihal hilangnya patung sepasang petani itu?

            Malam harinya di seputaran pasar lama Baturaja  menjadi mencekam. Semua toko-toko tutup dan pedagang kaki lima yang biasanya berjualan nasi goreng, jamu, martabak tidak ada yang menggelar dagangan mereka. Jalanan begitu lenggang dan sepi, nyaris tidak terdengar suara apapun kecuali suara angin dan daun yang terseret di aspal dan trotoar. Rembulanpun seperti enggan menyinggahkan cahayanya di langit kota baturaja, membuat kota itu semakin gelap. Malam itu kota baturaja persis sperti kota mati. Semua penduduknya mengunci pintu rapat-rapat dari dalam, tidur lebih cepat agar bisa menyongsong pagi lebih cepat pula. Mereka seperti sudah tidak sabar untuk menyibak misteri hilangnya Tugu Beras.

***

            Hari yang dinanti itu tiba. Para penduduk kota Baturaja sudah memadati pasar lama. Mereka bahkan sudah datang sejak pagi hari. Tidak hanya dari dalam kota Baturaja, para penduduk dari dusun-dusun yang tinggal di pinggiran pun berbondong-bondong datang menuju pasar lama Baturaja untuk turut menyibak misteri ini. Mereka datang dari daerah Lengkayap, Peninjauan, Batu Putih, Batumarta dan lain-lain. Kehadiran mereka membuat pasar lama menjadi sesak dan padat.

            Jam 3 sore sudah berlalu lebih dari setengah jam, namun Laki-laki tua bersorban kemarin belum juga menampakan batang hidungnya untuk menepati janji membawa seorang sesepuh yang bisa mengungkap misteri ini. Para penduduk yang sudah tidak sabar mulai risau, mereka bergumamam mengumpati laki-laki tua bersorban putih kemarin.

Ketika suasana mulai beranjak gaduh, laki-laki tua bersorban itu datang menepati janjinya. Dia berjalan dengan tenang dari arah simpang empat pasar lama menuju pasar inpres. Disebelahnya berjalan seorang perempuan yang tampak jauh lebih tua darinya. Perempuan tua Itu tambak perjalan dengan punggung yang sudah membungkuk. Rambut panjangnya yang hampir semuanya putih begitu berantakan dan kaku seperti ijuk kelapa. Pada beberapa bagian rambut terlihat ikatan-ikatan dari tali plastik.  Tanpa alas kaki, perempuan tua itu mengenakan pakaian yang sangat lusuh dan compang-camping, bagian pinggang perempuan tua tersebut melilit juga tali plastik berwarna kuning. Perempuan tua tersebut terus berjalan mengikuti laki-laki bersorban dengan dibantu sebatang kayu sebagai tongkat penopang tubuhnya yang mulai ringkih.

            Para penduduk dengan spontan menyingkir ketika kedua orang tua tersebut melintasi mereka. Bukan sekedar untuk memberikan jalan bagi mereka, tetapi juga untuk menghindari bau tidak sedap yang menyeriak dari tubuh si perempuan tua yang compang-camping itu. Semua penduduk yang dilewatinya menutup hidung sambil menatap dengan sinis, tetapi si perempuan tua itu membalas dengan tawa cengengesan menunjukan sisa-sisa giginya yang menghitam. Sesekali ia menggeretak beberapa orang seperti hendak menyerang, membuat orang-orang tersebut berlari menghindar ketakutan.

            “Pen…ceng…” ucap seorang wanita paruh baya tidak percaya ketika melihat kedua orang tua itu menaiki tangga pasar inpres

            “Penceng?”

            “Penceng?”

            “Hah? Itu Penceng?”

            Satu persatu pendudukpun mulai menyadari bahwa perempuan tua compang-camping itu adalah Penceng. Penduduk yang masih berusia anak-anak dan remaja mungkin tidak mengenalinya, tetapi bagi penduduk yang sudah paruh baya keatas, Penceng bukanlah nama asing bagi mereka. Di Kota Baturaja, penceng sangat terkenal di tahun 70 sampai 80 an. Penceng adalah legenda orang gila di Baturaja. Konon pada masa-masa itu, ia kerap beraksi dengan mengamuk di simpang empat jembatan ogan, membuat semua orang merasa takut dengan amukannya.

Lebih dari 30 tahun sudah Penceng tidak terlihat di Kota Baturaja, tidak ada yang tahu pasti kemana dan bagaimana ia menghilang dulu. Ada yang mengatakan bahwa Penceng tewas setelah tertabrak kereta batu bara, ada yang bercerita bahwa ia hanyut di sungai ogan, ada juga yang mengaku melihat ia dibunuh dan dibuang ke hutan. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana dulu Penceng menghilang dari kota baturaja, seperti tidak ada yang menduga bahwa dia akan kembali ke kota Baturaja sore itu.

            “Saudara-saudaraku. Seperti yang sudah saya janjikan kemarin, saya telah membawa sesepoh kota kita, orang yang selama ini kita kira telah tiada. Penceng akan membantu kita menyibak misteri hilangnya tugu beras kebangaan kita” Laki-laki tua bersorban itu berucap penuh semangat dan keyakinan. Disebelahnya berdiri penceng yang cengengesan sambil bertopang tongkat kayunya

            “Dak mungkin! Mane bise wong gilo ngebantu kito!”10 teriak salah seorang penduduk meragukan

            “Auu! Mane mungkin dio pacak bantu kito!” 11

            “Dak biso!” 12

            “Dak biso!”

            Sahut menyahut para penduduk menolak ide sang laki-laki tua untuk menggunakan Penceng dalam menyibak misteri hilangnya tugu beras.

            “Tenaaang! Sabaar saudara-saudara ! tenaaang semuanya!” teriak laki-laki bersorban itu dengan keras. Seperti terhipnotis oleh suara laki-laki bersorban itu, semua penduduk berangsur-angsur diam.

            “Saat ini tidak ada orang yang lebih sepuh lagi diantara kita selain Penceng! Adakah diantara kita yang usianya lebih tua dari perempuan gila ini? Selama ini Penceng telah bersembunyi di balik hutan. 30 tahun lebih ia bertapa di puncak bukit pelawi tanpa diketahui oleh siapapun juga. Tidak ada satupun diantara kita yang bisa menandingi kesaktiannya saat ini“ Laki-laki bersorban itu menjelaskan dengan penuh kesabaran. Memberikan pengertian kepada seluruh penduduk kota. Para pendudukpun terdiam, mempertimbangkan penjelasan dari laki-laki bersorban itu. Mereka baru tahu, kalau selama ini Penceng menghilang untuk bersembunyi dan bertapa di puncak bukit pelawi, bukan meninggal seperti yang mereka duga selama ini.

            “Sekarang mari kita biarkan Penceng bekerja, membantu kita mengungkap misteri ini” Laki-laki tua bersorban itu melanjutkan setelah melihat penduduk yang tenang dan menerima penjelasannya.

            Tanpa diperintah, Penceng mulai bekerja. Mendadak wajahnya yang cengengesan berubah menjadi serius. Memegang tongkat kayu dengan kedua tangannya, ia menunduk seolah menyembunyikan wajahnya. Yang terlihat kini hanya rambut putihnya yang berantakan dan diikat tali plastik disana-sini. Didalam wajahnya yang tertunduk dan tertutup rambut yang berantakan itu mulutnya berkomat-kamit seperti membacakan sebuah mantra. Tidak lama, hanya beberapa menit saja iya sudah mengangkat wajahnya yang kusam itu kembali.

            “Hihihihihi..Hihihihihi” Penceng tiba-tiba terkikik sendiri sambil berputar-putar mengangkat tongkatnya. Suara tawanya begitu nyaring seperti setan yang sbaru menemukan mangsa, membuat para anak-anak merinding dan bersembunyi dibalik punggung orang tua mereka. Bagi para penduduk yang baru melihat Penceng, mereka pasti keheranan melihat tingkah perempuan gila itu. Tetapi tidak bagi orang-orang tua yang telah mengenal Penceng puluhan tahun silam. Tingkah seperti itu memang sudah menjadi tabiatnya sejak jaman dulu.

            “Patong keduo petani itu bukan dimaling”13 ucap Penceng dengan suara yang serak dan berat. Seumur-umur orang mengenal penceng menjadi legenda orang gila di Baturaja, baru kali ini mereka mendengar penceng berbicara dengan nada serius. Bukan sambil tertawa dan cengengesan.

            “Patong keduo petani itu pegi karno diusir!”14 sambungnya yang diakhiri dengan tawa cekikikan khasnya.

            “Hah?!” para penduduk yang mendengar penjelasan Penceng saling bertatapan, mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Penceng. Bagaimana bisa patung yang terbuat dari batu itu pergi dengan sendirinya? Mereka bahkan tidak bisa bergerak sama sekali. Lagi pula siapa yang berani mengusir patung kedua petani tersebut? Mengapa mereka diusir? Semua tidak bisa masuk diakal. Ucapan Penceng jelas tidak dapat diterima.

            “Dasar wong gilo! Mano ado patung biso pegi dewek! Dasar sinting!”15 seorang penduduk memulai mengumpat Penceng dengan nada emosi.

            “Penceng Sinting!”

            “Dasar wong gilo!” Emosi penduduk begitu cepat menyebar, seperti percikan api ditengah padang ilalang yang kering.semua menjadi panas dan marah kepada Penceng.  Mereka mulai melempari Penceng batu, sandal, botol atau apa saja yang berada di dekat mereka. Persis seperti puluhan tahun lalu setiap kali penceng mengamuk di simpang empat.

            Tetapi sedari dulu Penceng tidak pernah membalas serangan mereka. Tidak pernah! Penceng menari-nari diatas tangga pasar inpres sambil memutar-mutar tongkatnya. Sambil bernyanyi tidak jelas dan tertawa kerkikik dia mengabaikan batu-batu dan botol yang menghantantam tubuh dan kepalanya. Dan sekali dia mengadahkan kepala dan mengangkat tongkatnya kearah langit, tiba-tiba halilintar menggelar dengan keras dan sahut menyahut. Para penduduk terdiam dan menatap langit yang menjadi gelap. Awan hitam berkumpul dengan cepat dan menutupi matahari. Hanya sedikit saja cahaya matahari yang bisa menembus awan pekat itu. Para penduduk ketakutan seketika, mereka mendadak cemas akan apa yang terjadi pada langit.

            Diantara suara guntur dan petir suara penceng masih terdengar bernyayi dan tertawa cekikikan. Penduduk kembali melempari Penceng dengan benda-benda keras, mereka memaksa Penceng untuk mengembalikan langit seperti semula dan tidak menakut-nakuti mereka.

            “BERHENTI !!” tiba-tiba suara itu menggelar bak halilintar yang tengah sahut menyahut diangkasa. Seorang lelaki bertubuh besar dan tegap berjalan dari balik kerumunan orang banyak. Lelaki itu juga memakai baju dan celana kain serba putih, dengan bagian dadanya yang terbuka. Di kepalanya melingkar sebuah sabuk yang juga berwarna putih. Tubuh lelaki itu begitu tinggi dan kekar dengan otot-otor menyembul pada dadanya yang bidang. Dia berjalan dengan tatapan yang tajam menuju pasar inpres.

            “Selamat datang kstaria serunting sakti!” Penceng tiba-tiba menuntukan dan memberikan hormat kepada lelaki kekar itu.

            “Serunting sakti? Si pahit lidah?” Para penduduk sontak tidak percaya, satu lagi legenda kota mereka tiba-tiba hadir ditengah kota dalam keadaan seperti ini. Si Pahit Lindah.

            “Dengar semuanya!” ucap si pahit lidah dengan nada keras.

            “Penceng benar! bahwa kedua petani itu telah pergi karena diusir!” lanjutnya dengan lantang. Para penduduk terlihat kebingungan dengan pernyataan si pahit lidah.

            “Siape yang sude ngusirnye?” 16 tanya seorang penduduk, si pahit lidah diam sejenak, sementara penduduk menunggu dengan penasaran.

            “Aku yang sudah mengusir mereka” jawab si pahit lidah kemudian. Penduduk semakin tidak percaya dengan apa yang barusaja diakui oleh si pahit lidah.

            “Cakmane ngan pacak ngusirnye, wahai si pahit lidah? Sementare die uhang Cuma patung batu?”17 Seseorang  menuntut penjelasan si pahit lidah.

            “Hahahaha..” Tawa si pahit lidah menggelenggar serupa gemuruh dilangit kota, disusul oleh Penceng yang cekikikan.

            “Apakah kalian lupa, bahwa akulah yang telah menjadikan mereka batu dengan sumpahku? ” jawab si pahit lidah. “Telah kutarik sumpahku terhadap mereka, hingga mereka menjadi manusia yang hidup kembali, lalu kusuruh mereka meninggalkan kota ini jauh-jauh. Itu adalah perkara yang mudah bagiku” sambungnya dengan nada sombong. Para penduduk yang memadati pasar lama terkesima mendengar jawaban si pahit lidah. Tidak percaya bahwa ia akan menarik sumpahnya terhadap sepasang petani itu lalu mengusir mereka dari kota Baturaja.

            “Ngapo kau lakuke itu, ksatria?” 17 tanya seorang penduduk dengan suara bergetar. Bak awan hendak menumpahkan hujan.

            “Apakah kalian juga telah lupa, bahwa akulah yang dulu telah menjadikan kerajaan ogan ini menjadi negeri batu. Sebuah tempat yang kemudian kalian namai Baturaja. Telah kuberikan kalian harta karun berupa batu-batu yang indah di tanah kalian.  Sombong sekali kalian telah meninggalkan warisanku iru dengan membanggakan hasil kebun dan tani. Menjadikan patung sepasang petani yang kusumpah jadi batu menjadi maskot kota kalian. Lalu lihatlah sekarang, apakah kalian masih menopang hidup dari hasil kebun dan tani itu? Tidak! Kalian kini menggali tanah bukan untuk menanam padi, melainkan untuk mencari warisan yang telah kutinggalkan, batu-batu indah yang kemudian kalian jual. Batu-batu itulah yang kini menghidupi kalian. Apakah kalian tidak malu dengan patung sepasang petani yang kalian sebut tugu beras sebagai maskot kehidupan kalian? Sungguh, mereka sudah tidak pantas menjadi lambang kehidupan kota ini. Itulah sebabnya aku mencabut sumpahku atas mereka, lalu mengusir mereka dari kota ini. Kota ini adalah tempat yang tidak pantas lagi bagi mereka. Sedari dulu, sudah dikodratkan kota ini menjadi batu. Itulah sebabnya kota ini bernama Baturaja. Raja dari segala bebatuan di muka bumi ini”

            Bersamaan dengan si pahit lidah mengakhiri jawabannya, sebuah halilintar besar menggelegar di angkasa. Suaranya begitu memekakkan telinga. Hujan seketika dengan derasnya berjatuhan ke bumi disertai dengan angin yang kencang. Langit bergemuruh dengan petir yang sambung menyambung. Para penduduk yang memadati pasar lama kalang kabut. Mereka berlari kocar kacir di tengah hujan deras untuk mencari perlindungan. Secepat mungkin mereka meninggalkan pasar lama untuk kembali kerumah masing-masing, Berlindung dari hujan yang berubah menjadi badai. Ketika penduduk sedang kalang kabut itu, si pahit lidah mengeluarkan kesaktiannya, dengan sekali tunjuk sebuah halilintar menancap dibumi dan menjadi batu yang besar. Persis di tempat bekas patung sepasang tani yang menghilang.  Setelah itu ia pun berjalan menembus hujan diiringi oleh Penceng yang menari-nari dan tertawa terkikik-kik. Mereka kemudian menghilang dibalik pekatnya hujan sore itu.

***

            Di pinggir kota, sepasang petani nampak keletihan menarik gerobak mereka yang sarat berisi tumpukan padi dan sebuah cangkul. Di sebuah warung kopi kecil mereka menepikan gerobak mereka, merehatkan sejenak fisik mereka. Hari telah menjelang malam, gerimis turun membasahi tubuh mereka.

            “Maaf pak, boleh menumpang istirahat dan berteduh disini?” tanya petani laki-laki kepada si pemilik warung.

            “Boleh, silahkan” jawab pemilik warung dengan ramah. Petani laki-laki tersebut lalu melepas topi capingnya dan mengajak isterinya  untuk duduk di salah satu bangku kayu.

            “Silahkan diminum. Penghangat badan” tawar si pemilik warung menyodorkan sepoci teh hangat. “Mau kemana?” tanyanya kepada sepasang petani tersebut.

            “Mencari tempat yang pantas untuk petani” jawab si petani laki-laki.

***

TUGU BERAS2_Fotor_Collage

 Kosa kata Ogan :

  1. Pastilah ada orang yang mencuri patung itu
  2. Benar, pasti ada yang telah mencurinya
  3. Siapa orangnya? dia harus bertanggung jawab meletakkan patung itu kembali ketempatnya semula.
  4. Tangkap orangnya.
  5. Tangkap
  6. Bagaimana caranya? tidak ada satupun orang yang melihat siapa pencurinya.
  7. Iya, bagaimana caranya
  8. Siapa orangnya
  9. Iya, siapa orangnya
  10. Tidak mungkin. bagaimana bisa orang gila membantu kita.
  11. Iya, bagaimana mungkin dia bisa membantu kita
  12. Tidak bisa
  13. Patung kedua petani itu, bukan dicuri.
  14. Patung kedua petani itu pergi karena telah diusir
  15. Dasar orang gila, mana ada patung yang bisa pergi sendiri! dasar sinting!
  16. Siapa yang sudah mengusirnya?
  17. Bagaimana kamu bisa mengusirnya wahai si pahit lidah? sementara mereka hanyalah sebuah patung
  18. Mengapa engkau lakukan itu, ksatria?

Dipublikasi di Cerita Pendek, Uncategorized | Tag | Meninggalkan komentar

Food Journey (Palembang-Jogja)

Seminggu kemarin saya mengantarkan keluarga dari Palembang berkunjung ke Jogja. Dari Palembang, saya nyetir mobil sekitar 30 jam menuju Jogja. Perjalanan yang biasa sebenarnya, karena saya sudah melakukannya berkali-kali sebelumnya. Apalagi Jogja adalah rumah sendiri. Sesampainya di Jogja pun, kami nyaris tidak berkunjung kemana-mana, karena niat keluarga Palembang datang ke Jogja memang murni untuk silahturahmi keluarga, bukan untuk jalan-jalan atau wisata. Sehingga 4 hari berada di Jogja pun, sebagian banyak waktu habis untuk mengunjungi keluarga satu persatu.

Tidak banyak jalan-jalan ketempat wisata, tidak membuat perjalanan ke Jogja tidak berkesan. Sepanjang perjalanan menuju Jogja, di Jogja dan dalam perjalanan pulangnya, kakak ipar saya yang merupakan orang padang dan baru sekali ke Jogja, dimanjakan oleh kuliner-kuliner yang nikmat sebagai pengganti wisata lokasi. Dibwah ini adalah beberapa diantara sekian kuliner yang kami hampiri.

  1. Empal Gentong

Baru keluar dari pintu tol Cipali, dalam perjalanan menuju Brebes,  mata kami sudah dirangsang oleh aneka brading tempat yang menyediakan makanan khas Empal Gentong. Posisi matahari yang menunjukan sudah lewat tengah hari membuar rangsangan itu begitu cepat sampai ke perut yang membuat ia semakin keroncongan. Karena tidak tahan akan godaannya, akhirnya mobil saya arahkan menepi pada salah satu kedai makan di pinggir jalan. Semua memesan empal gentong.

Empal-Gentong

Ternyata . Makanan ini mirip dengan gule dan dimasak menggunakan kayu bakar di dalam gentong (periuk tanah liat). Daging yang digunakan biasanya usus, babat dan daging sapi. Selain menggunakan kayu bakar dan gentong, makanan ini disajikan menggunakan kucai dan yang menjadi khas lagi adalah, makanan ini disajikan dengan sambal berupa cabai kering giling Empal gentong ini dapat disajikan dengan nasi atau juga lontong.

Harga seporsi empal gentong ini, rata-rata Rp.18.000, ditambah dengan nasi Rp.5000 dan es teh Rp.3000. Oh ya, kalau sudah memasuki daerah Jawa, jangan tanya kopi yang enak ya di kedai-kedai makan pinggir jalan. Biasanya mereka hanya menggunakan kopi instan biasa. Tetapi, mereka memiliki teh yang luar biasa nikmatnya. Wangi melati, kepekatan dan pahit teh nya sungguh pas.

  1. Getuk Goreng & Mendoan

Selepas melintasi Brebes, kami melintasi hujan yang lebat beberapa saat. Beruntung ketika memasuki daerah Wangon (dekat Cilacap) hujan sudah reda. Semakin dalam memasuki daerah banyumas ini, kami kembali digoda oleh beraneka branding tentang makanan khas setenpat. Getuk Goreng & Mendoan. Cuaca yang dingin sehabis hujan membuat kami tidak tahan untuk mencoba mendoan hangat yang nikmat. Lumayan, untuk cemilan pengusir masuk angin. Sepelas perempatan Buntu, saya lagi lagi menepikan mobil di kedai Gethuk goreng dan Mendoan. Karena cuaca dingin, kami memilih untuk menikmati mendoan hangat tanpa Getuk goreng.

mendoan

Mendoan sendiri berasal dari kata mendo yang berarti setengah matang atau lembek. Mendoan digoreng dengan minyak panas yang banyak dengan cepat sehingga masakan tidak matang benar. Mendoan tempe disajikan dalam keadaan panas disertai dengan cabe rawit atau sambal kecap. Mendoan purwokerto berbeda dengan mendoan dari beberapa kota di wilayah jawa tengah, lebih terasa basah minyaknya. Mendoan khas purwokerto lebih nikmat apabila di sajikan dalam keadaan hangat. Murah saja, untuk sepotong mendoan hangat, kita hanya harus membayar Rp.2000 saja.

  1. Tengkleng

Sebenarnya masih banyak kuliner yang sangat menarik untuk dicoba di sepanjang jalur selatan. Setibanya di kebumen, kami sangat tertarik untuk menukmati bebek goreng khas sana. Tetapi hujan membuat kami malas menepi hingga memaksakan meneruskan perjalanan sampai Jogja dengan kondisi perut yang mulai lapar (lagi).

tengkleng gajah

Memasuki Kota Jogja jam 9 malam. Kami sudah tidak sabar untuk menyantap makan malam di Jogja. Lagi-lagi kakak piar saya tidak ingin makanan biasa yang sudah banyak di Palembang. Dia ingin makanan yang khas, tidak ada yang menydiakan di kota Palenbang.

Akhirnya di sekitar jalan Kaliurang kami menemukan tempat makan yang tidak ada di Palembang. Tengkleng namanya. Kuliner, yang sangat asing terdengar oleh orang sumatera pada umumnya.

Tengkleng adalah masakan sejenis sup dengan bahan utama daging dan tulang kambing. Masakan ini sebenarnya berasal dari Solo. Bentuk fisik dari dari tengkleng hampir mirip dengan gulai kambing , tetapi kuahnya lebih encer. Mirip pindang kalau di Palembang. 2 malam berikutnya, masih di sekitaran Jl. Kaliurang kami menemukan tempat makan Tengkleng dengan porsi Jumbo. Tengkleng Gajah namanya. disini tengkleng disediakan dengan porsi yang sangat berlimpah. Walaupun tulang kambingnya, tetapi dagung yang melekat di tulang sangat lembut dan mudah untuk dipotong dan dimakan. Juga sumsum yang sangay nikmat untuk disedot.

Disini, seporsi tengkleng porsi jumbo itu dibandrol dengan harga sekitar Rp.22.000 dengan nasi gratis yang kita ambil sendiri. benar-benar kuliner yang terjangkau dan nikmat di kota Jogja.

  1. Bakmi Jawa.

Kami menikmati kuliner yang satu ini sepulang dari pantai Parangtritis di hari pertama di Jogja. Ciri khas dari kedai bakmi jawa adalah ayam rebus utuh atau setengah yang digantung-gantung sebagai pemikat pembeli.

Bakmi ini dimasak dengan bumbu khas jawa Kebanyakan bakmi Jawa adalah bakmi rebus, akan tetapi sebenarnya terdapat variasi mi gorengdari bakmi Jawa.

Bakmi-Jawa-Mbah-Mo

Ciri khas dari bakmi jawa adalah dimasak di atas tungku  tanah liat (anglo) dan api arang. Meskipun banyak pembeli yang memesan, juru masak tidak memasak semua pesanan dalam satu wajan besar, melainkan bahan dan bumbu diracik satu per satu. Pesanan dimasak satu porsi demi satu porsi di dalam wajan kecil. Tujuan dimasak satu persatu adalah untuk menjaga citarasa masakakan agar selalu sama. Cara masak seperti ini memunculkan slogan khusus  bakmi jawa “ Berapapun Pelanggannya, Tungkunya tetap satu!”

Dijogja, Bakmi jawa sangat mudah ditemui dimana saja di piggir jalan. Dengan tarif rata-rata Rp. 10.000 – Rp.15.000 ; Selain Bakmi biasanya juga tersedia menu nasi goreng yang tidak kalah enaknya.

  1. Gudheg

gudeg

Ke Jogja tanpa gudheg, seperti masak tanpa garam. Hambar, tidak akan merasakan sensai apa-apa. Siang itu epulang singgah dirumah eyang, kami mampir menyantap gudeg dijalan wates. Tidak perlu panjang lebar menjelaskan makanan khas Jogja berciri sambel krecek, tahu, telur dan nangka muda berwarna cokelat yang dimasak dengan santan dan daun jati ini. Masakan khas Jogja ini sudah tersohor kenikmatannya dan tersedia di seluruh penjuru jogja. Dengan harga yang beragam. Jika kalian ingin makan Gudeg murah, coba makan gudeg di daerah tugu jogja, jalan magelang atau jalan gejayan pada malam hari.

  1. Kupat Tahu.

Makanan yang sejatinya berasal dari daerah magelang ini kami nikmati di hari terakhir kami berada di Jogja. Sebenarnya ini adalah makanan kesukaan mbak saya. untuk itulah dia mengajak mampir untuk makan kupat tahu di daerah dongkelan, persis didepan Jogja PASTY.

kupat tahu

Kupat tahu adalah makanan tradisional Indonesia yang berbahan dasar ketupat, tahu yang telah digoreng, dan juga bumbu kacang. Lontong dapat juga digunakan sebagai pengganti ketupat. Kupat tahu dapat pula ditambah dengan kerupuk dan sambal sebagai penambah selera makan.

  1. Sambel Welut (Belut)

belut sambel ijo

Dalam perjalan pulang, kami menyempatkan untuk menyantap kuliner jogja terakhir di daerah Jalan Wates, dimana didaerah ini yang masih termasuk daerah godean sangat terkenal dengan kuliner sambal belutnya. Malam itu kami menyantap Belut sambel ijo. Yaitu belut yang digoreng garing kemudian ditumis dengan bumbu sambel ijo yang terdiri dari cabe ijo, bawang merah, bawang putih, tomat ijo dll. Menu ini memang patut dicoba oleh orang sumatera karena sangat jarang warung makan yang menyediakan menu ini, selain di darah Padang mungkin yang masih ada walaupun tidak sebanyak di Jogja. Di daerah Godean jogja sendiri, Belut sudah banyak peternakannya, selain dibikin makanan seperti sambel beu, belut-belut ini biasanya juga diolah menjadi keripik, dan sebagaian besar juga di export keluar negeri sebagai bahan baku obat dll.

       8. Sop Janda

Tiba kembali di Pulau Sumatera, perjalanan kuliner kami belum juga berakhir. Sejak merapat di pelabuhan Bakauheuni lewat tengah hari kami belum juga makan. Ketika sampai di Kota Bandar Lampung, terpancing oleh provokasi mbak yang memamerkan foto masakan Sop Janda, kami pun bergegas mencari tempat makan itu dan mencobanya.

Sop janda

Sop Janda sendiri sebenarnya adalah singkatan dari Sop Jawa-Sunda. Makanan ini merupakan sop daging dengan rempah yang berlimpah dan cabe ijo yang berlimpah pula. Sangat direkomendasikan bagi pecinta masakan pedas. Ada 3 level tingkat kepedasan di rumah makan ini. Tidak pedas, Sedang dan Pedas. Saya memesan tingkat kepedasan sedang. Ternyata cabe ijonya sendiri hampir setengah mangkok, karena bukan pecinta masakan pedas, saya menyerah dan tidak mampu menghabiskan kuah sop janda. Tingkat sedang saja, pedasnya minta ampun. Mungkin lebih tepatnya, masakan ini diberi nama sop janda marah-marah. Bikin keringetan, persis kayak habis dimarahin janda. Hahaha

Hmmm.., kenangan yang melekat di ingatan, bisa saja terlupa. Tetapi kenangan yang melekat dilidah, sudah tentu akan mengundang kerinduan tersendiri. Indonesia, adalah Negara yang berlimpah ruah, jangan cuma memanjakan mata untuk berselayang pandang, manjakan juga lidah untuk menambah kerinduan.

***

Dipublikasi di Resep, Uncategorized | Meninggalkan komentar